from s, to m

18 08 2008

Maksudnya, from S. Psi, to M.Psi. Yup, ceritanya, saya sudah lulus. Yayyy… Akhirnya perjuangan selama 2 tahun, terbayar sudah. Sekarang bisa disebut psikolog. Bisa dibilang master juga. Hahhaaha… Segitu pentingnya sebuah gelar.

Bicara tentang gelar, beberapa hari ini saya teringat peristiwa 2 tahun lalu, ketika banyak orang mempertanyakan keputusan saya untuk berhenti kerja. Saat itu saya selalu bilang, “i just wanna be a psychologist! that’s it”. Bagi saya, saat itu yang terpenting adalah mendapat sebutan psikolog dan bisa meng-upgrade ilmu yang saya dapat ketika S1 dulu. Bahkan tetap muncul keinginan untuk kembali menjadi jurnalis, meski sudah menjadi psikolog. Idealis lah.

Bagaimana keadaannya setelah saya akhirnya lulus dan mendapat gelar tersebut? Biasa saja! Hahaha… Malah aneh, berasa gelar itu tidak penting sama sekali. Yang pasti saya jadi nggak mau ’segampang’ sebelumnya, dengan hanya mencari gelar. Kenapa? Karena saya mendapatkannya nggak mudah. Banyak sekali energi dan uang telah keluar. Dalam keadaan tertentu, saya juga ingin membantu orang banyak. Tapi, yah, perihal membantu ini memang subyektif sekali. Karena di pekerjaan dulu pun, sebenarnya saya juga membantu orang banyak, kan?!

Setelah periode kelulusan hingga sekarang, ada sejuta umat yang mengajukan pertanyaan semacam, ‘what next?’ dan ‘nggak balik lagi?’. Ada 2 perasaan yang muncul di benak saya ketika kedua pertanyaan ini diajukan.

Bila tanyanya, ‘what next?’

Terkadang saya marah dengan pertanyaan ini. Soalnya, seringkali mereka begitu memaksa dan seolah saya harus bisa menjawab saat itu juga. Seolah saya pingin teriak, “ya oloh, gue tuh baru lolos dari medan pertempuran, lho. Istirahat aja belom, masa’ udah lo tanyain dengan rencana ke depan”. Saya pernah bicara dengan seorang teman, Jane, yang bilang kalau dia serasa dipaksa untuk sudah memikirkan rencana ke depan dan bila ternyata belum kepikiran, seolah hal itu adalah kesalahan besar. Itu menyebalkan, lho!

Nah, bila tanyanya, ‘gak balik lagi?’

Pertanyaan ini yang sempat bikin gue kalang kabut. Kenapa begitu? Karena pertanyaan itu pula yang gue ajukan ke diri gue sendiri. Kalimat ‘gak balik lagi’ ini sendiri bisa bersifat luas. Antara balik lagi ke majalah lama saya itu atau balik lagi ke dunia jurnalistik secara umum. Apalagi saya sudah mendapat beberapa tawaran untuk kembali ke bidang itu. Sangat saya syukuri, tentu saja. Tapi bikin saya khawatir setengah mati. Takut salah ambil keputusan.

Tapi akhirnya saya berpikir bahwa hidup memang harus selalu begitu, selalu ada option yang harus dipilih dan diputuskan. Saya bukan lagi anak kecil yang hidupnya terpola dengan pasti. Jam segini harus bangun, lalu makan siang, lalu bobo siang, lalu mandi, lalu bermain, lalu tidur. Atau anak baru gede, yang ketika lulus SD akan melanjutkan SMP, lalu diterukan ke SMA, dan meningkat ke kuliah.

Di saat seperti ini, saya harus bisa menentukan sendiri, tanpa intervensi siapa pun, mengenai apa yang ingin saya lakukan. Dan di saat itulah akhirnya saya mengambil keputusan untuk kembali dari awal, menjadi rookie di bidang yang ‘baru’ buat saya. Bila sebelumnya, di dunia jurnalistik, saya sudah ajeg dan tahu celah yang harus disambangi agar bisa berhasil, kali ini saya harus mulai dari titik nol dan belajar berbagai hal yang memungkinkan saya untuk survive di bidang ini.

