menjadi 27 tahun

24 09 2008

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, entah kenapa kali ini saya malas membuat tulisan reflektif khas ulang tahun. Kali ini saya bahkan belum betul-betul memikirkan tentang formulasi birthday wish saya. Tapi, di ulangtahun saya kali ini, di hari ini, saya merasakan sesuatu yang sangat istimewa. Betul, deh!

Bisa jadi karena ini adalah kali pertama saya merayakan ulangtahun tanpa harus melakukan sebuah kegiatan yang berarti, sementara semua teman saya sedang sibuk bekerja. Akhirnya, yo wis, saya di rumah saja. Hanya sempat membuat satu tulisan super singkat, sudah janji soalnya. Selebihnya, saya sudah hampir mengalahkan penjaga warnet, online seharian.

Tapi justru itu nikmat sekali. Bisa jadi juga karena saya belum pernah betul-betul merasakan liburan, secara fisik maupun pikiran. Karena itu begitu saya membebaskan fisik dan pikiran saya dari berbagai hal njlimet di hari ini, rasanya santai sekali.

Saya jadi punya banyak waktu untuk membalas semua email, sms, maupun komen di wall facebook atau friendster. Saya sempatkan juga online YM yang disambut teman-teman dengan chatting ucapan selamat. Belum lagi yang telfon, bila sebelumnya saya sering buru-buru menjawab, kali ini saya ladeni selama apapun mereka suka. Hmm, kebanyakan sih berhenti karena mereka dipanggil oleh bos masing-masing. Hahaha…

Malamnya, saya, kakak, ibu, dan ayah pergi ke Hongkong Cafe. Ritual khas ulangtahun di keluarga kami: makan-makan di luar rumah. Romantisnya, ketika ingin berangkat, saya mendapat hadiah istimewa dari Tuhan berupa hujan yang turun deras. Wah, Beliau tahu saja kalau saya begitu mencintai hujan. Lebih spesial lagi, saya dapat tambahan voucher makan dari Hongkong Cafe. Sedap, mantap.

Pulangnya mampir dulu di Harvest. Beli kue, untuk dipotong besok pagi. Sekalian ambil lilin, biar Jepan bisa ikutan tiup lilin bareng Tetey Dede (aka saya! hehehe…). Sampai di rumah, kamar terasa nyaman, karena tadi pagi tukang AC datang untuk mereparasi. Lebih senang lagi karena dalam minggu ini niatan saya untuk membeli printer baru tampaknya bisa terwujud. Yipppiieeee…

Ya, saya bahagia sekali hari ini. Terlihatnya simpel sekali memang ulangtahun saya. Tidak ada pesta gemerlap, tapi saya merasa sangat nyaman. Sampai-sampai saya melupakan ketakutan saya mengenai angka 27 keramat (Kurt Cobain, Jim Morisson, dan teman-teman meninggal di usia 27 tahun, mind you!). Tapi, ah, hidup mati di tangan Tuhan. Kapan pun itu, saya tidak punya hak sama sekali untuk tawar-menawar. Iya, tidak?

Ah, sekarang saya mau tidur saja. Secara resmi, besok adalah hari pertama saya di usia 27 tahun. Kebetulan, rutinitas saya juga harus kembali esok hari. Saya sih meyakini akan ada sesuatu yang istimewa di tahun ini. Yah, kita lihat saja. Barangkali keistimewaan itu sudah bisa saya rasakan mulai esok hari! Hahaha…

Tuhan Yesus, terima kasih untuk hari ini, ya. Terima kasih untuk satu tahun lagi dalam riwayat hidupku. Terima kasih untuk keluarga yang indah, teman-teman yang begitu perhatian, semua sms, email, comment, chatting, dan berbagai pesan yang disampaikan lewat doa kepadaMu. Hidup aku, Engkau yang kasih, Tuhan. Karena itu aku tahu bahwa Engkau tidak akan memberikan sesuatu yang sia-sia. Pasti ada maknanya. Pasti ada ceritanya. Lindungi aku di hari-hari esok ya, Tuhan. Love you so…





pait!

12 09 2008

Istilah “ketika sebuah pintu tertutup, akan ada pintu yang terbuka” sudah saya dengar sejak lama. Pertama kali diperdengarkan oleh Smita, yang juga mendapat petuah itu dari ayahnya. Saya sih setuju saja, karena dalam beberapa peristiwa, hal itu selalu terjadi. Tapi bagaimana kalau cerita yang terjadi justru kebalikannya, “ketika sebuah pintu terbuka, akan ada pintu yang tertutup”?

Barusan saya merasakannya. 2 hari yang lalu, saya tersenyum luar biasa lebar, karena berhasil mendapat kesempatan kerja. Tidak besar dan tidak terlalu menjanjikan juga, namun setahap lebih baik dari keadaan yang saya alami sekarang ini.

