hidup taktis

29 09 2008

Hari ini saya menyadari bahwa saya sudah tidak muda lagi. Serius. Mungkin gara-gara quote Donna di film Mamma Mia! yang berteriak, “stop growing” kepada teman-teman anaknya. Ya, saya pun seperti itu. Melihat keponakan-keponakan yang dulunya masih kecil dan sekarang beranjak remaja, saya jadi ngeri. Ternyata saya tidak muda lagi. Jiwa boleh jadi masih muda, tapi harus menyadari bahwa ada faktor fisik yang terus berjalan dan tidak bisa ’stay young’.

Saat ini, usia saya sudah 27 tahun. Hampir sebagian besar ‘mimpi wajib’ saya sudah terpenuhi, terutama kuliah sampai S2. Masih ada yang belum terpenuhi, seperti memiliki keluarga (termasuk anak, tentu saja), pekerjaan yang mapan, dan rumah yang memadai. Yah, mengingat itu adalah ‘mimpi wajib’, maka sifatnya memang seperti rutinitas. Dalam arti, sampai kapanpun saya harus tetap berusaha mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.

Namun ada juga ‘mimpi sampingan’ yang sebenarnya juga menyita perhatian saya. Ada keinginan untuk melanjutkan kuliah lagi, tinggal sementara waktu di luar negeri, bisa membeli apartemen untuk orangtua saya tinggal, dan segudang ‘mimpi sampingan’ lainnya. Mungkin karena sifatnya sampingan, maka mimpi jenis ini memang cenderung lebai, alias berlebihan. Tapi coba perhatikan deh, efek kenikmatan yang muncul bila ‘mimpi sampingan’ ini terwujud, sepertinya lebih ‘kena’, ya. Bisa jadi karena ‘mimpi sampingan’ ini memang sifatnya nothing to loose. Kalau terwujud, itu adalah bonus besar. Kalau tidak, yah paling tidak si ‘mimpi wajib’ berhasil diwujudkan.

Tapi saya tidak mau menjadikan ‘mimpi sampingan’ bersifat seadanya seperti itu. Kenapa saya tidak menjadikan derajatnya setara dengan ‘mimpi wajib’? Apalagi saya tahu bahwa ‘mimpi sampingan’ itu akan membawakan kebahagian yang besar bagi saya. Karena itu, ketika saya menyadari usia yang tidak muda lagi tadi, saya terpikir untuk tidak membuang-buang waktu. Kenapa harus menunggu usia berjalan terlalu tua untuk mewujudkan semua mimpi itu? Bila saya bisa hidup lebih terstruktur, mungkin semua mimpi itu akan mungkin terwujud.

Bagi mereka yang mengenal saya, pasti tahu betapa ‘dualitas’nya diri saya. Di satu sisi saya begini, tapi di lain sisi justru begitu. Salah satunya dalam menjalankan kehidupan. Di satu sisi saya sangat ingin semuanya berjalan secara sistematis, namun di lain sisi seringkali saya menganggurkan semua rencana dan menjalankan hidup secara ‘berantakan’. Semaunya saja.

Karena itu kini saya ingin yang pasti-pasti saja. Ingin hidup saya memiliki strategi yang akan saya jalankan secepat mungkin. Saya pun membuat serangkaian rencana, yang kemungkinan puncaknya akan dilaksanakan 2 tahun lagi, ketika usia saya 29 tahun. Bagi saya itu akan menjadi semacam titik tolak, untuk menjadi seseorang yang saya cita-citakan. Seseorang yang puas dengan hidupnya, yang bangga karena tidak hanya dapat memenuhi ‘mimpi wajib’nya saja, namun juga ‘mimpi sampingan’.

Saya tahu, harapan ini terlihat masih sangat mengawang-awang. Saya juga menyadari bahwa kegagalan bisa jadi akan menghadang saya, telak-telakan. Tapi saya tahu hidup saya akan lebih tidak tenang lagi bila kegagalan itu terjadi karena saya tidak melakukan apa-apa. Buka kegagalan itu namanya, namun hanya pepesan kosong.

At least I try. Paling tidak saya tidak hanya menghabiskan waktu saya dengan bermimpi dan berkhayal. Dan paling tidak saya berusaha untuk membuktikan bahwa semua mimpi ini bukan sekadar impian di siang hari bolong. Kalaupun akhirnya ’sebolong’ itu, paling tidak saya melewatinya dengan kepuasan karena telah mencoba.

Jadi, kali ini saya akan lebih taktis. Penuh perencanaan, meski saya tahu pengejewantahannya akan sangat sulit. Tapi, itu tadi, paling tidak saya mencoba.





sigh

25 09 2008

baru saja saya meneteskan tangisan pertama saya di usia 27 tahun.

seperti katanya, saya jatuh lagi.

sigh.





menjadi 27 tahun

24 09 2008

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, entah kenapa kali ini saya malas membuat tulisan reflektif khas ulang tahun. Kali ini saya bahkan belum betul-betul memikirkan tentang formulasi birthday wish saya. Tapi, di ulangtahun saya kali ini, di hari ini, saya merasakan sesuatu yang sangat istimewa. Betul, deh!