Senangnya, saya tahu saya tidak sendiri. Selain ada teman-teman dan keluarga yang mendukung, Tuhan saya di atas sana juga tampak selalu menyertai saya. Dia berikan saya begitu banyak peluang dan kesempatan untuk belajar. Dia tanamkan pemahaman pada saya mengenai arti penting sebuah pengalaman. Bahwa ilmu yang saya dapat lebih penting daripada materi yang berhasil saya raih. Uniknya, Beliau juga tidak membiarkan saya begitu saja. Sebagai penyokong materi tersebut, ia berikan saya kesempatan di bidang tulis-menulis. Intinya, saya tidak kekurangan.

Memang, di saat seperti ini, saya sering kangen dengan dunia jurnalistik seperti dulu. Terkadang ada hal-hal ‘kecil’ yang membawa memori saya ke masa-masa dulu. Seperti melihat foto, tulisan, atau cerita teman-teman yang masih memilih karir di bidang itu. Tidak hanya di bidang tulis-menulis, namun juga di dunia event organizing. Bagi mereka yang pernah bekerja di perusahaan saya terdahulu, pastilah akan belajar juga mengenai dunia panggung. Apalagi saat itu saya juga aktif di paduan suara yang sering juga manggung-manggung. Jadi saya sudah terbiasa sekali dengan kepanitiaan sebuah event.

Contohnya kemarin, saya mendapat kesempatan untuk ‘bernostalgia’ dengan showbiz seperti itu. Sayang, saya ketiban sial, dapat acara yang dikomandoi oleh EO aneh. Masalah utamanya sebenarnya klasik, yaitu adanya orang-orang yang merasa harus mengerjakan semua tugasnya sendiri.

Hmm, mengingat semua kenangan itu, terkadang ada rasa kangen yang aneh, yang bikin saya ingin ‘mencicipi’ kenangan itu lebih banyak lagi. Seperti seorang mantan perokok yang sedang mencium wangi bau rokok favoritnya. Atau seolah saya sedang jalan-jalan di sebuah toko penjual barang-barang bekas dan ketika melihat sebuah benda lama, saya berhenti sejenak untuk mengingat kejadian yang terasosiasi dengan benda tersebut.

Haaah… How time flew, ya. Dulu postingan saya selalu berisi mengenai kebingungan saat memutuskan untuk berhenti kerja, lalu dilanjutkan dengan postingan tentang kerinduan dan kesulitan beradaptasi dengan fase belajar. Kemudian, saya mulai sering posting mengenai metamorfosa zona nyaman saya yang baru dengan teman-teman kuliah, dan sekarang kembali beralih ke postingan mengenai peralihan ke fase berikutnya paska kelulusan.

Ah, jika ada waktu berlebih, saya juga pingin cerita panjang mengenai life value, sebuah term yang baru saja saya mengerti. Tapi sayang, sekarang saya mau bekerja dulu. Ada kerjaan yang sudah menanti dan harus diselesaikan minggu ini juga. Jadi pamit dulu, nanti kita ngobrol lagi, ya!

Omong-omong, sejak yudisium, saya belum libur 1 hari pun, lho! Gila!!


Actions

Information

6 responses

29 08 2008
sakuramochi

mel, kok gw gak liat lo pas gladi resik yaaaaaaaaaaaaa?
kemana aja bo???

12 09 2008
freddy Hutapea

Sukses bisa menjadi seorang Psikolog handal nantinya,
Tuhan Memberkati
JLU,
freddy_hutapea@yahoo.com
http://www.transferfactorimunity.com
http://www.biomagnetwordl.com

13 09 2008
mels

terima kasih buat doanya, bang freddy. terima kasih juga sudah mampir, ya.

2 11 2008
Sammy

nice! maju teroooooosssshhh!!!!

3 11 2008
mels

terima kasih bang sammy…

9 02 2009
dafitawon

selamat-selamat
saya juga psikolog tapi masih calon
he he he

salam kenal
http://firman.web.id

Leave a comment