Postingan ini saya ambil dari multiply saya. Awalnya ingin ditaruh di sini, namun karena saya butuh beberapa masukan, jadi saya memutuskan memasukkannya di multiply saja, karena sifat blog itu lebih aktif.
Part 1
Gue punya musuh besar, dalam arti sebenarnya. Bukan, ini bukan karena masalah percintaan, tapi tentang persaingan. Ohohoho… Berat ya, jeung.
Perseteruannya sendiri sudah berlangsung lama. Dalam versi gue, dia yang salah. Dalam versi dia? Kurang jelas juga apakah dia merasakan adanya perseteruan atau nggak. Ha! Dampak dari perseteruan itu berjalan lama sekali, dengan kadar kebencian yang semakin kumulatif. Awalnya sedih, terus kesel, terus marah, dan akhirnya benci. Benci, bentuk agresivitas yang menurut gue paling parah dan sadis.
Membenci seseorang sebenernya bukan urusan yang mudah. Menurut gue, kecuali kita memang penjahat atau psikopat, akan sulit sekali menyimpan kebencian yang bertahun-tahun. Capek. Seolah orang ini tidak memiliki nilai positif sama sekali, karena gue memandang orang ini dengan sudut pandang yang selalu negatif. Itu lama-lama nyebelin, lho!
Gue selalu tahu bahwa gue harus coba memaafkan dia, tapi itu sulit sekali. Ketika lo pernah disakitin seseorang dengan teramat sangat, kata ‘memaafkan’ adalah yang paling sulit disebut. Hingga suatu kali, actually baru beberapa minggu kemarin, gue mendapatkan semacam insight yang tanpa tedeng aling-aling (hehe), yang sepertinya terpengaruh dari cerita teman-teman gue mengenai buku-buku seperti Quantum Ikhlas atau The Secret.
Tiba-tiba saja gue berpikir gini, kalau cinta datang karena terbiasa, maka benci pun juga datang karena terbiasa. Iya nggak? Maka gue pun berpikir, kebencian gue sama orang ini terjadi karena gue selalu berusaha untuk membenci dia. Tanpa disadari gue melakukan semacam selective attention dengan hanya melihat hal-hal negatif di diri dia, dan mengabaikan hal-hal positif. Setiap hari gue selalu bilang, “tai ya ni orang”, “dasar orang gak berperasaan”, “nah, kan, dia emang sebenernya omong doang”. Dan segala kalimat negatif ini diafirmasikan berulang kali ke otak gue, sehingga muncul sebuah stigma yang negatif mengenai sang musuh ini.
Okeh, kalau gitu sekarang jadi clear apa yang menyebabkan gue benci banget sama dia: karena gue membiasakan diri untuk membenci dia dengan cara memikirkan hal-hal negatif tentang dia. Pertanyaan berikutnya adalah (cara gue ngomong mulai kayak bokap gue, hehehe…), bagaimana cara menghilangkan stigma itu?
Cukup lama berpikir, menimbang-nimbang semua teori yang gue dapat selama belajar psikologi, akhirnya gue justru kembali ke kerangka berpikir di atas, kalau selama ini gue jadi benci karena terbiasa, maka gue juga bisa membiasakan diri untuk mengasihi dia. Pemikiran yang sederhana, bukan?
Untuk mewujudkannya, gue memulai dengan mendoakan dia setiap malam. Well, sebenernya mau menghubungi dia langsung supaya bisa kembali menjalin tali silaturohim, tapi masih belum rela. Hahaha… Sejauh ini gue memilih topik doa yang ’standar’ dulu. Cuman bilang, “Tuhan, berkati dia”. Mengingat dia sedang kuliah di luar negeri, gue juga mendoakan supaya kuliahnya lancar.
Menurut gue, ini lebih realistis ketimbang berdoa, “Tuhan, ajarkan gue memaafkan dia”, karena terbukti cara ini selalu gagal. Jadi gue berpikir bahwa lebih baik gue terbiasa dulu saja mendoakan dia. Urusan gue memaafkan atau nggak, itu belakangan (karena itu adalah tujuan akhir). Tujuan yang penting saat ini adalah membiasakan diri mengucapkan sesuatu yang positif mengenai dia.
Langkah ini memang belum rutin gue lakukan. Baru sekitar 1 minggu saja, dengan intensitas yang bolong2 (kalau lagi inget aja). Hehe. Tapi ternyata berasa lho kalau sikap gue ke dia mulai positif. Bener! Dan sepertinya Tuhan pun menyetujui keputusan gue itu, karena belakangan ini terjadi beberapa hal aneh yang semuanya berhubungan orang ini. When God winks, kalau katanya Smita.
Dan gue menghargai tekad gue ini. Tentu gue belum betul-betul berhasil memaafkan dia, tapi gue akan terus mencobanya. Ini adalah mata kuliah terbaru gue dan gue ingin lulus dengan nilai memuaskan.
