Hari ini si bibi, asisten rumah tanggaku, akan pulang (baca: berhenti kerja). Menurut ibu, penggantinya sudah ada dan mudah-mudahan lebih baik. Hmm, bukan berarti si bibi tidak baik kerjanya. Dalam sudut pandang tertentu, ia adalah juru masak yang jempolan (saya suka sekali sambal buatannya) dan rajin. Hanya saja ia sering mengeluh dan membantah perkataan ayah dan ibu saya. Bayangkan, ayah saya pun dibantah juga!
Ayah dan ibu sebenarnya mencoba untuk sabar. Tapi ketika satu pihak berusaha menenangkan diri, justru si bibi sendiri yang datang ke ibu dan minta ke luar. Katanya badannya pegal dan jam istirahatnya sering terganggu karena harus menunggu anggota keluarga pulang malam. Usut punya usut, ternyata si bibi menganggap jam 5 sore sudah masuk ke jam istirahatnya. Setelah itu, ia hanya boleh diganggu oleh kegiatan masak makanan malam dan cuci piring. Selain itu, ia menilainya sebagai tindakan mengganggu-jam-istirahat.
Wah, kalau begini susah juga ya. Memang sih, saya setuju kalau asisten rumah tangga itu harusnya punya jam kerja. Tapi kan itu palingan juga permintaannya gak heboh2 amat. Palingan juga minta bikinin air panas. That’s it.
Saya bilang ke ibu, kalau sudah begini rasanya jadi malas. Saya suruh tidak usah pakai asisten rumah tangga lagi aja, tapi kayaknya memang sulit ya. Akhirnya ibu cari penggantinya. Sudah dapat, dan akan masuk hari ini.
Inti cerita bukan membicarakan mengenai kelakuan asisten rumah tangga saya. Justru saya sedang mengalami ‘aneh mode on’, yang selalu terjadi setiap asisten rumah tangga saya yang lama ingin pulang atau berhenti kerja.
Ada perasaan kehilangan, ketakutan akan perubahan, dan kesedihan. Segiling apapun kelakuan mereka, toh mereka sudah bersama keluarga saya selama beberapa saat. Jadi rasanya gimanaaa gitu ketika mereka akan pamit pulang.
Mengatasi ‘aneh mode on’ itu, sebenarnya saya sudah berencana untuk tidak di rumah hari ini. Sengaja pingin balik ke kost, jadi tidak mengalami momen pamit-pamitan itu dan begitu pulang hari Rabu, langsung kenalan aja sama si bibi baru.
Eh, taunya jadual pertemuan saya dengan klien di Sawangan dibatalkan, sehingga saya tidak harus balik ke kost hari ini. Jadilah saya harus melakukan momen perpisahan itu.
Tadi ibu suruh saya ke luar kamar, karena kamar saya mau dibersihkan si bibi. Habis ini, beliau mau langsung pulang dan ibu akan mengambil asisten rumah tangga pengganti di agensi.
Hah, saya jadi wagu sekali perasaannya.
Aneh mode sudah benar-benar ‘on’ saat ini.




kata mereka