curhat colongan

30 06 2008

aku telah kehilangan manis itu sejak para semut baru masuk ke dalam ruang.

sejak itu, aku berusaha mempersiapkan diri untuk yang terburuk.

namun ketika manis itu hanya sejarah, ternyata aku tetap belum rela.

tanya kenapa?





krisis percaya diri

10 06 2008

Saya tahu, kalau saat ini Tuhan menampilkan wajahnya di depan saya, pasti Dia bakal jutek banget. Marah, karena saya seperti gak punya sikap.

Kenapa? Karena kalau kemarin-kemarin saya mewek abis karena bingung mau melakukan apa setelah tahap ini selesai, eh begitu hari ini Dia beri tahu apa yang harus saya lakukan, justru saya jiper setengah mati.

Menyambung bahasan sebelumnya, jadi saya ditawari sebuah tiket ke New York. Sangat menyenangkan bukan? Ini betul-betul mimpi yang terwujud. Nah, masalahnya adalah saya ditawari untuk tinggal di Manhattan! Super keren bukan? Memang! Jadi di mana letak masalahnya?

Masalahnya adalah… saya merasa tidak pantas untuk tinggal di Manhattan. TInggi sekali, saya takut tidak sanggup. Apalagi selama tinggal di Manhattan itu, saya akan diliput oleh sebuah stasiun tivi (ibaratnya begitu lah). Dengan kata lain, selain saya harus menjalani sesuatu yang lebih ‘tinggi’ dari harapan saya, saya juga dituntut untuk melakukan sesuatu itu dengan sebaik-baiknya, karena diperhatikan.

Saya stres sekali. Khawatir. Takut gak sanggup. Merasa gak percaya diri.

Hah, saya yakin kalau Tuhan pasti kesal sekali sama saya. Maunya apa sih ini anak? Mungkin begitu yang dia bilang.

Maaf Tuhan akuuuu, tapi aku beneran takuuuuuttt…. Takut memalukan, takut menyakiti orang lain, takut mengecewakan.

Tapi kalau memang Kau mau aku melakukan hal ini, tolong sertai aku, Tuhan Yesus. Jangan biarkan aku sendiri. Temenin aku, berikan kepercayaan diri yang mantap.

Karena cuma Engkau tempatku berharap, Bapaku…

Percaya diri, mels. Percaya diri. Di dunia ini gak ada yang gak mungkin!





seberapa yakin?

8 06 2008

Bagaimana caranya yakin akan suatu keputusan?

Saat ini saya sedang dilematis, terjebak pada 2 pilihan. Menyebalkan, karena masalah ini seharusnya tidak usah saya pikirkan saat ini, tapi sayangnya begitu mengganggu pikiran saya. Saya sudah mengambil keputusan, sih. Namun keputusan tersebut belum dideklarasikan. Alasannya? Saya belum yakin dengan keputusan tersebut.

Masalahnya dianalogikan seperti ini. Di depan saya tersedia sebuah tiket travelling ke Bandung. Dari dulu saya selalu suka Bandung. Karenanya saya tahu pasti saat-saat saya berada di Bandung tersebut akan menyenangkan. Akan ada keuntungan yang saya dapat ketika saya memutuskan mengambil tiket ke Bandung tersebut.

Namun, di lain hal saya juga sedang berharap mendapatkan tiket ke New York, kota impian saya. Belum tahu pasti apakah saya akan mendapatkan tiket tersebut, namun saya sudah pernah kenalan dengan seseorang yang bisa jadi akan menawarkan saya ke sana. Jadi modalnya sudah ada, namun belum pasti terjadi dan belum ada tiket nyata di depan saya.

Masalahnya, jika saya mengambil tiket ke Bandung sekarang, maka saya tidak akan punya waktu yang cukup untuk melobi kenalan yang bisa membawa saya ke mimpi New York itu. Sementara bila saya memutuskan untuk menolak tiket ke Bandung tersebut, saya khawatir sedang berada dalam dunia khayal dan melewatkan satu kesempatan besar. Meski jaraknya hanya di Bandung, namun tidak setiap hari saya mendapatkan sponsor untuk bebas berfoya-foya seperti itu. Bisa jadi, hanya kali ini saja saya ditawarkan kesempatan itu.