Bisa jadi karena ini adalah kali pertama saya merayakan ulangtahun tanpa harus melakukan sebuah kegiatan yang berarti, sementara semua teman saya sedang sibuk bekerja. Akhirnya, yo wis, saya di rumah saja. Hanya sempat membuat satu tulisan super singkat, sudah janji soalnya. Selebihnya, saya sudah hampir mengalahkan penjaga warnet, online seharian.

Tapi justru itu nikmat sekali. Bisa jadi juga karena saya belum pernah betul-betul merasakan liburan, secara fisik maupun pikiran. Karena itu begitu saya membebaskan fisik dan pikiran saya dari berbagai hal njlimet di hari ini, rasanya santai sekali.

Saya jadi punya banyak waktu untuk membalas semua email, sms, maupun komen di wall facebook atau friendster. Saya sempatkan juga online YM yang disambut teman-teman dengan chatting ucapan selamat. Belum lagi yang telfon, bila sebelumnya saya sering buru-buru menjawab, kali ini saya ladeni selama apapun mereka suka. Hmm, kebanyakan sih berhenti karena mereka dipanggil oleh bos masing-masing. Hahaha…

Malamnya, saya, kakak, ibu, dan ayah pergi ke Hongkong Cafe. Ritual khas ulangtahun di keluarga kami: makan-makan di luar rumah. Romantisnya, ketika ingin berangkat, saya mendapat hadiah istimewa dari Tuhan berupa hujan yang turun deras. Wah, Beliau tahu saja kalau saya begitu mencintai hujan. Lebih spesial lagi, saya dapat tambahan voucher makan dari Hongkong Cafe. Sedap, mantap.

Pulangnya mampir dulu di Harvest. Beli kue, untuk dipotong besok pagi. Sekalian ambil lilin, biar Jepan bisa ikutan tiup lilin bareng Tetey Dede (aka saya! hehehe…). Sampai di rumah, kamar terasa nyaman, karena tadi pagi tukang AC datang untuk mereparasi. Lebih senang lagi karena dalam minggu ini niatan saya untuk membeli printer baru tampaknya bisa terwujud. Yipppiieeee…

Ya, saya bahagia sekali hari ini. Terlihatnya simpel sekali memang ulangtahun saya. Tidak ada pesta gemerlap, tapi saya merasa sangat nyaman. Sampai-sampai saya melupakan ketakutan saya mengenai angka 27 keramat (Kurt Cobain, Jim Morisson, dan teman-teman meninggal di usia 27 tahun, mind you!). Tapi, ah, hidup mati di tangan Tuhan. Kapan pun itu, saya tidak punya hak sama sekali untuk tawar-menawar. Iya, tidak?

Ah, sekarang saya mau tidur saja. Secara resmi, besok adalah hari pertama saya di usia 27 tahun. Kebetulan, rutinitas saya juga harus kembali esok hari. Saya sih meyakini akan ada sesuatu yang istimewa di tahun ini. Yah, kita lihat saja. Barangkali keistimewaan itu sudah bisa saya rasakan mulai esok hari! Hahaha…

Tuhan Yesus, terima kasih untuk hari ini, ya. Terima kasih untuk satu tahun lagi dalam riwayat hidupku. Terima kasih untuk keluarga yang indah, teman-teman yang begitu perhatian, semua sms, email, comment, chatting, dan berbagai pesan yang disampaikan lewat doa kepadaMu. Hidup aku, Engkau yang kasih, Tuhan. Karena itu aku tahu bahwa Engkau tidak akan memberikan sesuatu yang sia-sia. Pasti ada maknanya. Pasti ada ceritanya. Lindungi aku di hari-hari esok ya, Tuhan. Love you so…





pait!

12 09 2008

Istilah “ketika sebuah pintu tertutup, akan ada pintu yang terbuka” sudah saya dengar sejak lama. Pertama kali diperdengarkan oleh Smita, yang juga mendapat petuah itu dari ayahnya. Saya sih setuju saja, karena dalam beberapa peristiwa, hal itu selalu terjadi. Tapi bagaimana kalau cerita yang terjadi justru kebalikannya, “ketika sebuah pintu terbuka, akan ada pintu yang tertutup”?

Barusan saya merasakannya. 2 hari yang lalu, saya tersenyum luar biasa lebar, karena berhasil mendapat kesempatan kerja. Tidak besar dan tidak terlalu menjanjikan juga, namun setahap lebih baik dari keadaan yang saya alami sekarang ini.

Naasnya, hari ini saya justru menghadiri sebuah pertemuan yang memutuskan bahwa sebuah proyek yang awalnya direncanakan, akan dibatalkan. Well, tidak murni seperti itu sih, tapi tidak akan seperti yang direncanakan di awal. Yang tadinya akan sementara waktu, berubah menjadi LEBIH SEMENTARA lagi. Hehehe..