Naasnya, hari ini saya justru menghadiri sebuah pertemuan yang memutuskan bahwa sebuah proyek yang awalnya direncanakan, akan dibatalkan. Well, tidak murni seperti itu sih, tapi tidak akan seperti yang direncanakan di awal. Yang tadinya akan sementara waktu, berubah menjadi LEBIH SEMENTARA lagi. Hehehe..

Jujur saja, ada perasaan yang tidak terlalu nyaman. Bukan karena saya berharap terlalu banyak. In fact, sedari awal saya sudah bersiap diri bila proyek ini tidak akan berjalan seperti yang dikreasikan. Namun seperti muncul ‘yaaah-effect’. Campuran antara kecewa, sedih, tapi lega juga (karena akhirnya dapat kepastian).

Karena itu sekarang gue bertanya, bila gue bisa mantap meyakini petuah satu-pintu-ditutup-pintu-lain-dibuka itu, apakah gue juga setubuh dengan petuah satu-pintu-dibuka-pintu-lain-ditutup?

Permainan kalimat sederhana seperti itu, ternyata bermakna cukup besar. Dalam pemikiran saya, saat petuah pertama (satu pintu ditutup, pintu lain dibuka), tanggung jawab berada di tangan Tuhan. Sebagai tempat berharap, kita begitu meyakini bahwa Beliau pasti akan mengeluarkan kita dari masalah. “Bila sekarang mendapat kesulitan, pasti karena ia sedang mempersiapkan kita untuk hal terbaik,” begitu istilahnya.

Tapi dengan petuah kedua (satu pintu dibuka, pintu lain ditutup), tanggung jawab ada di tangan manusia. Semacam ‘todongan’ untuk membuktikan bahwa kita menerima hidup apa adanya, sepaket antara kegembiraan dan kesedihan. Tingkat ketangguhan kita dituntut, sportivitas dipertanyakan, rasionalitas dipancing. Idealnya, kita harus bisa menerima pintu yang tertutup itu, toh sudah ada pintu yang dibukakan, toh?

Masalahnya, manusia terkadang rakus, ingin semuanya diambil. Masalahnya lagi, manusia sering lupa untuk bersyukur. Padahal tidak bisa mendapatkan sesuatu, toh sebenarnya bukan berarti tidak mendapat apa-apa. Atau tidak bisa mendapat proyek ini, toh saya sebenarnya sudah berhasil mendapat kesempatan kerja yang lain.

Kalau begitu, pertanyaannya sekarang adalah apakah saya sudah mampu mengikhlaskan diri dan bersyukur atas kesempatan kerja yang sebenarnya telah saya pegang di tangan?

Harusnya bisa, tapi detik ini masih sulit. Mudah-mudahan beberapa jam lagi sudah bisa lebih legawa.





jadi sedih

8 09 2008

Di waktu ini, 2 tahun yang lalu, saya duduk dan bercerita mengenai berbagai hal dengan dia. Berkeluh kesah, mengadu, mendengarkan ceritanya, berargumen, berbagi cerita paling rahasia, dan berakhir dengan dada terkejut, karena waktu telah mendekati subuh. Lucunya, terkadang pembicaraan itu berlangsung kembali, setelah dia selesai melakukan ritual dini harinya.

Di waktu ini, 2 tahun yang lalu, waktu jadi tidak terlalu bermakna, energi yang terbuang pun diabaikan. Seperti anak kecil gemuk yang tidak mau rugi, makan sepuas-puasnya, takut sewaktu-waktu makanan itu diambil. Begitu pun dulu. Bercerita dan berargumen sepuas-puasnya, seolah takut kesempatan itu akan hilang.

Postingan ini akan saya beri judul ‘jadi cemas’ bila saja ketakutan itu memang tidak pernah terbukti. Cemas: ketakutan akan sesuatu, yang belum tentu terwujud. Tapi bila saya mengubah judulnya ‘jadi sedih’, itu karena ketakutan itu terwujud.

Dua tahun lalu, di waktu ini, saya tahu malam tidak akan terasa begitu panjang karena ada dia yang menjadi teman berbicara. Tahun ini, di waktu ini, saya membuka ruang percakapan di situs maya dan menemukan diri saya tidak bersama dia yang menemani saya berbicara.

Saatnya menerima kenyataan bahwa dia adalah milik dunia di sekitarnya. Keberadaan saya tidak bersifat absolut baginya dan bukan kesalahan dia bila saya duduk termangu di malam ini, dengan hati sedikit nelangsa, sedikit menangis, dan mulut perlahan menyebut, “yah, peran gue bagi dia memang nggak sepenting dulu lagi”.

Sudah hampir jam 12 malam. Besok saya harus bekerja pagi sekali. Tidak ada gunanya merelakan kantuk seorang diri. Sudah, terima saja. Tidak ada yang abadi. Dia tidak abadi. Kesepian ini juga seharusnya tidak abadi. Berharap saja suatu hari nanti, di waktu yang sama, saya akan bertemu dengan orang lain yang bisa menemani saya bercerita apa saja.