Pemikiran terlalu rumit seperti ini yang mengganggu saya. Apalagi saya juga tidak mau membuat si pemberi tiket menuju Bandung itu kecewa. Namun saya juga tidak mau membuat diri saya menyesal luar biasa, karena tidak mengusahakan agar mimpi besar saya terwujud.

Saya bingung sekali. Terlalu cemas, padahal saya sangat sadar bahwa kecemasan itu bisa membunuh saya perlahan-lahan.

Sejauh ini, saya memutuskan untuk mengusahakan mimpi New York menjadi nyata. Namun entah kenapa, saya tidak yakin betul. Seperti takut membuat kesalahan.

Tuhan aku, untuk kesekian kalinya. bantu aku untuk bertahan pada keputusanku . Beri tahu kalau aku salah mengambil langkah.

Amin.





tidak murni teman

8 06 2008

Saya adalah penggemar tulisan reflektif. Kenapa? Karena membaca tulisan reflektif berarti belajar mengenai hidup, berdasarkan pengalaman orang lain. Sifatnya tidak menggurui, seperti buku-buku self-help management yang banyak digemari orang. Saya tidak suka itu, karena terlalu menggunakan teknik ‘how-to‘ terhadap masalah hidup, yang sifatnya kompleks.

Dengan belajar dari pengalaman orang lain, kita bebas mengambil sari apa yang ingin kita refleksikan ke diri sendiri, dengan pengalaman kita sendiri. Setuju dengan konklusi si pembuat tulisan, silahkan terapkan. Namun bila berbeda sudut pandang, ya sudah, tetap dengan pendirian sendiri.

Ada beberapa penulis reflektif yang saya suka. Di blog, banyak sekali. Beberapa di antara mereka saya masukkan ke daftar KEPUSTAKAAN di samping halaman ini. Kalau yang terkenal dan bisa dilihat tulisannya di media, untuk wilayah Indonesia, sejauh ini ada 4. Pertama, Indra Herlambang di Free!. Kedua, Sarah Sechan waktu dia jadi wapemred Cosmogirl!. Ketiga, Meutia Kasim di MTV Trax jaman dulu. Keempat, yang masih bisa dinikmati hingga sekarang, Samuel Mulia di kolom Parodi koran KOMPAS.

Yang terakhir ini saya sukai karena tulisannya sangat jujur dan apa adanya. Sempat saya baca profil beliau di sebuah free magazine. Terlihat bahwa pengalaman hidupnya memang sangat banyak. Asam garam sudah dibabat, istilahnya. Tak heran, orang-orang seperti ini terkadang memang bisa mengetahui banyak hal mengenai kehidupan, sampai mungkin bisa menjadi pendamping Papalia, Olds, dan Feldman dalam membuat buku “Human Development” versi reflektif. Hahaha…

Minggu ini, beliau berbicara mengenai Teman Palsu. Inspirasinya dari YSL yang meninggal dunia Kamis lalu. Intisarinya mengenai orang-orang yang mengaku sebagai teman, namun hanya pada kondisi tertentu saja. Kondisi di mana kita bisa bersenang-senang. Ketika tiba waktunya kita di bawah, teman-teman jenis ini menghilang. Social climber? Hmm, agak mirip.

Membaca keseluruhan artikel, saya ikut bertanya-tanya, apakah saya adalah teman palsu bagi teman-teman saya lainnya. Setelah berpikir sebentar, namun cukup lama (apa sih???), dengan lega hati saya mengatakan, “Gak dong, gue temen asli banget. Siap sedia dalam setiap kondisi”. Tapi kemudian kata hati saya bilang begini, “Oh gitu. Lalu kenapa dong kalau dengan si itu kamu begini?”. Damn, kata hati saya ini terkadang memang kelewatan, gak bisa lihat orang lega sedikit.

Akhirnya saya menutup sesi kontemplasi dengan perasaan sedikit ‘kecut’. Mengalah, mengatakan bahwa saya teman yang asli pada cukup banyak orang, namun pada beberapa orang, saya justru menjadi teman palsu. Padahal rasa-rasanya beberapa orang tersebut berusaha menjadi teman yang asli bagi saya.

