cinta tak sempurna

11 09 2009

Minggu kemarin, tidak ada kerjaan, saya iseng berjalan-jalan di rumah facebook. Mulai dari mengintip 1st degree friends saya, sampai iseng nguping di 2nd degree friends saya (kalau gak temennya temen saya yang kece, temen-temen artisnya beberapa temen saya, atau pacarnya temen saya! hihihi). Nah, ketika lagi nyasar ke subyek terakhir tadi, pacarnya temen saya, tiba-tiba saya menemukan postingan menarik yang dikirim oleh pacar dia (temen saya).

Isi postingannya adalah sebuah video singkat, semacam trailler dari film Indonesia yang mengetengahkan mengenai perbedaan agama. Hmm, kebetulan temen saya dan pacarnya itu memang memiliki keyakinan berbeda. Ini beberapa kutipan yang saya ingat dari trailler tersebut.

“Jika Tuhan menciptakan manusia secara berbeda-beda, maka mengapa ia harus disembah dengan cara yang sama pula?”

dan yang terakhir, yang sedikit menohok saya adalah adegan ketika kedua pasang ini sedang berdoa sebelum makan. Mereka bilang gini,

sang perempuan, “Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama”

sang lelaki, “dan Tuhan yang kami sembah dengan berbagai cara, berkatilah makanan ini agar….”.

Kutipan ini membuat saya mengenang beberapa kebiasaan yang sering saya lakukan bersama teman-teman kampus, sekitar 7-9 tahun yang lalu, saat akan melakukan sebuah kegiatan. Biasanya kami akan memulainya dengan doa, mengingat saya kuliah di universitas katolik. Namun, karena peserta berdoa tidak semuanya katolik, maka biasanya si pemimpin doa memulai dengan kalimat ini:

“Teman-teman mari kita bersatu dalam doa, dan ijinkan saya memimpinnya dengan menggunakan ajaran agama ….”.

Dari semua kebiasaan ini, saya kemudian bergumam mengenai indahnya kehidupan yang rukun seperti itu. Dalam koridor sebatas pertemanan, hal tersebut sudah sering terjadi. Jangan dengarkan kaum fanatis yang selalu mempermasalahkan agama. Nyatanya, di beberapa kelompok, banyak orang yang mulai dapat hidup berdampingan dengan agama lain. Beberapa kelompok saya bilang, belum semua kelompok.

Namun, beberapa cerita lain seputar perbedaan agama, yang terjadi di sekitar saya, biasanya muncul dari beberapa teman yang ingin melanjutkan hidupnya ke pernikahan. Seorang teman saya bilang, “Kalau ini memang beneran cinta, kenapa harus gue pisah cuma urusan agama?”.

Ditanya begitu, ya saya cuma bisa diam. Saya sendiri termasuk orang yang ingin menikah dengan tokoh seagama dengan saya. Alasannya? Pertama, tidak dibolehkan oleh Tuhan saya. Kedua, saya termasuk orang yang ‘drama’, sehingga rasanya saya ingin melewatkan setiap hari bersama pasangan saya kelak, termasuk saat saya mengikuti kegiatan agama. Being together with him, in every single thing i do. Ketiga, males aja kalau urusannya jadi ribet.

Sayangnya, terkadang toh kita bisa bertemu dengan cinta yang ‘tidak ideal’, seberapa pun besarnya kita menolak ketidaksempurnaan itu. Saat ini, misalnya, saya sedang jatuh pada seseorang yang tidak tepat. Kalimat ‘tidak ideal’ rasanya kurang pas, because it feels so perfect. Karena itu saya memilih untuk menggunakan frase ‘tidak tepat’.

Secara sadar dan tidak sadar, saya tahu bahwa saya harus berhenti memikirkannya. Namun, terkadang mengontrol kerja otak jauh lebih sulit daripada mengontrol kerja badaniah. Sehingga, yah, cinta yang tidak ideal itu pun masih rutin mondar-mandir di benak saya.

Bisa jadi, itu juga yang terjadi pada mereka yang masih memiliki harapan pada hubungan berbeda keyakinan. Sekuat-kuatnya semangat kita untuk berhenti dari benang kusut tersebut, tapi tidak bisa dipungkiri ada dorongan yang sangat kuat untuk terus bertahan. Apalagi kalau kita yakin mereka adalah sang kecintaan.

Namun, saya sih percaya bahwa pada akhirnya setiap orang akan bertemu dengan cinta sejatinya. Dengan siapa dan selama apapun momen pertemuan itu datang. Mungkin di usia 30-an, 40-an, atau bahkan sedetik menjelang ia menghembuskan nafas terakhir. Idealisme drama saya mengatakan cinta sejati pasti bersatu. Entah bagaimana pun caranya.


Actions

Information

3 responses

23 10 2009
papa amartya siadari

Dari blogwalking dan ketemu lah blog ini.

Sepenuhnya setuju dengan semangatnya untuk menghargai perbedaan. Dan sangat tertarik dengan penemuan akan istilah ‘cinta yang tidak ideal’ yang kemudian lebih ‘dibumikan’ lagi dengan ‘cinta yang tidak tepat.’

Namun, saya berpendapat jika kita berani berkata berbeda itu indah, maka menurutku kita jg harus berani mendikotomi ‘cinta yang tepat’ dengan ‘cinta yg tidak tepat.’

Dan, saya agak kurang yakin dengan pendapat: “Saya sendiri termasuk orang yang ingin menikah dengan tokoh seagama dengan saya. Alasannya? Pertama, tidak dibolehkan oleh Tuhan saya.” Yg benar aja. Tuhan akan merestui cinta yang bagaimana pun, sepanjang cinta itu benar-benar sejati.

So, saya mendukung loh pencarian cinta sejatinya. Dua bulan lagi saya akan mengunjungi blog ini. Dan ingin sekali menemukan tulisan lanjutan yg lebih mencerahkan.

Salam kenal ya. Tulisannya bagus.

23 10 2009
papa amartya siadari

ups, ralat sedikit. ada kekeliaruan pada kalimat:
Namun, saya berpendapat jika kita berani berkata berbeda itu indah, maka menurutku kita jg harus berani mendikotomi ‘cinta yang tepat’ dengan ‘cinta yg tidak tepat.’

seharusnya:

Namun, saya berpendapat jika kita berani berkata berbeda itu indah, maka menurutku kita jg harus berani menghapus dikotomi ‘cinta yang tepat’ dengan ‘cinta yg tidak tepat.’

14 11 2009
mels

hai papa amartya, thanks for coming.

hmm, cukup menarik komennya. saya menanti saat ketika Anda datang lagi ke rumah saya ini. sayangnya, sejauh ini belum ada perkembangan yang cukup signfikan. saya masih tetap ‘jatuh’ pada cinta yang tidak tepat dan belum dapat berdiri lagi.

bisa jadi belum dapat, bisa jadi belum mau.

hmm…

:) have a nice saturday!

Leave a comment