Di waktu ini, 2 tahun yang lalu, saya duduk dan bercerita mengenai berbagai hal dengan dia. Berkeluh kesah, mengadu, mendengarkan ceritanya, berargumen, berbagi cerita paling rahasia, dan berakhir dengan dada terkejut, karena waktu telah mendekati subuh. Lucunya, terkadang pembicaraan itu berlangsung kembali, setelah dia selesai melakukan ritual dini harinya.
Di waktu ini, 2 tahun yang lalu, waktu jadi tidak terlalu bermakna, energi yang terbuang pun diabaikan. Seperti anak kecil gemuk yang tidak mau rugi, makan sepuas-puasnya, takut sewaktu-waktu makanan itu diambil. Begitu pun dulu. Bercerita dan berargumen sepuas-puasnya, seolah takut kesempatan itu akan hilang.
Postingan ini akan saya beri judul ‘jadi cemas’ bila saja ketakutan itu memang tidak pernah terbukti. Cemas: ketakutan akan sesuatu, yang belum tentu terwujud. Tapi bila saya mengubah judulnya ‘jadi sedih’, itu karena ketakutan itu terwujud.
Dua tahun lalu, di waktu ini, saya tahu malam tidak akan terasa begitu panjang karena ada dia yang menjadi teman berbicara. Tahun ini, di waktu ini, saya membuka ruang percakapan di situs maya dan menemukan diri saya tidak bersama dia yang menemani saya berbicara.
Saatnya menerima kenyataan bahwa dia adalah milik dunia di sekitarnya. Keberadaan saya tidak bersifat absolut baginya dan bukan kesalahan dia bila saya duduk termangu di malam ini, dengan hati sedikit nelangsa, sedikit menangis, dan mulut perlahan menyebut, “yah, peran gue bagi dia memang nggak sepenting dulu lagi”.
Sudah hampir jam 12 malam. Besok saya harus bekerja pagi sekali. Tidak ada gunanya merelakan kantuk seorang diri. Sudah, terima saja. Tidak ada yang abadi. Dia tidak abadi. Kesepian ini juga seharusnya tidak abadi. Berharap saja suatu hari nanti, di waktu yang sama, saya akan bertemu dengan orang lain yang bisa menemani saya bercerita apa saja.
Bukan berarti saya benci padanya. Hanya saja, saya merindunya teramat sangat. Seperti Tom yang merindukan Jerry. Seperti pemain ganda bulu tangkis yang ‘terpaksa’ bermain tunggal. Atau seperti turis yang kehilangan buku Lonely Planet-nya.
Sepi. Ingin seperti dua tahun lalu lagi…




jangan terlalu bersedih.. karena seperti kata anda bahwa kesepian tidak akan abadi and i’m agree cause saya juga pernah merasa seperti itu tapi saya yang sekarang sudah tidak lagi. anggap saja itu menjadi bagian dari cerita hidup anda ^_^
P.S sorry nich maen comment aza. i’m interest sama postingan u makanya gw liat n akhirnya mutusin comment hehe
wah terimakasuh florensya. iya, harapannya juga gak abadi. dan komenmyu masuk di saat gue lagi berjuang menenangkan diri, jadi momennya pas sekali dan menenangkan.
terimakasih sudah mampiiir..