Jujur saja, ada perasaan yang tidak terlalu nyaman. Bukan karena saya berharap terlalu banyak. In fact, sedari awal saya sudah bersiap diri bila proyek ini tidak akan berjalan seperti yang dikreasikan. Namun seperti muncul ‘yaaah-effect’. Campuran antara kecewa, sedih, tapi lega juga (karena akhirnya dapat kepastian).

Karena itu sekarang gue bertanya, bila gue bisa mantap meyakini petuah satu-pintu-ditutup-pintu-lain-dibuka itu, apakah gue juga setubuh dengan petuah satu-pintu-dibuka-pintu-lain-ditutup?

Permainan kalimat sederhana seperti itu, ternyata bermakna cukup besar. Dalam pemikiran saya, saat petuah pertama (satu pintu ditutup, pintu lain dibuka), tanggung jawab berada di tangan Tuhan. Sebagai tempat berharap, kita begitu meyakini bahwa Beliau pasti akan mengeluarkan kita dari masalah. “Bila sekarang mendapat kesulitan, pasti karena ia sedang mempersiapkan kita untuk hal terbaik,” begitu istilahnya.

Tapi dengan petuah kedua (satu pintu dibuka, pintu lain ditutup), tanggung jawab ada di tangan manusia. Semacam ‘todongan’ untuk membuktikan bahwa kita menerima hidup apa adanya, sepaket antara kegembiraan dan kesedihan. Tingkat ketangguhan kita dituntut, sportivitas dipertanyakan, rasionalitas dipancing. Idealnya, kita harus bisa menerima pintu yang tertutup itu, toh sudah ada pintu yang dibukakan, toh?

Masalahnya, manusia terkadang rakus, ingin semuanya diambil. Masalahnya lagi, manusia sering lupa untuk bersyukur. Padahal tidak bisa mendapatkan sesuatu, toh sebenarnya bukan berarti tidak mendapat apa-apa. Atau tidak bisa mendapat proyek ini, toh saya sebenarnya sudah berhasil mendapat kesempatan kerja yang lain.

Kalau begitu, pertanyaannya sekarang adalah apakah saya sudah mampu mengikhlaskan diri dan bersyukur atas kesempatan kerja yang sebenarnya telah saya pegang di tangan?

Harusnya bisa, tapi detik ini masih sulit. Mudah-mudahan beberapa jam lagi sudah bisa lebih legawa.





jadi sedih

8 09 2008

Di waktu ini, 2 tahun yang lalu, saya duduk dan bercerita mengenai berbagai hal dengan dia. Berkeluh kesah, mengadu, mendengarkan ceritanya, berargumen, berbagi cerita paling rahasia, dan berakhir dengan dada terkejut, karena waktu telah mendekati subuh. Lucunya, terkadang pembicaraan itu berlangsung kembali, setelah dia selesai melakukan ritual dini harinya.

Di waktu ini, 2 tahun yang lalu, waktu jadi tidak terlalu bermakna, energi yang terbuang pun diabaikan. Seperti anak kecil gemuk yang tidak mau rugi, makan sepuas-puasnya, takut sewaktu-waktu makanan itu diambil. Begitu pun dulu. Bercerita dan berargumen sepuas-puasnya, seolah takut kesempatan itu akan hilang.

Postingan ini akan saya beri judul ‘jadi cemas’ bila saja ketakutan itu memang tidak pernah terbukti. Cemas: ketakutan akan sesuatu, yang belum tentu terwujud. Tapi bila saya mengubah judulnya ‘jadi sedih’, itu karena ketakutan itu terwujud.

Dua tahun lalu, di waktu ini, saya tahu malam tidak akan terasa begitu panjang karena ada dia yang menjadi teman berbicara. Tahun ini, di waktu ini, saya membuka ruang percakapan di situs maya dan menemukan diri saya tidak bersama dia yang menemani saya berbicara.

Saatnya menerima kenyataan bahwa dia adalah milik dunia di sekitarnya. Keberadaan saya tidak bersifat absolut baginya dan bukan kesalahan dia bila saya duduk termangu di malam ini, dengan hati sedikit nelangsa, sedikit menangis, dan mulut perlahan menyebut, “yah, peran gue bagi dia memang nggak sepenting dulu lagi”.

Sudah hampir jam 12 malam. Besok saya harus bekerja pagi sekali. Tidak ada gunanya merelakan kantuk seorang diri. Sudah, terima saja. Tidak ada yang abadi. Dia tidak abadi. Kesepian ini juga seharusnya tidak abadi. Berharap saja suatu hari nanti, di waktu yang sama, saya akan bertemu dengan orang lain yang bisa menemani saya bercerita apa saja.

Bukan berarti saya benci padanya. Hanya saja, saya merindunya teramat sangat. Seperti Tom yang merindukan Jerry. Seperti pemain ganda bulu tangkis yang ‘terpaksa’ bermain tunggal. Atau seperti turis yang kehilangan buku Lonely Planet-nya.

Sepi. Ingin seperti dua tahun lalu lagi…