Hari ini saya menyadari bahwa saya sudah tidak muda lagi. Serius. Mungkin gara-gara quote Donna di film Mamma Mia! yang berteriak, “stop growing” kepada teman-teman anaknya. Ya, saya pun seperti itu. Melihat keponakan-keponakan yang dulunya masih kecil dan sekarang beranjak remaja, saya jadi ngeri. Ternyata saya tidak muda lagi. Jiwa boleh jadi masih muda, tapi harus menyadari bahwa ada faktor fisik yang terus berjalan dan tidak bisa ’stay young’.
Saat ini, usia saya sudah 27 tahun. Hampir sebagian besar ‘mimpi wajib’ saya sudah terpenuhi, terutama kuliah sampai S2. Masih ada yang belum terpenuhi, seperti memiliki keluarga (termasuk anak, tentu saja), pekerjaan yang mapan, dan rumah yang memadai. Yah, mengingat itu adalah ‘mimpi wajib’, maka sifatnya memang seperti rutinitas. Dalam arti, sampai kapanpun saya harus tetap berusaha mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.
Namun ada juga ‘mimpi sampingan’ yang sebenarnya juga menyita perhatian saya. Ada keinginan untuk melanjutkan kuliah lagi, tinggal sementara waktu di luar negeri, bisa membeli apartemen untuk orangtua saya tinggal, dan segudang ‘mimpi sampingan’ lainnya. Mungkin karena sifatnya sampingan, maka mimpi jenis ini memang cenderung lebai, alias berlebihan. Tapi coba perhatikan deh, efek kenikmatan yang muncul bila ‘mimpi sampingan’ ini terwujud, sepertinya lebih ‘kena’, ya. Bisa jadi karena ‘mimpi sampingan’ ini memang sifatnya nothing to loose. Kalau terwujud, itu adalah bonus besar. Kalau tidak, yah paling tidak si ‘mimpi wajib’ berhasil diwujudkan.
Tapi saya tidak mau menjadikan ‘mimpi sampingan’ bersifat seadanya seperti itu. Kenapa saya tidak menjadikan derajatnya setara dengan ‘mimpi wajib’? Apalagi saya tahu bahwa ‘mimpi sampingan’ itu akan membawakan kebahagian yang besar bagi saya. Karena itu, ketika saya menyadari usia yang tidak muda lagi tadi, saya terpikir untuk tidak membuang-buang waktu. Kenapa harus menunggu usia berjalan terlalu tua untuk mewujudkan semua mimpi itu? Bila saya bisa hidup lebih terstruktur, mungkin semua mimpi itu akan mungkin terwujud.
Bagi mereka yang mengenal saya, pasti tahu betapa ‘dualitas’nya diri saya. Di satu sisi saya begini, tapi di lain sisi justru begitu. Salah satunya dalam menjalankan kehidupan. Di satu sisi saya sangat ingin semuanya berjalan secara sistematis, namun di lain sisi seringkali saya menganggurkan semua rencana dan menjalankan hidup secara ‘berantakan’. Semaunya saja.
Karena itu kini saya ingin yang pasti-pasti saja. Ingin hidup saya memiliki strategi yang akan saya jalankan secepat mungkin. Saya pun membuat serangkaian rencana, yang kemungkinan puncaknya akan dilaksanakan 2 tahun lagi, ketika usia saya 29 tahun. Bagi saya itu akan menjadi semacam titik tolak, untuk menjadi seseorang yang saya cita-citakan. Seseorang yang puas dengan hidupnya, yang bangga karena tidak hanya dapat memenuhi ‘mimpi wajib’nya saja, namun juga ‘mimpi sampingan’.
Saya tahu, harapan ini terlihat masih sangat mengawang-awang. Saya juga menyadari bahwa kegagalan bisa jadi akan menghadang saya, telak-telakan. Tapi saya tahu hidup saya akan lebih tidak tenang lagi bila kegagalan itu terjadi karena saya tidak melakukan apa-apa. Buka kegagalan itu namanya, namun hanya pepesan kosong.
At least I try. Paling tidak saya tidak hanya menghabiskan waktu saya dengan bermimpi dan berkhayal. Dan paling tidak saya berusaha untuk membuktikan bahwa semua mimpi ini bukan sekadar impian di siang hari bolong. Kalaupun akhirnya ’sebolong’ itu, paling tidak saya melewatinya dengan kepuasan karena telah mencoba.
Jadi, kali ini saya akan lebih taktis. Penuh perencanaan, meski saya tahu pengejewantahannya akan sangat sulit. Tapi, itu tadi, paling tidak saya mencoba.




kata mereka