Sejak minggu lalu, pikiran saya dirisaukan oleh sebuah keputusan besar yang harus saya buat. Saya katakan keputusan besar, karena apapun yang akan ke luar dari mulut saya, akan berpengaruh besar terhadap perjalanan hidup seseorang. Tentu saya terbeban, tentu sulit sekali!
Masalahnya tidak akan membuat saya pusing tujuh keliling bila keputusan yang harus diambil merupakan sesuatu yang sifatnya menyenangkan. Sebaliknya, karena keputusannya kemungkinan besar menyedihkan, bahkan mungkin menyakitkan, sehingga saya tidak berhenti memikirkannya. Terkadang sampai menangis saking tidak kuasanya.
Namun, pada akhirnya saya mencoba untuk menggunakan seluruh akal sehat dan kemampuan berempati yang saya miliki. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak terjebak dalam tekanan simpati, yang akan membuat saya mengambil keputusan hanya berdasarkan rasa kasihan. Pada akhirnya, rapat besar akal sehat, hati, dan empati memutuskan bahwa saya harus mengambil keputusan terpahit. Keputusan yang sebenarnya sangat saya hindari dan tidak ingin sentuh sama sekali.
Berulang kali saya mencoba menangguhkan keputusan tersebut, tawar-menawar dengan diri sendiri agar membatalkan keputusan tersebut. Namun keputusan ternyata sudah begitu bulat, sehingga apapun usaha saya untuk bernegosiasi dengan diri sendiri menjadi sia-sia.
Akhirnya saya pun harus menyampaikan hal tersebut kepada mereka yang bersangkutan. Bukan saya eksekutornya, tetapi saya hadir mendampingi. Hmm, mungkin tidak tepat bila disebut mendampingi, karena pada saat itu saya hanya bisa terdiam. Seribu bahasa, seribu kata. Selain karena hal tersebut di luar wewenang saya, tapi saya juga yakin bila saya berusaha mengucap satu kalimat pun, pasti segera terhenti oleh tangisan.
Situasi saat itu masih terekam jelas di benak saya. Saat sang pelindung marah besar, maupun ketika sang pangeran remaja menatap saya seolah mengatakan, “Tolong saya”. Mirisnya, saya hanya bisa terdiam, meski di hati hancur sekali. Sakit banget! Seolah saya menjadi algojo penjagal yang tidak peduli dengan perasaan orang lain. Padahal tidak begitu! Saya begitu rapuh saat itu, hingga sulit berpikir dan merasa. Betul-betul hambar.
Berhari-hari saya mencoba berdamai dengan perasaan hancur ini, sambil sibuk berkontemplasi dengan diri sendiri. Hingga pada suatu hari saya terpikir untuk mencari analogi yang tepat dengan perasaan yang saya alami saat ini. Secara tiba-tiba, teringat saat di mana saya sering marah dan berteriak kepada Tuhan, terutama saat berada di saat-saat terjatuh dalam hidup saya. “Why God?!”, “Nggak adil!”, “Why do You hate me that bad?!”, dan lain sebagainya.
Mengingat semua pertanyaan yang tidak pernah terjawab itu, saya jadi membayangkan posisi saya saat ini. Bisa jadi, para pihak yang bersangkutan sedang bertanya hal serupa kepada saya. Tatapan nanar sang pangeran remaja mungkin ingin menanyakan, “Why didn’t you help me, Mels? Why do you give up on me?”.
Inilah yang kemudian secara mengejutkan menyadarkan saya mengenai proses apa yang sedang terjadi ketika Tuhan saya memberikan cobaan berat kepada saya. Mengenai konsep bahwa “ia memberi cobaan agar kita menjadi lebih kuat dan tegar”, itu saya pahami sejak lama. Namun bahwa “ia pun merasa berat dan mungkin juga tersiksa melihat saya menderita”, itu baru saya rasakan. Ketika saya menangis, ketika saya terluka dengan peluh bercucuran, bisa jadi saat itu Tuhan saya sedang merasa sakit yang luar biasa, sama seperti ketika hati saya hancur melihat reaksi sang pangeran remaja.
Sama seperti Tuhan saya yang terus bertahan untuk menahan sakit yang dirasakannya saat melihat saya menderita, saya pun mungkin diminta untuk mampu berdiri tangguh, meskipun rasa saya tercabik-cabik setiap kali mengingat kejadian tersebut.
Karena terkadang yang terbaik, justru yang paling sulit untuk dilakukan. Biarlah terjadi, apa yang memang diciptakan untuk terjadi.
And you! I wish i shouldn’t have to make that decision. But, deeply sorry, i have to do that. I know you’ll be happy after this. You’ll be allright!




kata mereka