Karena semua orang pernah bikin salah, dan semua orang layak mendapat kesempatan kedua.
Tuhan, berkati dia hari ini ya. Semoga sekolahnya lancar, karirnya lancar, kehidupannya lancar. Amin.
Part 2
Ini kelanjutan dari postingan gue beberapa waktu lalu. Mengenai pelajaran untuk memaafkan seseorang yang gue benci. Ceritanya, kemarin gue diuji oleh Semesta. Bukan sekadar ujian biasa, tapi disuruh PKL alias praktek kerja lapangan. Kalau pakai bahasa terapi, mungkin kemarin gue diberikan flooding. Hahaha…
Saat itu semua terlihat biasa saja, gue lagi berbincang-bincang dengan mereka yang tersayang, hingga terdengar suara bariton dari luar kamar. Familiar nih suaranya, pikir gue. Dan begitu suara itu makin mendekat, jengjengjengjeeeeng, ternyata orang yang gue benci, yang ada di postingan gue waktu itu, sudah ada di depan mata gue.
Dia ternyata sudah pulang dari luar negeri. Spesial datang untuk beramah tamah. Gue salami dia, cipikacipiki. Biar nggak canggung, basi-basi dikit, mengomentari penampilannya yang jerawatan. Dia bilang, itu karena stres menjelang final exam. Gue pun tertawa dan dia balik bertanya mengenai kuliah gue.
Di benak gue, muncul pikiran untuk kembali bersikap sinis bin dingin terhadapnya. Namun gue mengingat semua doa yang selama ini sudah gue panjatkan untuknya. Teringat juga tekad gue untuk memaafkan orang ini. Secara sadar, akhirnya muncul sebuah pikiran untuk meladeni pembicaraannya dan membuka diri.
Hasilnya? Luar biasa! Gue baru menyadari kalau dia sekarang adalah orang yang sangat dewasa. Pemikirannya agak sejalan dengan gue. Sangat open-minded dan terdengar seperti tipe orang yang bisa bikin gue nyaman saat berbicara dengannya. Dia juga nggak se-kaku sebelumnya. Dia tampaknya mulai menghargai gue dan mau mendengarkan saat giliran lawan bicara bersuara.
Saking amaze-nya dengan perasaan gue saat itu, gue seolah memaksimalkan fungsi kelima indera gue untuk mengenal sosok ini. Mata gue nggak berhenti memandanginya saat bicara, telinga gue berusaha mendengar setiap pemikirannya, mulut gue bertanya dan menjawab dengan penuh ketenangan, hidung gue mencoba menyium aromanya (well, khas cowok, bau keringet. Hahaha…), dan kulit gue mencoba merasakan kehangatan suasana di ruangan itu.
Gue baru sadar kalau profil terakhir di mindset gue mengenai orang ini, yang betul-betul real (tanpa bias), adalah yang gue input bertahun-tahun lalu. Ketika perseteruan muncul, gue ternyata nggak pernah meng-update profil tersebut lagi. Kalaupun gue update, selalu berupa keterangan negatif.
Sekarang gue seolah memiliki pemahaman baru mengenai orang ini. Well, bukan berarti gue telah melupakan semua pengalaman traumatik di masa lalu, sih. Bahwa dia bersalah, ya! Gue tetap meyakini itu. Tapi bahwa dia adalah orang yang sama dengan yang menyakiti gue saat itu? Sepertinya nggak. Tampaknya dia sudah berubah, sudah lebih matang.
Dan kalau dia saja berubah, kenapa gue harus malas berubah? Kalau dia sudah mau menghargai gue, kenapa gue nggak mau memaafkan dia? Pelajaran ini yang gue tangkap dari semua kejadian ini. Ternyata Tuhan nggak cuma ingin mengajarkan gue agar menjadi seseorang yang kuat dan tahan banting (sebagaimana yang gue simpulkan ketika masalah itu muncul), tapi dia juga ingin mengajarkan gue mengenai satu hal, yang setau gue menjadi spesialisasi Beliau: memaafkan!
Dan untuk kamu, sepupu, mulai sekarang kita berteman, ya!
…
Kemarin saya bertemu seorang teman dan menceritakan tentang kisah ini. Saya lalu bilang, kalau tahun ini adalah tahun yang sangat berarti, terutama karena saya telah berdamai dengan musuh besar saya. And it feels so right!
Seolah Tuhan selama ini telah menunggu-nunggu saatnya saya memaafkan dia. Karena itu begitu akhirnya saya mau memaafkan, saya bertemu dengan banyak hal yang berdekatan dengan sosok ini. Hal-hal positif, tentunya.
Dan ketika semua itu terjadi, saya cuma bilang seperti ini sama Tuhan saya: “Maaf Tuhan, Engkau harus menunggu selama ini. Lama berat, ya? Hehehe… Maaf Tuhan, emang rada lemot, jadi nyadarnya baru sekarang. Terima kasih ya, Tuhan”.
Hehehe…
kata mereka