Bukan berarti saya benci padanya. Hanya saja, saya merindunya teramat sangat. Seperti Tom yang merindukan Jerry. Seperti pemain ganda bulu tangkis yang ‘terpaksa’ bermain tunggal. Atau seperti turis yang kehilangan buku Lonely Planet-nya.

Sepi. Ingin seperti dua tahun lalu lagi…





from s, to m

18 08 2008

Maksudnya, from S. Psi, to M.Psi. Yup, ceritanya, saya sudah lulus. Yayyy… Akhirnya perjuangan selama 2 tahun, terbayar sudah. Sekarang bisa disebut psikolog. Bisa dibilang master juga. Hahhaaha… Segitu pentingnya sebuah gelar.

Bicara tentang gelar, beberapa hari ini saya teringat peristiwa 2 tahun lalu, ketika banyak orang mempertanyakan keputusan saya untuk berhenti kerja. Saat itu saya selalu bilang, “i just wanna be a psychologist! that’s it”. Bagi saya, saat itu yang terpenting adalah mendapat sebutan psikolog dan bisa meng-upgrade ilmu yang saya dapat ketika S1 dulu. Bahkan tetap muncul keinginan untuk kembali menjadi jurnalis, meski sudah menjadi psikolog. Idealis lah.

Bagaimana keadaannya setelah saya akhirnya lulus dan mendapat gelar tersebut? Biasa saja! Hahaha… Malah aneh, berasa gelar itu tidak penting sama sekali. Yang pasti saya jadi nggak mau ’segampang’ sebelumnya, dengan hanya mencari gelar. Kenapa? Karena saya mendapatkannya nggak mudah. Banyak sekali energi dan uang telah keluar. Dalam keadaan tertentu, saya juga ingin membantu orang banyak. Tapi, yah, perihal membantu ini memang subyektif sekali. Karena di pekerjaan dulu pun, sebenarnya saya juga membantu orang banyak, kan?!

Setelah periode kelulusan hingga sekarang, ada sejuta umat yang mengajukan pertanyaan semacam, ‘what next?’ dan ‘nggak balik lagi?’. Ada 2 perasaan yang muncul di benak saya ketika kedua pertanyaan ini diajukan.

Bila tanyanya, ‘what next?’

Terkadang saya marah dengan pertanyaan ini. Soalnya, seringkali mereka begitu memaksa dan seolah saya harus bisa menjawab saat itu juga. Seolah saya pingin teriak, “ya oloh, gue tuh baru lolos dari medan pertempuran, lho. Istirahat aja belom, masa’ udah lo tanyain dengan rencana ke depan”. Saya pernah bicara dengan seorang teman, Jane, yang bilang kalau dia serasa dipaksa untuk sudah memikirkan rencana ke depan dan bila ternyata belum kepikiran, seolah hal itu adalah kesalahan besar. Itu menyebalkan, lho!

Nah, bila tanyanya, ‘gak balik lagi?’

Pertanyaan ini yang sempat bikin gue kalang kabut. Kenapa begitu? Karena pertanyaan itu pula yang gue ajukan ke diri gue sendiri. Kalimat ‘gak balik lagi’ ini sendiri bisa bersifat luas. Antara balik lagi ke majalah lama saya itu atau balik lagi ke dunia jurnalistik secara umum. Apalagi saya sudah mendapat beberapa tawaran untuk kembali ke bidang itu. Sangat saya syukuri, tentu saja. Tapi bikin saya khawatir setengah mati. Takut salah ambil keputusan.

Tapi akhirnya saya berpikir bahwa hidup memang harus selalu begitu, selalu ada option yang harus dipilih dan diputuskan. Saya bukan lagi anak kecil yang hidupnya terpola dengan pasti. Jam segini harus bangun, lalu makan siang, lalu bobo siang, lalu mandi, lalu bermain, lalu tidur. Atau anak baru gede, yang ketika lulus SD akan melanjutkan SMP, lalu diterukan ke SMA, dan meningkat ke kuliah.

Di saat seperti ini, saya harus bisa menentukan sendiri, tanpa intervensi siapa pun, mengenai apa yang ingin saya lakukan. Dan di saat itulah akhirnya saya mengambil keputusan untuk kembali dari awal, menjadi rookie di bidang yang ‘baru’ buat saya. Bila sebelumnya, di dunia jurnalistik, saya sudah ajeg dan tahu celah yang harus disambangi agar bisa berhasil, kali ini saya harus mulai dari titik nol dan belajar berbagai hal yang memungkinkan saya untuk survive di bidang ini.

Senangnya, saya tahu saya tidak sendiri. Selain ada teman-teman dan keluarga yang mendukung, Tuhan saya di atas sana juga tampak selalu menyertai saya. Dia berikan saya begitu banyak peluang dan kesempatan untuk belajar. Dia tanamkan pemahaman pada saya mengenai arti penting sebuah pengalaman. Bahwa ilmu yang saya dapat lebih penting daripada materi yang berhasil saya raih. Uniknya, Beliau juga tidak membiarkan saya begitu saja. Sebagai penyokong materi tersebut, ia berikan saya kesempatan di bidang tulis-menulis. Intinya, saya tidak kekurangan.

