Saya adalah penggemar tulisan reflektif. Kenapa? Karena membaca tulisan reflektif berarti belajar mengenai hidup, berdasarkan pengalaman orang lain. Sifatnya tidak menggurui, seperti buku-buku self-help management yang banyak digemari orang. Saya tidak suka itu, karena terlalu menggunakan teknik ‘how-to‘ terhadap masalah hidup, yang sifatnya kompleks.
Dengan belajar dari pengalaman orang lain, kita bebas mengambil sari apa yang ingin kita refleksikan ke diri sendiri, dengan pengalaman kita sendiri. Setuju dengan konklusi si pembuat tulisan, silahkan terapkan. Namun bila berbeda sudut pandang, ya sudah, tetap dengan pendirian sendiri.
Ada beberapa penulis reflektif yang saya suka. Di blog, banyak sekali. Beberapa di antara mereka saya masukkan ke daftar KEPUSTAKAAN di samping halaman ini. Kalau yang terkenal dan bisa dilihat tulisannya di media, untuk wilayah Indonesia, sejauh ini ada 4. Pertama, Indra Herlambang di Free!. Kedua, Sarah Sechan waktu dia jadi wapemred Cosmogirl!. Ketiga, Meutia Kasim di MTV Trax jaman dulu. Keempat, yang masih bisa dinikmati hingga sekarang, Samuel Mulia di kolom Parodi koran KOMPAS.
Yang terakhir ini saya sukai karena tulisannya sangat jujur dan apa adanya. Sempat saya baca profil beliau di sebuah free magazine. Terlihat bahwa pengalaman hidupnya memang sangat banyak. Asam garam sudah dibabat, istilahnya. Tak heran, orang-orang seperti ini terkadang memang bisa mengetahui banyak hal mengenai kehidupan, sampai mungkin bisa menjadi pendamping Papalia, Olds, dan Feldman dalam membuat buku “Human Development” versi reflektif. Hahaha…
Minggu ini, beliau berbicara mengenai Teman Palsu. Inspirasinya dari YSL yang meninggal dunia Kamis lalu. Intisarinya mengenai orang-orang yang mengaku sebagai teman, namun hanya pada kondisi tertentu saja. Kondisi di mana kita bisa bersenang-senang. Ketika tiba waktunya kita di bawah, teman-teman jenis ini menghilang. Social climber? Hmm, agak mirip.
Membaca keseluruhan artikel, saya ikut bertanya-tanya, apakah saya adalah teman palsu bagi teman-teman saya lainnya. Setelah berpikir sebentar, namun cukup lama (apa sih???), dengan lega hati saya mengatakan, “Gak dong, gue temen asli banget. Siap sedia dalam setiap kondisi”. Tapi kemudian kata hati saya bilang begini, “Oh gitu. Lalu kenapa dong kalau dengan si itu kamu begini?”. Damn, kata hati saya ini terkadang memang kelewatan, gak bisa lihat orang lega sedikit.
Akhirnya saya menutup sesi kontemplasi dengan perasaan sedikit ‘kecut’. Mengalah, mengatakan bahwa saya teman yang asli pada cukup banyak orang, namun pada beberapa orang, saya justru menjadi teman palsu. Padahal rasa-rasanya beberapa orang tersebut berusaha menjadi teman yang asli bagi saya.
Huh, jadi sedih campur merasa bersalah. Lebih menohok lagi ketika diakhir artikel, Samuel Mulia menulis begini, “Teman palsu seperti saya maunya cuma senang-senang. Saya tak pernah berpikir-mungkin tepatnya tak peduli-kepalsuan saya sebagai teman bisa mengantar orang kehabisan napas, meredup, dan kemudian padam“.
Ouch, you got a point there, Mr. Samuel. Yah, terkadang kita hanya berpikir dari sudut pandang kita sendiri. Siapa coba yang pengen berteman dengan teman palsu? Saya gak mau! Tapi tanpa disadari, saya juga berperan sebagai teman palsu bagi orang lain. Saya melakukan sesuatu yang tidak dimaui oleh teman saya itu. Menyedihkan, isn’t it?!
Untung saya diingatkan. Paling tidak saat ini saya memiliki proyek baru yang ingin diwujudkan: menjadi teman asli bagi siapa saja. Hey, tidak ada salahnya mencoba!




kata mereka