jangan pergi

29 12 2008

Ceritanya saya abis menonton sekuel Madagascar kedua. Well, nggak sah sebenarnya, karena saya tidak menonton film yang perdananya. Beruntung filmnya sangat menghibur dan cerdas, sehingga saya tidak terlalu buntu meski baru kali ini mengenal karakternya.

Masalahnya, bukan saya namanya bila melewatkan sebuah film tanpa berpikir dan menarik hubungannya dengan diri sendiri. Hal-hal sederhana pun bisa dihubungkan dengan masalah yang terjadi di kehidupan saya saat menonton. Terlihat seperti drama queen memang, tapi mau apa lagi? Hahhaa…

Contoh paling gres adalah ketika saya menonton Madagascar tadi. Pada dasarnya film ini memang menyimpan banyak sekali life value yang ingin disinggung si pembuatnya. Jadi banyak sekali quotes yang bisa diambil dari film ini. Tapi kok ya dari antara quotes tersebut, yang menarik perhatian saya justru sebuah kalimat singkat yang diucapkan Alex saat sahabatnya, Marty, marah dan pergi meninggalkannya. Dia bilang dengan suara yang lemah, “Jangan pergi”.

Saya langsung teringat dengan hidup saya yang morat-marit belakangan ini, terutama dalam hubungan persahabatan. Kemarin itu, saya beranikan diri untuk mengungkapkan kemarahan saya pada seorang sahabat. Saya bilang, “i lose hope on bestfriend relationships“. Dia bertanya kenapa, kemudian saya memberi serangkaian alasan, yang bila dirangkum akan menjadi kalimat semacam, “karena gue marah dan kecewa dengan kalian, karena kalian hanya mementingkan diri sendiri, dan karena wujud persahabatan ideal itu tidak pernah gue temui”.

Terlihat adanya emosi kemarahan, ya. Ada kekecewaan juga, ada harapan yang berlebihan, dan ada kecenderungan untuk menyalahkan orang lain juga. Namun ketika saya mendengar ucapan “jangan pergi” tadi, saya jadi sadar kalau inti semua emosi negatif itu berpusat pada satu alasan singkat yang barangkali akan dibunyikan dengan rasa putus asa, seolah berharap mujizat terjadi, “karena gue takut lo pergi, melupakan dan meninggalkan gue”.

Saya seperti terhenyak dan berpikir bila kekecewaan saya belakangan ini mungkin merupakan bentuk kekhawatiran saya akan perpisahan dengan para sahabat. Supaya rasanya tidak terlalu pedih (ketika ditinggal sahabat), lebih baik saya duluan yang menjauh, mungkin kira-kira begitu. Jadi tindakan menarik diri itu dimaksudkan supaya saya bisa melatih diri secara pelan-pelan agar tidak terlalu shock ketika kekhawatiran itu betul-betul terwujud. Jadi mungkin saya tidak betul-betul sedang marah. Justru sebenarnya saya sangat takut dan khawatir sekali.

Lalu pertanyaannya, apakah kekhawatiran itu akan betul-betul terwujud? Nah, ini yang masih saya pikirkan. Beberapa sahabat memang ada yang menghubungi saya belakangan ini, mengucapkan selamat natal sambil menanyakan kabar. Sahabat tempat saya mengutarakan amarah tadi mengatakan bahwa dia akan tetap ada di sekitar saya dan meminta saya untuk tidak putus harapan kepadanya.

Jadi kemungkinan besar memang semua itu hanya kekhawatiran belaka yang tidak terbukti. Namun ego saya kok sepertinya tetap memaksa untuk mengaktifkan mekanisme pertahanan diri. Mungkin agar saya tetap berjaga-jaga ya, bila suatu kali kekhawatiran itu betul-betul terwujud. Jadi saya tidak akan begitu lemah mental bila betul-betul harus berpisah dengan sahabat saya. Ah, jadi sangat mellow sekali.

Well, paling tidak kali ini saya mau mengakui bahwa inti dari semua keresahan ini adalah karena saya takut kehilangan sahabat-sahabat saya. Takut kehilangan satelit hidup saya. Takut kehilangan alasan untuk hidup dan tertawa.

Jadi tolong jangan pergi dulu. Saya tidak akan bersikap begitu ‘freak’ seperti saat ini, bila kalian tidak sangat berarti bagi hidup saya.


Actions

Information

Leave a comment