Memang, di saat seperti ini, saya sering kangen dengan dunia jurnalistik seperti dulu. Terkadang ada hal-hal ‘kecil’ yang membawa memori saya ke masa-masa dulu. Seperti melihat foto, tulisan, atau cerita teman-teman yang masih memilih karir di bidang itu. Tidak hanya di bidang tulis-menulis, namun juga di dunia event organizing. Bagi mereka yang pernah bekerja di perusahaan saya terdahulu, pastilah akan belajar juga mengenai dunia panggung. Apalagi saat itu saya juga aktif di paduan suara yang sering juga manggung-manggung. Jadi saya sudah terbiasa sekali dengan kepanitiaan sebuah event.

Contohnya kemarin, saya mendapat kesempatan untuk ‘bernostalgia’ dengan showbiz seperti itu. Sayang, saya ketiban sial, dapat acara yang dikomandoi oleh EO aneh. Masalah utamanya sebenarnya klasik, yaitu adanya orang-orang yang merasa harus mengerjakan semua tugasnya sendiri.

Hmm, mengingat semua kenangan itu, terkadang ada rasa kangen yang aneh, yang bikin saya ingin ‘mencicipi’ kenangan itu lebih banyak lagi. Seperti seorang mantan perokok yang sedang mencium wangi bau rokok favoritnya. Atau seolah saya sedang jalan-jalan di sebuah toko penjual barang-barang bekas dan ketika melihat sebuah benda lama, saya berhenti sejenak untuk mengingat kejadian yang terasosiasi dengan benda tersebut.

Haaah… How time flew, ya. Dulu postingan saya selalu berisi mengenai kebingungan saat memutuskan untuk berhenti kerja, lalu dilanjutkan dengan postingan tentang kerinduan dan kesulitan beradaptasi dengan fase belajar. Kemudian, saya mulai sering posting mengenai metamorfosa zona nyaman saya yang baru dengan teman-teman kuliah, dan sekarang kembali beralih ke postingan mengenai peralihan ke fase berikutnya paska kelulusan.

Ah, jika ada waktu berlebih, saya juga pingin cerita panjang mengenai life value, sebuah term yang baru saja saya mengerti. Tapi sayang, sekarang saya mau bekerja dulu. Ada kerjaan yang sudah menanti dan harus diselesaikan minggu ini juga. Jadi pamit dulu, nanti kita ngobrol lagi, ya!

Omong-omong, sejak yudisium, saya belum libur 1 hari pun, lho! Gila!!





mimpi baru, tujuan baru

22 07 2008

Saya manusia yang selalu dipenuhi mimpi. Sampai kapanpun, saya tidak akan menanggalkan kebiasaan bermimpi ini, karena ketika bermimpi itulah saya jadi tahu tujuan saya berada di dunia ini.

Dulu, saya selalu bermimpi menjadi penulis. Ternyata terwujud. Ketika menjadi penulis, saya bermimpi menjadi psikolog. Ternyata terwujud. Saya juga pernah bermimpi berada di panggung musikal. Ternyata pun terwujud. Yang paling anyar, dulu saya bermimpi bisa pergi ke daerah2 sebagai tenaga sosial. Akhirnya akan terwujud juga. Tuhan memang baik sekali sama saya, karena itu saya yakin Tuhan ingin saya terus bermimpi, agar saya tahu kenapa Dia menyiptakan saya ke dunia ini.

Barusan ini, tidak ada 1 jam, saya bertemu teman saya, Irena. Sedari awal saya kenal dia, saya sudah tahu bahwa dia akan jadi penulis cerita anak2 yang berhasil. Hanya tinggal beberapa langkah saja sepertinya, sampai novel chicklit pertamanya terbit. Pun begitu, dia masih mencari ilustrator murah yang mau membantunya membuat ilustrasi buku dongeng anak2.

Saya pun jadi tertarik. Sejak dulu SAMPAI SEKARANG, saya selalu membaca berbagai komik dan cerita anak2. Tapi kok belum pernah membuat cerita anak2 versi saya sendiri. Saya selalu menghindari ranah ‘membuat cerita’, karena merasa tidak mampu. Suruh saya menganalisa dan bercerita mengenai sebuah topik ‘real’, maka saya akan semangat. Namun bila membuat karangan fiksi? Saya kesulitan.

Lucu jadinya. Padahal dulu saya selalu mendapat nilai tertinggi di pelajaran mengarang bebas, tapi kok sekarang jadi buntu. Karena itu saya merasa harus membangkitkan kembali kebiasaan itu. Kemungkinan karangannya jadi jelek, tentu ada. Tapi, hey, selalu ada yang pertama untuk setiap kesempatan, bukan?!

