stay still

10 10 2008

Hari kemarin saya merasa senang sekali. Diawali dengan sebuah pesan mengenai tawaran eksistensi yang sebenarnya memang sedang saya rencanakan di bulan ini. Kemudian dilanjutkan dengan tawaran eksistensi lainnya. Selain itu, hari ini pertikaian saya dengan ibu yang sangat sengit sejak minggu kemarin juga mulai melunak. Kami sudah melakukan kontak mata! Hehehe… Dan, oh, jangan lupakan semua rencana pekerjaan yang berhasil dilakukan dengan baik di hari ini. Semuanya selesai, dengan performa yang cukup baik saya tampilkan. Saya jadi diingatkan mengenai betapa cintanya saya dengan dunia yang saya pelajari 2 tahun kemarin. Saya bisa merasakan nyawanya, gairahnya.

Semuanya tampak sangat benar dan di luar ekspektasi saya. Semua keragu-raguan saya mengenai ‘pilihan si Tuhan’ langsung termusnahkan. Saya merasa seolah Tuhan ingin menampar saya dan bilang, “Hey, ini gue! Nggak mungkin gue melakukan kesalahan dan nggak mungkin gue sengaja menganggurkan waktu lo secara sia-sia. Just stay still. Ini gue dan gue tau apa yang gue lakukan”. Damn, tamparannya begitu keras sampai membuat saya terjaga hingga larut. Sebegitu bodohnya saya, sampai meragukan apa yang sudah Tuhan saya pilihkan buat saya.

Hari ini saya diingatkan untuk sabar dan meyakini bahwa segala sesuatu punya giliran waktunya masing-masing. Bila sekarang belum terlihat, mungkin karena saatnya belum tepat. Mungkin saya harus belajar dulu agar nantinya bisa tampil sesuai ‘dresscode’ si empunya pesta. Mungkin saya diharuskan untuk belajar yakin dulu, bahwa Dia nggak mungkin memberikan pilihan yang salah kepada gue.

Dan sambil tersenyum, perlahan saya pun berjalan ke cermin dan melihat bayangan di depan saya. Pada sang bayangan, saya bisikkan kalimat singkat, “Itu dia, mels! Bukan sembarang orang. Orang lain bisa salah pilih, tapi dia nggak! Itu dia. It’s him! Him!”