kebanyakan minat

10 04 2008

Salah satu keputusan paling benar yang saya lakukan di awal-awal tahun ini adalah memilih Klinis Dewasa sebagai jurusan minor saya. Meski awalnya sempat super ragu, tapi akhirnya saya merasakan sendiri betapa saya telah memilih keputusan yang sangat, sangat benar.

Ada 2 mata kuliah. Pertama, tentang family therapy dan yang kedua tentang group process. Dan saya menyukai keduanya. Betul-betul sesuai dengan yang saya harapkan ketika pertama kali melihat pilihan-pilihannya di Siak-NG.

Selain sesuai dengan pilihan, saya juga merasa pikiran semakin terbuka. Melihat peluang di luar yang selama ini saya pelajari. Bukan berarti membelot, tetapi saya hanya tidak ingin minat-minat terpendam jauh akibat diri saya terlalu memasang batasan-batasan disiplin ilmu. Memang saya lulus dari Klinis Anak, namun bila saya tertarik dengan terapi lain, di luar yang saya pelajari, tidak salah dong?!

Dua hari lalu saya mendengar kuliah dari dosen saya, yang merupakan konselor keluarga dan pernikahan, mengenai bagaimana interaksi keluarga berpengaruh terhadap kondisi psikologis seseorang. Menarik juga mendengarkan gerak-gerik terapis keluarga menangani sebuah masalah. Meski belajarnya di ‘ruang’ Klinis Dewasa, tapi saya melihat aplikasi pelajaran ini sangat nyata di lingkup Klinis Anak. Jadi tertarik!

Nah, tadi, saat makan siang, saya mengobrol singkat dengan Mbak Anna, yang saya tahu sedang memusatkan diri pada kaum Lansia (lanjut usia). Ngobrol panjang, jadi teringat ompung saya dulu. Betapa saya ingin punya ompung yang lengkap, seperti teman-teman lainnya. Betapa saya berubah menjadi sentimentil, membayangkan mereka yang bersiap-siap menuju kematian.

“Justru hal terpenting yang harus diobrolkan dengan lansia adalah bagaimana mereka bisa menerima kenyataan bahwa ajal mereka sudah dekat. Beberapa ada yang nggak bisa terima,” kata Mbak Anna.

“Nggak bisa terima, berhubungan dengan life satisfaction ya mbak,” tanya saya.

“Oh iya. Tentu aja. Seru kok, mel. Apalagi di Indonesia belum ada klinik khusus Lansia yang psikologi terpadu,” Mbak Anna melanjutkan.

Saya diam. Berpikir. Akhirnya ketika jalan pulang dari kantin, saya bilang ke Ine begini, “Ne, kayaknya gue tertarik juga sama Lansia”.

Ine nggak bilang apa-apa. Justru suara dalam hati saya yang nyeletuk, “Duh, mel. Lo kebanyakan maunya. Awalnya remaja, terus anak, terus keluarga dan dewasa muda, terakhir lansia. Kebanyakan minat, lo!”.

Saya hanya tersenyum miris, sambil bilang, “Yah, namanya juga plinplan”.

Tapi, suara hati belahan lainnya nyeletuk, “Mel, mungkin bukan kebanyakan minat. Hanya saja lo menyintai perilaku manusia. Rentang usia manapun itu”.

Mungkin juga. Bukankah itu alasan utama saya bertahan di bidang ini? Psikologi: Ilmu tentang perilaku manusia.

Manusia, makhluk yang menurut Tuhan paling tinggi derajat dan kesempurnaannya, tapi paling sering bermasalah dan bikin pusing.

Seperti produk-produk Apple. Dari segi branding dan tampilan sangat istimewa, tapi tidak jarang bermasalah dan justru sulit direparasi.

Menarik kan, manusia itu?!


Actions

Information

2 responses

10 04 2008
jali

gue pengen ngucapin makasih aja mel kalo lo menganalogikan produk-produk apple seperti manusia yang istimewa tapi sering bermasalah dan bikin pusing. yang bikin heran, kenapa kita (atau gue tepatnya) tetep mencintai mereka (manusia dan apple) dengan segala permasalahannya, well…

mungkin jawabannya gue pake analogi biar lebih ribet lagi.
jawaban yang sama dari pertanyaan kenapa kita lebih doyan tinggal di indonesia (jakarta) dengan segala kerusakannya daripada tinggal di negeri orang dengan segala keenakannya…

gue yakin jawaban yang muncul adalah jawaban yang emosional dan sentimentil, bukan begitu?

salam,
apple-user sepanjang masa

18 05 2008
mels

jaaall….

gue masih menunggu acara ngobrol-ngobrol tentang teori underground itu looooh.

hehe…

Leave a comment