Jadi itulah mimpi baru saya sekarang. Entah kapan bisa terwujud, namun saya akan terus berjuang untuk mendapatkannya. Kalaupun tidak dapat, paling tidak saya sudah berusaha. Sekilas info saja, konon nenek saya, ibunya ayah, adalah mantan penulis cerita di masa penjajahan Belanda. Karangannya ditulis dengan bahasa Belanda. Wohooo.. So, it runs in my blood. Karena itu, mels, harusnya sih bisa. Yang dibutuhkan di sini hanyalah: kemauan untuk mencoba.

Mudah-mudahan terkabul.

Iren, terimakasih sudah menginspirasi, yes.





belajar memaafkan

10 07 2008

Postingan ini saya ambil dari multiply saya. Awalnya ingin ditaruh di sini, namun karena saya butuh beberapa masukan, jadi saya memutuskan memasukkannya di multiply saja, karena sifat blog itu lebih aktif.

Part 1

Gue punya musuh besar, dalam arti sebenarnya. Bukan, ini bukan karena masalah percintaan, tapi tentang persaingan. Ohohoho… Berat ya, jeung.

Perseteruannya sendiri sudah berlangsung lama. Dalam versi gue, dia yang salah. Dalam versi dia? Kurang jelas juga apakah dia merasakan adanya perseteruan atau nggak. Ha! Dampak dari perseteruan itu berjalan lama sekali, dengan kadar kebencian yang semakin kumulatif. Awalnya sedih, terus kesel, terus marah, dan akhirnya benci. Benci, bentuk agresivitas yang menurut gue paling parah dan sadis.

Membenci seseorang sebenernya bukan urusan yang mudah. Menurut gue, kecuali kita memang penjahat atau psikopat, akan sulit sekali menyimpan kebencian yang bertahun-tahun. Capek. Seolah orang ini tidak memiliki nilai positif sama sekali, karena gue memandang orang ini dengan sudut pandang yang selalu negatif. Itu lama-lama nyebelin, lho!

Gue selalu tahu bahwa gue harus coba memaafkan dia, tapi itu sulit sekali. Ketika lo pernah disakitin seseorang dengan teramat sangat, kata ‘memaafkan’ adalah yang paling sulit disebut. Hingga suatu kali, actually baru beberapa minggu kemarin, gue mendapatkan semacam insight yang tanpa tedeng aling-aling (hehe), yang sepertinya terpengaruh dari cerita teman-teman gue mengenai buku-buku seperti Quantum Ikhlas atau The Secret.

Tiba-tiba saja gue berpikir gini, kalau cinta datang karena terbiasa, maka benci pun juga datang karena terbiasa. Iya nggak? Maka gue pun berpikir, kebencian gue sama orang ini terjadi karena gue selalu berusaha untuk membenci dia. Tanpa disadari gue melakukan semacam selective attention dengan hanya melihat hal-hal negatif di diri dia, dan mengabaikan hal-hal positif. Setiap hari gue selalu bilang, “tai ya ni orang”, “dasar orang gak berperasaan”, “nah, kan, dia emang sebenernya omong doang”. Dan segala kalimat negatif ini diafirmasikan berulang kali ke otak gue, sehingga muncul sebuah stigma yang negatif mengenai sang musuh ini.

Okeh, kalau gitu sekarang jadi clear apa yang menyebabkan gue benci banget sama dia: karena gue membiasakan diri untuk membenci dia dengan cara memikirkan hal-hal negatif tentang dia. Pertanyaan berikutnya adalah (cara gue ngomong mulai kayak bokap gue, hehehe…), bagaimana cara menghilangkan stigma itu?

Cukup lama berpikir, menimbang-nimbang semua teori yang gue dapat selama belajar psikologi, akhirnya gue justru kembali ke kerangka berpikir di atas, kalau selama ini gue jadi benci karena terbiasa, maka gue juga bisa membiasakan diri untuk mengasihi dia. Pemikiran yang sederhana, bukan?

Untuk mewujudkannya, gue memulai dengan mendoakan dia setiap malam. Well, sebenernya mau menghubungi dia langsung supaya bisa kembali menjalin tali silaturohim, tapi masih belum rela. Hahaha… Sejauh ini gue memilih topik doa yang ’standar’ dulu. Cuman bilang, “Tuhan, berkati dia”. Mengingat dia sedang kuliah di luar negeri, gue juga mendoakan supaya kuliahnya lancar.

Menurut gue, ini lebih realistis ketimbang berdoa, “Tuhan, ajarkan gue memaafkan dia”, karena terbukti cara ini selalu gagal. Jadi gue berpikir bahwa lebih baik gue terbiasa dulu saja mendoakan dia. Urusan gue memaafkan atau nggak, itu belakangan (karena itu adalah tujuan akhir). Tujuan yang penting saat ini adalah membiasakan diri mengucapkan sesuatu yang positif mengenai dia.

