Istilah “ketika sebuah pintu tertutup, akan ada pintu yang terbuka” sudah saya dengar sejak lama. Pertama kali diperdengarkan oleh Smita, yang juga mendapat petuah itu dari ayahnya. Saya sih setuju saja, karena dalam beberapa peristiwa, hal itu selalu terjadi. Tapi bagaimana kalau cerita yang terjadi justru kebalikannya, “ketika sebuah pintu terbuka, akan ada pintu yang tertutup”?
Barusan saya merasakannya. 2 hari yang lalu, saya tersenyum luar biasa lebar, karena berhasil mendapat kesempatan kerja. Tidak besar dan tidak terlalu menjanjikan juga, namun setahap lebih baik dari keadaan yang saya alami sekarang ini.
Naasnya, hari ini saya justru menghadiri sebuah pertemuan yang memutuskan bahwa sebuah proyek yang awalnya direncanakan, akan dibatalkan. Well, tidak murni seperti itu sih, tapi tidak akan seperti yang direncanakan di awal. Yang tadinya akan sementara waktu, berubah menjadi LEBIH SEMENTARA lagi. Hehehe..
Jujur saja, ada perasaan yang tidak terlalu nyaman. Bukan karena saya berharap terlalu banyak. In fact, sedari awal saya sudah bersiap diri bila proyek ini tidak akan berjalan seperti yang dikreasikan. Namun seperti muncul ‘yaaah-effect’. Campuran antara kecewa, sedih, tapi lega juga (karena akhirnya dapat kepastian).
Karena itu sekarang gue bertanya, bila gue bisa mantap meyakini petuah satu-pintu-ditutup-pintu-lain-dibuka itu, apakah gue juga setubuh dengan petuah satu-pintu-dibuka-pintu-lain-ditutup?
Permainan kalimat sederhana seperti itu, ternyata bermakna cukup besar. Dalam pemikiran saya, saat petuah pertama (satu pintu ditutup, pintu lain dibuka), tanggung jawab berada di tangan Tuhan. Sebagai tempat berharap, kita begitu meyakini bahwa Beliau pasti akan mengeluarkan kita dari masalah. “Bila sekarang mendapat kesulitan, pasti karena ia sedang mempersiapkan kita untuk hal terbaik,” begitu istilahnya.
Tapi dengan petuah kedua (satu pintu dibuka, pintu lain ditutup), tanggung jawab ada di tangan manusia. Semacam ‘todongan’ untuk membuktikan bahwa kita menerima hidup apa adanya, sepaket antara kegembiraan dan kesedihan. Tingkat ketangguhan kita dituntut, sportivitas dipertanyakan, rasionalitas dipancing. Idealnya, kita harus bisa menerima pintu yang tertutup itu, toh sudah ada pintu yang dibukakan, toh?
Masalahnya, manusia terkadang rakus, ingin semuanya diambil. Masalahnya lagi, manusia sering lupa untuk bersyukur. Padahal tidak bisa mendapatkan sesuatu, toh sebenarnya bukan berarti tidak mendapat apa-apa. Atau tidak bisa mendapat proyek ini, toh saya sebenarnya sudah berhasil mendapat kesempatan kerja yang lain.
Kalau begitu, pertanyaannya sekarang adalah apakah saya sudah mampu mengikhlaskan diri dan bersyukur atas kesempatan kerja yang sebenarnya telah saya pegang di tangan?
Harusnya bisa, tapi detik ini masih sulit. Mudah-mudahan beberapa jam lagi sudah bisa lebih legawa.




kata mereka