Mamaaa!

11 04 2016

Katamu aku boleh berangkat, Ma.

Kau bilang, kau cukup bugar dan tak ada yang perlu ku khawatirkan.

Sudah aku berangkat, mengapa kau justru pergi, Ma?

Mengapa tak menungguku pulang, Ma?

Rasanya sakit sekali.

 

Kenapa tinggalkan aku, Ma?

Serindu itukah kau dengan Tuhanmu, Ma?

Tak rindukah kau dengan kami, Ma?

Kenapa pergi, Ma?

 





Hi!

5 10 2012

Ya, blog ini masih ada. Sudah lama memang tidak dikunjungi. Ke mana saja saya?

Gak ke mana-mana. Hanya saja, saya memutuskan untuk membuat blog baru, memisahkan dari yang ini. Sebenarnya itu usaha saya, supaya ingat untuk selalu memisahkan masalah perasaan dengan kenyataan. Berhasil? Nggak terlalu. Hahaha…

Bagaimana hubungan saya dengannya? Belum ada perkembangan dari sisi saya, meski berubah besar dari sisinya. Sejauh yang saya tangkap seperti itu. Dia berubah, tidak sehangat dulu. Kami biasa bercanda dan tertawa, cerita mengenai berbagai hal. Kini, terjadi ketika memang ada topik saja. Tidak ada lagi obrolan penting maupun tidak penting.

Cemburu rasanya saat melihatnya dekat dengan teman-teman lain. Bukan pacar, lho! Hanya teman. Terkadang ini membuat saya merasa jadi sangat posesif. Okelah bila cemburu dengan kekasihnya. Tapi, masa harus cemburu dengan temannya juga?

Mungkin karena… Saya teramat kehilangannya, sebagai seseorang yang saya cintai maupun sebagai sahabat. Melihatnya bersama teman-teman baru membuat saya sedih. Saya dan dia dulu seperti itu. Sekarang tidak lagi.

Sebenarnya bukan sepenuhnya terjadi karena kehendak dia. Kenyataannya, memang saya sendiri yang menjauh. Berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya membuat saya (dan saran semua orang) berpikir menjauh adalah yang terbaik. Saya pun menjauhinya. Dan, memang sedikit berhasil. Saya berhasil melupakannya. Tetapi, kemudian jatuh lagi di satu titik di mana saya menyadari bahwa saya telah kehilangan sahabat yang begitu berarti.

Terlalu rumit ya? Memang. Saking rumitnya, saya pun berhenti menceritakan kepada semua orang tentang perasaan saya terhadapnya. Saya takut mereka marah, karena merasa saya selalu mengeluh tetapi tidak pernah mendengarkan saran mereka. Padahal, demi Tuhan, saya mencoba. Hanya terlalu sulit.

Bagian paling sulit sebenarnya mendefinisikan apa yang saya mau. Iya, saya mau melupakannya. Iya, saya lelah mencintainya. Iya, saya mau berusaha melupakannya. Tapi, tidak, saya belum siap untuk menghilangkannya dari keseharian saya. Belum siap, belum sanggup, dan situasinya belum memungkinkan.

Mungkin saya harus pindah dari kota ini sesegera mungkin, ya. Dengan demikian, siap atau tidak siap, sanggup maupun belum sanggup, saya memang harus terima bila harus menyingkirkannya.

Entahlah…





Gimana akhirnya?

16 07 2011

Lihat postingan sebelumnya, sedikit kaget. Betapa sering saya mengucapkan selamat tinggal dan keinginan untuk melupakan dan meninggalkannya. Bagaimana kenyataannya??

Nol besar!

Tidak akan pernah bisa saya lupakan dan tidak pernah bisa ditinggalkan. Ada daya magnet besar yang membuat saya selalu merindunya. Saya tahu melupakan seseorang perlu pengorbanan, saya juga sudah berulang kali ‘terpaksa’ melupakan kecintaan saya yang sebelumnya. Namun, yang satu ini beda. Sulit sekali.

Di saat saya berhasil melupakannya di saat dia sedang mengacuhkan, tiba-tiba ia mendekat dan kembali selayaknya sosok yang sebelumnya saya kenal. Dan, demi Tuhan, saya rindu sekali dirinya yang dulu!!! Bagaimana saya tidak langsung luluh ketika ia berubah.

Ia idola saya. Ia abang saya. Seseorang yang selalu saya kagumi dan banggakan. Figur kakak lelaki yang selama ini saya cari.

Saya tidak tahu bagaimana cerita akhirnya. Mungkin saya akan selalu menuliskan cerita tentang usaha melupakannya, entah apakah akan pernah berhasil, saya tidak tahu.

Yang saya tahu, saya cinta dia. Selama seperempat abad saya hidup, akhirnya saya bisa merasakan cinta sebenarnya.

Cinta yang ‘genuine’, meski yang ini tampaknya tidak akan dan mustahil pernah berbalas.





I. Love. You.

21 05 2011

Hampir seminggu ini ia mengabaikan saya.

Mengacuhkan, meski saya sudah mencari perhatian.

Sedih.

Yang paling menyakitkan adalah saya merasa kehilangan seorang kakak lelaki. Yang biasa selalu merespon, memberi perhatian, dan menghibur. Namun biarlah, mungkin memang harus begitu agar saya bisa melupakannya.

Saya rindu kamu.

Saya cinta kamu.

Tapi saya tahu, saya tidak akan pernah memilikimu.

Dan mungkin saya harus belajar untuk kehilanganmu.

Sebagai pujaan, maupun sahabat.





move on

11 10 2010

Barusan saya berdoa agar ia mendapat pasangan yang terbaik.

Berat sekali rasanya saat mengucapkannya.

Tapi mungkin memang itu yang harus dilakukan.

Saya pamit ya. Mudah-mudahan bisa bertahan untuk tidak kembali.





rindu

2 10 2010

Saya mulai merasa dia menjauh.
Berubah dan tidak sama seperti dulu.
Sepertinya Tuhan mulai dengar doa saya,
Rasanya rindu luar biasa.
Rindu dirinya yang dulu.
Namun saya bisa apa?
Memang ini jalan terbaik.





menyerah

20 09 2010

Selamat tinggal.

Kali ini,  sesaat saja dalam hidup saya, saya ingin mengucapkan kalimat ini dengan penuh keberanian.

Selamat tinggal.

Penuh harap saya panjatkan agar ini bukanlah sekadar di ucapan saja.

Saya terima akhir ceritanya. Memang tak mungkin denganmu.

Selama tinggal, kecintaan.