Langkah ini memang belum rutin gue lakukan. Baru sekitar 1 minggu saja, dengan intensitas yang bolong2 (kalau lagi inget aja). Hehe. Tapi ternyata berasa lho kalau sikap gue ke dia mulai positif. Bener! Dan sepertinya Tuhan pun menyetujui keputusan gue itu, karena belakangan ini terjadi beberapa hal aneh yang semuanya berhubungan orang ini. When God winks, kalau katanya Smita.

Dan gue menghargai tekad gue ini. Tentu gue belum betul-betul berhasil memaafkan dia, tapi gue akan terus mencobanya. Ini adalah mata kuliah terbaru gue dan gue ingin lulus dengan nilai memuaskan.

Karena semua orang pernah bikin salah, dan semua orang layak mendapat kesempatan kedua.

Tuhan, berkati dia hari ini ya. Semoga sekolahnya lancar, karirnya lancar, kehidupannya lancar. Amin.

Part 2

Ini kelanjutan dari postingan gue beberapa waktu lalu. Mengenai pelajaran untuk memaafkan seseorang yang gue benci. Ceritanya, kemarin gue diuji oleh Semesta. Bukan sekadar ujian biasa, tapi disuruh PKL alias praktek kerja lapangan. Kalau pakai bahasa terapi, mungkin kemarin gue diberikan flooding. Hahaha…

Saat itu semua terlihat biasa saja, gue lagi berbincang-bincang dengan mereka yang tersayang, hingga terdengar suara bariton dari luar kamar. Familiar nih suaranya, pikir gue. Dan begitu suara itu makin mendekat, jengjengjengjeeeeng, ternyata orang yang gue benci, yang ada di postingan gue waktu itu, sudah ada di depan mata gue.

Dia ternyata sudah pulang dari luar negeri. Spesial datang untuk beramah tamah. Gue salami dia, cipikacipiki. Biar nggak canggung, basi-basi dikit, mengomentari penampilannya yang jerawatan. Dia bilang, itu karena stres menjelang final exam. Gue pun tertawa dan dia balik bertanya mengenai kuliah gue.

Di benak gue, muncul pikiran untuk kembali bersikap sinis bin dingin terhadapnya. Namun gue mengingat semua doa yang selama ini sudah gue panjatkan untuknya. Teringat juga tekad gue untuk memaafkan orang ini. Secara sadar, akhirnya muncul sebuah pikiran untuk meladeni pembicaraannya dan membuka diri.

Hasilnya? Luar biasa! Gue baru menyadari kalau dia sekarang adalah orang yang sangat dewasa. Pemikirannya agak sejalan dengan gue. Sangat open-minded dan terdengar seperti tipe orang yang bisa bikin gue nyaman saat berbicara dengannya. Dia juga nggak se-kaku sebelumnya. Dia tampaknya mulai menghargai gue dan mau mendengarkan saat giliran lawan bicara bersuara.

Saking amaze-nya dengan perasaan gue saat itu, gue seolah memaksimalkan fungsi kelima indera gue untuk mengenal sosok ini. Mata gue nggak berhenti memandanginya saat bicara, telinga gue berusaha mendengar setiap pemikirannya, mulut gue bertanya dan menjawab dengan penuh ketenangan, hidung gue mencoba menyium aromanya (well, khas cowok, bau keringet. Hahaha…), dan kulit gue mencoba merasakan kehangatan suasana di ruangan itu.

Gue baru sadar kalau profil terakhir di mindset gue mengenai orang ini, yang betul-betul real (tanpa bias), adalah yang gue input bertahun-tahun lalu. Ketika perseteruan muncul, gue ternyata nggak pernah meng-update profil tersebut lagi. Kalaupun gue update, selalu berupa keterangan negatif.

Sekarang gue seolah memiliki pemahaman baru mengenai orang ini. Well, bukan berarti gue telah melupakan semua pengalaman traumatik di masa lalu, sih. Bahwa dia bersalah, ya! Gue tetap meyakini itu. Tapi bahwa dia adalah orang yang sama dengan yang menyakiti gue saat itu? Sepertinya nggak. Tampaknya dia sudah berubah, sudah lebih matang.

Dan kalau dia saja berubah, kenapa gue harus malas berubah? Kalau dia sudah mau menghargai gue, kenapa gue nggak mau memaafkan dia? Pelajaran ini yang gue tangkap dari semua kejadian ini. Ternyata Tuhan nggak cuma ingin mengajarkan gue agar menjadi seseorang yang kuat dan tahan banting (sebagaimana yang gue simpulkan ketika masalah itu muncul), tapi dia juga ingin mengajarkan gue mengenai satu hal, yang setau gue menjadi spesialisasi Beliau: memaafkan!

Dan untuk kamu, sepupu, mulai sekarang kita berteman, ya!

Kemarin saya bertemu seorang teman dan menceritakan tentang kisah ini. Saya lalu bilang, kalau tahun ini adalah tahun yang sangat berarti, terutama karena saya telah berdamai dengan musuh besar saya. And it feels so right!

