I love you.
Cuman pengen bilang itu aja.
I love you.
Cuman pengen bilang itu aja.
Have mercy on me, Lord Jesus. I have to be there. Please, help me..
Sekarang saya punya alasan yang jelas untuk berhenti mencintai dia.
Bagi dia, saya bukan apa-apa. Tidak juga sebatas sahabat dekat.
Saya hanya teman mainnya. Teman gila-gilaan.
Porsinya cuma segitu. Tidak lebih.
Baiklah kalau begitu. Saya undur diri.
‘Cause you’re not there when I needed you yesterday.
Maybe becos I’m nobody..
Saya telah memutuskan untuk menjadi pasif terhadap apapun di sekeliling saya.
Menjadi seseorang yang tidak terlalu banyak bicara. Berhenti berpendapat, berhenti bercerita, dan berhenti bercinta.
Saya memutuskan untuk menjadi orang kebanyakan saja. Orang biasa, yang terlalu biasa.
Entah mengapa, rasanya payah sekali.
Namun rasanya semua indera berpikir saya telah dimatikan, sementara indera perasa terlalu disibukkan oleh kepedihan.
Dengan berat hati, hari ini saya mengambil keputusan itu.
Ya, saya memutuskan untuk ‘mati’ secara perlahan.
Aku dan dia bercinta tanpa mengenal waktu.
Seolah rindu tak kuasa dibendung dan rasa terlalu berlebih untuk disimpan begitu saja.
Sayang, cinta itu hanya dapat dipertontonkan dalam diam.
Dalam kepura-puraan.
Mencoba terlihat biasa, meski sebenarnya begitu menggebu.
Karena aku tahu kalau dia memang tidak akan mendampingiku selamanya.
Dan dia.
Dia pun tahu kalau dirinya tak mungkin bisa mendampingiku.
Cinta tak berbalas?
Bukan!
Ini cinta yang terlanjur menjadi adiksi. Sulit dilepas, meski sadar tidak ada gunanya.
…
And I love you so!
kata mereka