Huh, jadi sedih campur merasa bersalah. Lebih menohok lagi ketika diakhir artikel, Samuel Mulia menulis begini, “Teman palsu seperti saya maunya cuma senang-senang. Saya tak pernah berpikir-mungkin tepatnya tak peduli-kepalsuan saya sebagai teman bisa mengantar orang kehabisan napas, meredup, dan kemudian padam“.

Ouch, you got a point there, Mr. Samuel. Yah, terkadang kita hanya berpikir dari sudut pandang kita sendiri. Siapa coba yang pengen berteman dengan teman palsu? Saya gak mau! Tapi tanpa disadari, saya juga berperan sebagai teman palsu bagi orang lain. Saya melakukan sesuatu yang tidak dimaui oleh teman saya itu. Menyedihkan, isn’t it?!

Untung saya diingatkan. Paling tidak saat ini saya memiliki proyek baru yang ingin diwujudkan: menjadi teman asli bagi siapa saja. Hey, tidak ada salahnya mencoba!





tentang mimpi

6 06 2008

Barusan baca di sini: http://www.pandji.com/i-remember/. Membicarakan tentang mimpi. Katanya mimpi itu gak bisa salah. Karena mimpi adalah gairah. Obsesi seseorang yang mungkin tidak sadari.

Hmm, bisa jadi. Belakangan saya juga sedang mimpi terus. Lebih tepatnya berkhayal. Ingin hidup saya seperti ini, dan gak seperti itu. Ingin nuansanya lebih begini, dan gak begitu.

Pertanyaannya, mungkin terwujudkah? Atau itu cuma khayalan tingkat tinggi?

Kemarin dulu saya baca iklan serial Eureka di tivi. Tulisan iklannya, “Job=life-dream”. Bekerja berarti hidup tanpa mimpi. Begitu kira2. Saat saya lemparkan bahasan itu di Multiply, teman saya bertanya hasil apa yang didapat kalau formulanya life+dream. Sambil tertawa, saya menjawab, “life+dream=in your dream”.

Saya jadi lucu sendiri melihatnya. Lucu miris tapinya. Bagaimana bisa kalimat pesimis seperti itu muncul dari mulut saya. Tapi memang belakangan ini otak saya sering berperang mempeributkan siapa pemenang dari pertarungan abadi antara idealisme dan realitas.

Berbicara tentang idealisme, menurut saya berbicara mengenai mimpi. Namun berbicara mengenai realitas, menurut saya tidak selalu berbicara mengenai mimpi. Sayangnya kita hidup di dunia nyata, tokh? Di dunia yang mana realitas memegang dominasi.

Jadi bukannya ingin pesimis. Hanya saja, saya khawatir bila di masa depan nanti, realitas dalam diri saya berhasil memenangkan pertarungan dan saya tidak berhasil memenangkan secuil saja dari idealisme tersebut.

Ah, seharusnya tidak usah khawatir akan masa yang belum terjadi, ya?!





byebye blackbird

1 06 2008

Saya tidak sesibuk yang anda kira. Meski aktivitas memang begitu banyak, namun bila saya rasa pertemuan dengan anda memang cukup berarti, maka akan saya usahakan sedemikian rupa. Susahnya, saya tidak selalu mau bela-belain mengusahakan untuk bertemu. Untuk kasus yang terakhir ini, biasanya terjadi karena 3 kemungkinan. Satu, karena saya memang betul2 tidak bisa datang. Dua, karena saya merasa pertemuan itu tidak terlalu berarti. Tiga, karena saya tidak mau ketemu anda.

Ada apa dengan alasan ketiga? Hmm, bisa banyak jawabannya. Namun dengan seorang (almost) mantan sahabat, tampaknya saya tidak mau bertemu karena dia seakan sudah melupakan saya. Buat apa dipaksakan?!

Tidak selamanya kita bisa ‘memegang’ semua hal yang ada di sekitar kita. Tidak selamanya juga kita bisa menjalin hubungan hangat, bahkan kepada mereka yang dulunya (dan sebenarnya sampai sekarang) kita anggap sebagai sahabat berpikir terbaik sekalipun.

Ciao, kolega.