Kau, yang jasadnya telah mati,
takkan pernah kubiarkan pergi.
Meski kutahu, hanya mungkin terjadi,
di dalam hati.
Lagi-lagi saya mencoba membuat puisi. Inspirasinya muncul waktu lagi mandi tadi, karena sepanjang kuliah tadi saya memikirkan mengenai sebuah topik: apa yang terjadi bila di dalam sebuah hubungan yang kohesif, salah seorang personilnya harus pergi?
Bingung? Saya beri gambaran simpel saja, pemikiran ini muncul sejak saya melihat kejadian meninggalnya Sophan Sophiaan, yang menyisakan seorang Widyawati sendiri. Oke, terlalu jauh kalau lompat ke sana. Saya coba kembali ke kejadian beberapa hari ini dulu.
Ceritanya di mata kuliah Family Therapy, kami disuruh mewawancarai keluarga dengan anggota berkebutuhan khusus. Sama seperti ketika saya sedang mengambil kasus, ada banyak cerita beserta pelajaran berharga yang saya dapatkan dari tugas ini. Mulai dari seorang ibu yang menikahi seorang lelaki nyaris psikopat, yang selalu sukses menggaet perempuan manapun saking charming-nya, sehingga seringkali selingkuh dan mengakibatkan hubungan dalam keluarga menjadi tidak hangat. Hasilnya? Salah seorang anaknya menjadi pemakai drugs, yang sampai membawanya ke gangguan schizophrenia!
Ada lagi cerita seorang ibu muda sukses, yang ternyata di rumahnya harus berhadapan dengan seorang kakak yang menghadapi gangguan kepribadian. Di cerita lain, seorang kakak merawat adik kesayangannya yang terkena schizophrenia setelah mendapat kejadian traumatik, saat dilempari batu karena menjadi guru ‘asal Indonesia’ di zaman pembebasan Timor Timur. Jeez.
Kasus kelompok saya sendiri mengenai seorang ibu yang memiliki anak dengan gangguan ADHD, sementara ia memiliki konflik peran karena di lain pihak harus bekerja. Kebayang susahnya? Membingungkan, pastinya. Di antara semua cerita itu, yang menarik perhatian saya justru kasus keluarga yang dibahas Peggy, Mas Ribut, dan Dhika. Keluarga itu adalah keluarga dari suami/ayah/kakek yang menderita stroke.
Yang membuat saya tidak bisa mengalihkan perhatian dari cerita ini adalah mengenai figur ayah yang dianggap sempurna. Ketiga cucu menganggapnya sebagai idola, sang istri bersyukur karena suami memperbolehkannya tetap kuliah dan bekerja hingga tua, yang mengakibatkan sang ayah harus sering menjaga anak-anaknya ketika ibu harus bekerja lembur.
Singkat kata, menurut saya, sang kakek telah menjadi sosok ‘hero‘ di dalam keluarga tersebut. Karenanya saya sibuk bertanya mengenai bagaimana keadaan keluarga tersebut ketika sang pahlawan pergi? Jawaban yang diberikan kelompok: mereka masih berusaha beradaptasi, meski belum sepenuhnya berhasil.
Mendengar itu, hati kecil saya cenderung tidak setuju. Tidak mungkin semudah itu. Pasti sulit.
Hal inilah yang akhirnya membawa ingatan saya ketika mandi tadi kepada kejadian kecelakaan yang dialami Alm. Sophan Sophiaan. Saya membayangkan keadaan Widyawati ketika sang suami pergi. Well, mungkin bisa saja Anda mengatakan bahwa setiap orang juga pasti mengalami ditinggal mati. Tapi yang jadi perhatian saya justru bagaimana kepergian suami tersebut mengganggu kesehatan mental istri, terutama ketika hubungan keduanya begitu erat saat sebelum kematiaan.
Ke mana-mana berdua, selalu mengekspresikan emosi, dan kebutuhan afeksi sangat terpenuhi satu sama lainnya. Bahkan saya kok cenderung merasa keduanya saling bergantung satu sama lain. Apalagi dengan sikap yang (katanya) keras dari Sophan. Kebayangnya saya, kepala keluarga ini menjadi salah satu tokoh utama saat anggota keluarganya mengambil keputusan. Itu kebayangnya saya, yang cuma membaca beritanya melalui media. Maaf sekali kalau salah.
Tapi, di luar kemungkinan benar atau salahnya pendapat saya di atas, saya kok sedikit yakin kalau keluarga ini memang betul-betul kohesif. Kuat sekali. Karena itu ketika salah satu ‘anggotanya’ pergi, saya yakin masa ini sangat sulit dijalani. Ada kehilangan, ada rasa tidak biasa, ada rasa ingin kembali ke masa lalu, ada rasa sedih yang seperti tertusuk-tusuk, dan yang sering terjadi: rasa menyesal. Mengutip kalimat Widyawati ketika tahlilan keluarganya (seingat saya), “Saya menyesal karena tidak membalas ucapan cinta terakhir dari Sophan. Terakhir itu dia bilang ‘i love you, mom‘, tapi saya diam saja. Padahal biasanya saya membalas”.
Saya sih sangat bisa berempati terhadap perasaan istri di sini. Apalagi di saat-saat terakhirnya ia tidak naik motor bersama suami. Lagi-lagi kebayangnya saya, mungkin ada berbagai kalimat yang muncul di benak, yang kesemuanya diawali dengan kata, “andai saja”. Salah satunya mungkin, “Andai saja saya tetap naik motor bersamanya, mungkin saya bisa memberi peringatan padanya agar berhati-hati”.
Hal itu wajar saja terjadi. Saya siap mengkonfrontir siapa pun orang yang justru menilai persepsi sedih seperti itu sebagai sebuah kelemahan. Nyatanya, dalam berbagai literatur mengenai grieving process yang saya baca, sebagian besar orang memang akan melewati fase penyesalan. Namun di suatu titik, idealnya mereka bisa kembali bangkit. Apalagi bila keluarga yang ditinggalkan juga sangat dekat, sehingga dapat saling mendukung satu sama lainnya. Karena itu, saya meyakini keluarga Sophiaan dan keluarga yang diwawancara oleh teman saya tadi, akan dapat melewati fase-fase menyulitkan dengan baik.
Semua pemikiran dan kesimpulan di atas, muncul ketika saya sibuk membersihkan badan saya di kamar mandi. Saking sibuknya otak saya berpikir, sampai tidak sadar kalau kegiatan mandi saya sudah sampai pada tahap membilas sabun di badan. Terkena air dingin, saya seperti terhentak agar kembali ke ‘daratan’. Anehnya, hentakan ini justru menimbulkan satu pertanyaan bagi saya: mengingat keluarga saya cukup juga kohesif, maka bagaimana bila hal yang sama terjadi pada hidup saya, ketika salah satu orang tercinta saya pergi selamanya?
Sambil mengeringkan badan dengan handuk, saya memikirkan jawabannya dengan sangat keras. Sampai sekarang saya belum dapat jawaban yang pasti, namun satu-satunya hal yang terpikir oleh saya adalah seperti yang saya tuangkan pada puisi di atas.
Bisa jadi saya tidak akan merelakannya, tapi mudah-mudahan saya tetap sadar kalau hal itu hanya bisa terjadi di dunia khayal saya saja. Mudah-mudahan tidak sampai mengganggu kesehatan mental saya sampai ke taraf yang serius!
And actually, i really hope the last question won’t be happened in my life.




kata mereka