Seolah Tuhan selama ini telah menunggu-nunggu saatnya saya memaafkan dia. Karena itu begitu akhirnya saya mau memaafkan, saya bertemu dengan banyak hal yang berdekatan dengan sosok ini. Hal-hal positif, tentunya.

Dan ketika semua itu terjadi, saya cuma bilang seperti ini sama Tuhan saya: “Maaf Tuhan, Engkau harus menunggu selama ini. Lama berat, ya? Hehehe… Maaf Tuhan, emang rada lemot, jadi nyadarnya baru sekarang. Terima kasih ya, Tuhan”.

Hehehe…





curhat colongan

30 06 2008

aku telah kehilangan manis itu sejak para semut baru masuk ke dalam ruang.

sejak itu, aku berusaha mempersiapkan diri untuk yang terburuk.

namun ketika manis itu hanya sejarah, ternyata aku tetap belum rela.

tanya kenapa?





krisis percaya diri

10 06 2008

Saya tahu, kalau saat ini Tuhan menampilkan wajahnya di depan saya, pasti Dia bakal jutek banget. Marah, karena saya seperti gak punya sikap.

Kenapa? Karena kalau kemarin-kemarin saya mewek abis karena bingung mau melakukan apa setelah tahap ini selesai, eh begitu hari ini Dia beri tahu apa yang harus saya lakukan, justru saya jiper setengah mati.

Menyambung bahasan sebelumnya, jadi saya ditawari sebuah tiket ke New York. Sangat menyenangkan bukan? Ini betul-betul mimpi yang terwujud. Nah, masalahnya adalah saya ditawari untuk tinggal di Manhattan! Super keren bukan? Memang! Jadi di mana letak masalahnya?

Masalahnya adalah… saya merasa tidak pantas untuk tinggal di Manhattan. TInggi sekali, saya takut tidak sanggup. Apalagi selama tinggal di Manhattan itu, saya akan diliput oleh sebuah stasiun tivi (ibaratnya begitu lah). Dengan kata lain, selain saya harus menjalani sesuatu yang lebih ‘tinggi’ dari harapan saya, saya juga dituntut untuk melakukan sesuatu itu dengan sebaik-baiknya, karena diperhatikan.

Saya stres sekali. Khawatir. Takut gak sanggup. Merasa gak percaya diri.

Hah, saya yakin kalau Tuhan pasti kesal sekali sama saya. Maunya apa sih ini anak? Mungkin begitu yang dia bilang.

Maaf Tuhan akuuuu, tapi aku beneran takuuuuuttt…. Takut memalukan, takut menyakiti orang lain, takut mengecewakan.

Tapi kalau memang Kau mau aku melakukan hal ini, tolong sertai aku, Tuhan Yesus. Jangan biarkan aku sendiri. Temenin aku, berikan kepercayaan diri yang mantap.

Karena cuma Engkau tempatku berharap, Bapaku…

Percaya diri, mels. Percaya diri. Di dunia ini gak ada yang gak mungkin!





seberapa yakin?

8 06 2008

Bagaimana caranya yakin akan suatu keputusan?

Saat ini saya sedang dilematis, terjebak pada 2 pilihan. Menyebalkan, karena masalah ini seharusnya tidak usah saya pikirkan saat ini, tapi sayangnya begitu mengganggu pikiran saya. Saya sudah mengambil keputusan, sih. Namun keputusan tersebut belum dideklarasikan. Alasannya? Saya belum yakin dengan keputusan tersebut.

Masalahnya dianalogikan seperti ini. Di depan saya tersedia sebuah tiket travelling ke Bandung. Dari dulu saya selalu suka Bandung. Karenanya saya tahu pasti saat-saat saya berada di Bandung tersebut akan menyenangkan. Akan ada keuntungan yang saya dapat ketika saya memutuskan mengambil tiket ke Bandung tersebut.

Namun, di lain hal saya juga sedang berharap mendapatkan tiket ke New York, kota impian saya. Belum tahu pasti apakah saya akan mendapatkan tiket tersebut, namun saya sudah pernah kenalan dengan seseorang yang bisa jadi akan menawarkan saya ke sana. Jadi modalnya sudah ada, namun belum pasti terjadi dan belum ada tiket nyata di depan saya.

Masalahnya, jika saya mengambil tiket ke Bandung sekarang, maka saya tidak akan punya waktu yang cukup untuk melobi kenalan yang bisa membawa saya ke mimpi New York itu. Sementara bila saya memutuskan untuk menolak tiket ke Bandung tersebut, saya khawatir sedang berada dalam dunia khayal dan melewatkan satu kesempatan besar. Meski jaraknya hanya di Bandung, namun tidak setiap hari saya mendapatkan sponsor untuk bebas berfoya-foya seperti itu. Bisa jadi, hanya kali ini saja saya ditawarkan kesempatan itu.

Pemikiran terlalu rumit seperti ini yang mengganggu saya. Apalagi saya juga tidak mau membuat si pemberi tiket menuju Bandung itu kecewa. Namun saya juga tidak mau membuat diri saya menyesal luar biasa, karena tidak mengusahakan agar mimpi besar saya terwujud.

