Seorang mantan bos saya pernah memberi pesan yang selalu saya ingat hingga sekarang, “Ketika lo bertemu dengan orang lain, mels, entah dia responden, narasumber, klien, sesama penumpang bus, ibu kantin, cowok kece di kantor sebelah, remaja abege yang ingin kenalan, atau siapa pun itu, jangan lupa untuk memberi tahu siapa diri lo dan identitas apa yang menyertai lo. Kenapa? Karena di detik lo membeberkan semua identitas itu, di detik yang sama lo sedang mengatakan pada diri lo sendiri bahwa lo mencintai seorang mels, apa adanya”.
Sejak saat itu saya mulai mengerti mengapa beberapa orang sangat senang menyebutkan identitas organisasi tempatnya bernaung atau perusahaan tempatnya bekerja. Bahkan beberapa remaja sudah dikenai embel-embel nama sekolah di belakang nama panggilannya. Ah, belum lagi mereka yang jeblosan ajang pemilihan idola bernyanyi di televisi, hampir semuanya menyertakan singkatan nama acara yang mereka ikuti itu. Dalam sisi tertentu, identitas itu mengganggu saya, terutama ketika embel-embel yang menyertai namanya merupakan sebuah gelar. Penting, ya? “Penting, kalau itu memang harus disertakan dalam koridor tanggung jawab profesi,” sambar seorang dosen saya.
Di kolom ini, saya tidak akan membeberkan semua identitas saya tadi. Buat apa? Toh, Anda juga tidak akan mengenal saya secara seutuhnya. Pun begitu, tidak ada salahnya mengikuti pesan mantan bos saya tadi, meski hanya sepintas lalu.
Saya mulai dari mana? Hmm, mari mulai dari ketika kehidupan saya dimulai. Maksud saya, betul-betul dimulai! Ketika saya mulai mengenal masalah. Masalah besar yang harus saya hadapi sendiri. Saat saya tidak bisa lagi selalu mengandalkan teman-teman saya. Ketika saya menyadari bahwa masalah tidak bisa hilang hanya dengan tertawa dan candaan konyol.
Dengan begitu, maka saya akan memulainya dari masa kuliah strata satu. Saya adalah anak Psikologi, sebuah disiplin ilmu yang seringkali disalahartikan oleh banyak orang sebagai ilmu ‘ngebaca orang’. Alhasil saya jadi sering diminta orang lain untuk membaca kepribadian mereka. Saya sih tertawa saja, sambil bercuap asal-asalan. Tidak tahu mereka, kalau hampir semua cuap-cuap itu merupakan refleksi diri saya. Hahaha…
Setelah lulus, selayaknya lulusan psikologi lain, saya bekerja sebagai freelancer di beberapa lembaga rekrutmen. Istilah bekennya adalah mengasong. Kalau dijadikan kata kerja, menjadi asonger. Hahaha… Sekitar enam bulan saya menjalani profesi tersebut, hingga sampailah saya pada sebuah profesi yang saya impikan: penulis di majalah remaja.
Wait, saya melupakan satu fase, yaitu saat saya bekerja sebagai reporter di sebuah majalah… ehm, mengutip istilah teman saya, Si Dapitz, itu adalah majalah jadi-jadian. Bwahahaha… Bagaimana tidak? Majalah yang mengaku sebagai free magazine ini hanya bertahan sampai edisi pertama. Selanjutnya? Jangan tanya, upah karyawannya saja belum dibayar hingga sekarang.
Kembali lagi ke cerita tentang penulis di majalah remaja. Saat itu saya berhasil bekerja dengan jabatan Redaktur di sebuah majalah yang memiliki slogan ‘Top di Antara yang Pop’. Ah, kalau Anda pernah jadi remaja di Indonesia, pasti Anda tahu majalah apa yang dimaksud. Di tempat inilah saya belajar sangat banyak. Maklum, sebagai anak psikologi, dunia jurnalistik merupakan sesuatu yang baru dan asing. Karena itu saya sungguh-sungguh berguru kepada setiap atasan, reporter, narasumber, dan artikel-artikel yang saya kerjakan. Tidak heran kalau akhirnya saya jadi mengikuti istilah yang biasa diucapkan para mantan bos saya, “majalah ini adalah sekolah kami”.
Setelah dua tahun ‘bersekolah’ di tempat itu, saya memutuskan untuk ‘pindah sekolah’. Kali ini ke tempat yang betul-betul ber-setting akademis. Terhitung tahun lalu, saya memutuskan untuk mengambil kuliah profesi sekaligus strata dua di jurusan Psikologi Klinis Anak dan Remaja. Kenapa saya berani mengambil keputusan ini? Simpel saja, saya ingin mewujudkan mimpi dan… saya cinta dunia remaja. Cukup masuk akal, bukan?!
Di samping bersekolah, saya saat ini juga menjadi freelancer penulis (Hmm, maaf, saya lebih suka menggunakan istilah ‘penulis’ daripada istilah ‘wartawan’. Bukan apa-apa, bebannya terlalu berat untuk menjadi seorang wartawan atau jurnalis). Seperti kebanyakan freelancer penulis atau stringer di negara ini, khususnya Jakarta, saya juga menulis secara tetap di sebuah free magazine. Tapi jangan coba cari nama saya di free magazine yang ada di kedai kopi terkemuka, karena majalah ini hanya beredar di sekolah-sekolah. Yap, hidup saya memang tidak (mau) jauh-jauh dari dunia sekolah dan remaja.
Tapi tampaknya saya harus mengurangi kegiatan saya sekarang ini. Segala report yang harus saya kumpulkan di perkuliahan terlalu menyita waktu. Sepertinya saya harus mulai fokus, mengerjakan semuanya satu per satu. Sayangnya saya punya terlalu banyak keinginan dan perminatan. Akhirnya saya jadi bingung dan berat untuk melepas semua kegiatan itu. Tapi, ah, sudahlah, untuk hal ini lebih baik saya bahas di blog saja. Ini kan cuma perkenalan, ya?! Tampaknya saya keasyikan menulis.
Nah, Anda sudah merasa lebih mengenal saya sekarang? Sudah?! Ah, Anda sok tahu. Itu cuma sepersekian bagian dari diri saya. Tapi tenang, menurut mantan bos saya lainnya, saya itu orangnya ‘obvious’ banget, kok. Jadi tunggu beberapa waktu, mungkin Anda akan mengenal diri saya, lebih dalam daripada saya sendiri.
Salam,
Mels




Sungguh berwarna hidupmu ito…
salam kenal ito Simangunsong
Horas..!
hehehe… trima kasih udah mampir. salam kenal juga bang manik.
Salam kenal ito…
Sukses ya buat perjalanan hidupnya…
Setelah menyukai dunia remaja, kapa nih selanjutnya memiliki anak remaja
hahahaha itulaaah, masih dalam proses pencarian, bang. hehehe… terima kasih udah mampir ya, bang harry.