to keep and to be kept

6 12 2008

Dalam tugas saya sebagai seorang teman, saya selalu berusaha menjalankan peran sebagai ‘penjaga dan penyimpan’ teman. Sedikit susah dibahasakan ke bahasa Indonesia. Namun untuk kategori bahasa Inggris, mungkin bisa diistilahkan dengan ‘a keeper’.

Sayangnya terkadang terjadi hal-hal ‘gak penting tapi krusial’, yang bikin saya kesal dengan para teman yang sedang saya jaga atau simpan itu. Terkadang saya ingin berteriak, “hey, I am a keeper. But if you don’t want to be kept, I won’t be begging”. Ada kalanya saya juga ingin ‘menampar’ mereka yang kerjanya melulu cerita, cerita, cerita, dan tidak pernah mendengarkan! Entah itu tidak mau mendengarkan pendapat saya, ataupun mendengarkan keluh kesah saya. Seolah hanya dia saja yang punya masalah paling hebat di dunia ini.

Terkadang ingin sekali saya melepaskan atribut profesi baru saya sekarang ini dan bersikap sebagai seorang teman pada umumnya. Yang bisa marah ketika temannya bersikap bodoh dan tidak mau berpikir obyektif, yang bisa kesal ketika temannya hanya muncul ketika sedang punya masalah, dan yang bisa sedih ketika tahu harapan besarnya terhadap sang teman tidak kesampaian. Saya toh cuma manusia biasa yang juga punya emosi. Seberapapun usaha saya untuk menjadi teman ideal, toh saya juga punya batas.

Jadi akhirnya saya belajar untuk mengurangi intensitas berteman yang selama ini selalu saya berikan pol, sepenuh yang saya mampu. Jadi jangan heran bila saya jarang menghubungi atau perhatian seperti dulu. Pun begitu, saya tetap memperhatikan teman-teman saya dari kejauhan. Saya tahu cerita mereka, meski mereka mungkin tidak akan lagi memilih saya sebagai sumber berbagi informasi pertama kali.

Ya, saya menjauh. Bukan untuk menghindar, namun untuk menjaga keseimbangan peran saya dalam berteman. Biar tidak besar harapan, yang bisa membuat saya jatuh kesakitan saat harapan tidak terpenuhi. Biar tidak kecewa saat tidak didengar, yang bisa membuat saya keselek mendadak karena terlalu sering menelan ludah. Dan yang paling penting, biar saya bisa terus menjaga dan menyimpan para teman dan sahabat, meski itu hanya di dalam hati saya saja.

Sedih? Tentu saja. Ada kalanya saya menyesali keputusan saya. Tapi saya sangat sadar dengan pilihan saya. Yang terbaik memang mengurangi harapan, karena persahabatan kental sekalipun memiliki batas.

Ini yang terakhir yang bisa saya lakukan..


Actions

Information

One response

24 12 2008
Nainggolan

Berbuat yang terbaik adalah usaha setiap orang, mendapatkan yang terbaik impian setiap insan. Tak terasa kita sudah dipenghujung Tahun 2008. Di tahun 2008 banyak asa yang tercapai, ada pula yang belum digapai. Ada banyak cerita suka maupun duka kita lalui diTahun 2008. Mungkin kita belum meraih yang terbaik ditahun 2008, tapi selalu ada harapan ditahun 2009. Orang bijak bilang, jadikan masa lalu jadi pelajaran untuk menghadapi masa depan. Kita pasti sudah menyusun rencana, membuai asa di tahun 2009. Bekerjalah sambil berdoa. Itu pesan para tetua, di manapun kita berada. Selamat Hari Natal dan Tahun Baru!

http://asaborneo.blogspot.com/

Leave a comment