Saya bingung sekali. Terlalu cemas, padahal saya sangat sadar bahwa kecemasan itu bisa membunuh saya perlahan-lahan.

Sejauh ini, saya memutuskan untuk mengusahakan mimpi New York menjadi nyata. Namun entah kenapa, saya tidak yakin betul. Seperti takut membuat kesalahan.

Tuhan aku, untuk kesekian kalinya. bantu aku untuk bertahan pada keputusanku . Beri tahu kalau aku salah mengambil langkah.

Amin.





tidak murni teman

8 06 2008

Saya adalah penggemar tulisan reflektif. Kenapa? Karena membaca tulisan reflektif berarti belajar mengenai hidup, berdasarkan pengalaman orang lain. Sifatnya tidak menggurui, seperti buku-buku self-help management yang banyak digemari orang. Saya tidak suka itu, karena terlalu menggunakan teknik ‘how-to‘ terhadap masalah hidup, yang sifatnya kompleks.

Dengan belajar dari pengalaman orang lain, kita bebas mengambil sari apa yang ingin kita refleksikan ke diri sendiri, dengan pengalaman kita sendiri. Setuju dengan konklusi si pembuat tulisan, silahkan terapkan. Namun bila berbeda sudut pandang, ya sudah, tetap dengan pendirian sendiri.

Ada beberapa penulis reflektif yang saya suka. Di blog, banyak sekali. Beberapa di antara mereka saya masukkan ke daftar KEPUSTAKAAN di samping halaman ini. Kalau yang terkenal dan bisa dilihat tulisannya di media, untuk wilayah Indonesia, sejauh ini ada 4. Pertama, Indra Herlambang di Free!. Kedua, Sarah Sechan waktu dia jadi wapemred Cosmogirl!. Ketiga, Meutia Kasim di MTV Trax jaman dulu. Keempat, yang masih bisa dinikmati hingga sekarang, Samuel Mulia di kolom Parodi koran KOMPAS.

Yang terakhir ini saya sukai karena tulisannya sangat jujur dan apa adanya. Sempat saya baca profil beliau di sebuah free magazine. Terlihat bahwa pengalaman hidupnya memang sangat banyak. Asam garam sudah dibabat, istilahnya. Tak heran, orang-orang seperti ini terkadang memang bisa mengetahui banyak hal mengenai kehidupan, sampai mungkin bisa menjadi pendamping Papalia, Olds, dan Feldman dalam membuat buku “Human Development” versi reflektif. Hahaha…

Minggu ini, beliau berbicara mengenai Teman Palsu. Inspirasinya dari YSL yang meninggal dunia Kamis lalu. Intisarinya mengenai orang-orang yang mengaku sebagai teman, namun hanya pada kondisi tertentu saja. Kondisi di mana kita bisa bersenang-senang. Ketika tiba waktunya kita di bawah, teman-teman jenis ini menghilang. Social climber? Hmm, agak mirip.

Membaca keseluruhan artikel, saya ikut bertanya-tanya, apakah saya adalah teman palsu bagi teman-teman saya lainnya. Setelah berpikir sebentar, namun cukup lama (apa sih???), dengan lega hati saya mengatakan, “Gak dong, gue temen asli banget. Siap sedia dalam setiap kondisi”. Tapi kemudian kata hati saya bilang begini, “Oh gitu. Lalu kenapa dong kalau dengan si itu kamu begini?”. Damn, kata hati saya ini terkadang memang kelewatan, gak bisa lihat orang lega sedikit.

Akhirnya saya menutup sesi kontemplasi dengan perasaan sedikit ‘kecut’. Mengalah, mengatakan bahwa saya teman yang asli pada cukup banyak orang, namun pada beberapa orang, saya justru menjadi teman palsu. Padahal rasa-rasanya beberapa orang tersebut berusaha menjadi teman yang asli bagi saya.

Huh, jadi sedih campur merasa bersalah. Lebih menohok lagi ketika diakhir artikel, Samuel Mulia menulis begini, “Teman palsu seperti saya maunya cuma senang-senang. Saya tak pernah berpikir-mungkin tepatnya tak peduli-kepalsuan saya sebagai teman bisa mengantar orang kehabisan napas, meredup, dan kemudian padam“.

Ouch, you got a point there, Mr. Samuel. Yah, terkadang kita hanya berpikir dari sudut pandang kita sendiri. Siapa coba yang pengen berteman dengan teman palsu? Saya gak mau! Tapi tanpa disadari, saya juga berperan sebagai teman palsu bagi orang lain. Saya melakukan sesuatu yang tidak dimaui oleh teman saya itu. Menyedihkan, isn’t it?!

Untung saya diingatkan. Paling tidak saat ini saya memiliki proyek baru yang ingin diwujudkan: menjadi teman asli bagi siapa saja. Hey, tidak ada salahnya mencoba!