hidup secara naif

30 04 2008

kenapa kuda lumping makan beling?

Ceritanya saya baru saja beli buku yang dikarang oleh Naif, band Indonesia favorit saya (sejauh ini). Awalnya hanya membaca imel kiriman Mas @dib yang promosiin tentang album terbaru Naif yang dijual dengan metode baru, yaitu melalui gimmick Rollingstone Indonesia edisi mei ini. Di imel itu mas adib kasih link ke multiply naif dan setelah happy blogwalking, sampailah saya pada berita mengenai terbitnya buku berjudul “Kenapa Kuda Lumping Makan Beling? dan 61 Pertanyaan Ngaco Lainnya Dijawab oleh NAIF“, terbitan Bukune itu.

Melihat penerbitnya, saya sih kebayang langsung buku-buku ringan, yang tujuannya untuk ngelawak. Contohnya ya buku-buku Raditya Dhika ‘lah. Gak terlalu suka, actually. Tapi berhubung ini Naif, maka saya beli.

Setelah dibaca-baca, komentarnya cuman 1: nih buku harus dibaca kalau kita beneran lagi gak ada kerjaan banget. Hahaha… Karena kalau terlalu serius bacanya, bisa-bisa gondok sendiri melihat betapa gak nyambungnya jawaban yang diberikan David, Jarwo, Emil, dan Pepeng itu. Coba baca cuplikannya di www.bukune.com deh.

Tapi kalau rilek (gak pake ’s’), kemungkinan besar Anda akan setuju dengan saya, bahwa para personil band ini sangat pintar. Well, kalau tidak mau se-memuji itu, paling tidak mereka bisa diberi cap sebagai ‘orang yang enak diajak kontemplasi’ lah (Well, sebenernya cap ini juga udah kebayang sejak gue mendengarkan lirik-lirik mereka yang cerdas, sih).

Tidak percaya? Coba baca ini. Salah satu bagian yang paling saya suka.


APA ARTI HIDUP BAGI KALIAN?

David

Hidup artinya sesuatu yang tidak mati. sesuatu yang menyala, sesuatu yang bergerak. kalau lagi mati lampu lama, kemudian menyala, kita akan berteriak, “Hidup!” Kalau lagi pertandingan PSSI melawan MU, kita menyemangati PSSI dengan berteriak, “Hidup PSSI!” Hidup itu sesuatu yang menyenangkan. Hidup itu karunia yang tiada duanya yang diberikan oleh Tuhan. Hidup itu susah senang, baik buruk, kalau kita memahaminya, itu terasa indah. jadi hidup bagi saya indah. Hidup itu indah.

Jarwo

Gila, ini pertanyaan susah dan filosofis banget yah?! Hm, gue jadi bingung mau jawab bagaimana. Menurut gue, arti hidup adalah siap-siap mati. Kita ini diciptakan oleh Tuhan dan yang pasti akan kembali lagi kepada-Nya. Jadi menurut gue hidup itu adalah untuk mempersiapkan bekal kita nanti sebelum kematian kita tiba. Jadinya ya hidup itu bersiap-siap untuk mati. Yah, kurang lebih gitu deh. Kalau menurut loe, jawabannya apa? Bantuin gue ngejawabnya dong!

Emil

Arti hidup menurut gue adalah perantara antara kelahiran dan kematian. Hidup juga berarti waktu yang diberikan kepada kita untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan setelah kematian.

Pepeng

Dari lahir sampe mati kita itu dipenuhi dengan berbagai masalah. Tapi di situlah justru seninya hidup. Gimana kita harus bisa menyelesaikan segala permasalahan kita. Hidup itu adalah sebuah perjalanan menuju kematian. Makanya hidup itu harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Jangan jadi orang males, jangan jadi orang jahat. Jangan jadi orang yang setelah mati jadi nothing atau dikenang orang dengan segala keburukannya. Jangan loe nyari mati, karena mati akan datang dengan sendirinya kepada kita suatu saat nanti.

Wah, saya suka sekali dengan jawaban David di sini. Baru kebayang, iya juga ya, kenapa kalau bersorak kita harus berteriak “Hidup”. Waktu SBY terpilih jadi presiden, saya sibuk teriak, “Hidup SBY”. Hahahaha… Lame! Berarti kata ‘hidup’ itu menggambarkan harapan dan, seperti yang David bilang, sesuatu yang menyenangkan.

Saya juga setuju dengan jawaban lain yang mengatakan hidup adalah persiapan menuju kematian atau bahwa hidup adalah perantara dari kelahiran menuju kematian. Dari dulu saya setuju itu. Bagi saya manusia memiliki beberapa fase dalam keberadaannya. Dimulai dari kelahiran, kehidupan, dan kematian. Entah apakah ada fase lain, selain ketiga itu. Barangkali sebelum kelahiran dan sesudah kematian ada fase-fase lagi. Yang pasti, semua fase itu harus dijalani dan bersifat mutlak. Saya tidak percaya pendapat yang mengatakan fase manusia terjadi di luar ketiga (dan mungkin tambahan) fase itu. Misalnya dengan urutan yang berbeda-beda atau ada yang terlongkap. Maaf, itu tidak saya percayai.

Karena fase itu wajib dijalani, maka terserah manusia ingin menjalani fase itu seperti apa. Kalau saya sih memilih untuk menjalaninya dengan senyaman mungkin. Toh, menurut saya, Tuhan itu sangat pintar. Dia tahu fase kehidupan ini bisa jadi sangat panjang (dan berpotensi untuk jadi menyebalkan), karena itu dia menciptakan tugas-tugas perkembangan yang berbeda seiring dengan usia. Misalnya, sebagai anak bayi, dengan semangatnya kita belajar jalan. Lalu ketika masuk sekolah, kita belajar bertemu dengan teman-teman baru dan belajar membaca. Ketika jadi anak remaja, kita ‘menikmati’ serunya puber. Lalu saat mulai dewasa muda, mulai belajar tentang cari duit dan berkeluarga. Bahkan saat lansia pun, kita masih bisa semangat melihat cucu-cucu mulai beranjak dewasa.

Sesungguhnya, path manusia sudah dirancang semenarik mungkin. Banyak memang rancangan yang dibikin dengan beberapa intrik, yang membuat kita ‘nge-gas pol’, saking stresnya. Tapi balik lagi ke prinsip pertama, hidup itu adalah fase yang harus dijalani. Meski rese’, tapi kalau kita menjalaninya dengan menyenangkan dan ‘hidup’, maka idealnya sih bakal enak. Yah, kayak sekolah aja deh. Packaging-nya bikin males. Tapi kalau udah ketemu temen yang asik, terus set mind otak udah ngebayangin betapa bergunanya ini ilmu yang dipelajari, maka dengan sendirinya juga sekolah jadi menyenangkan.

Hehehe.. Jadi panjang. Intinya? Jalanin hidup yang kita punya dan gak ada salahnya beli buku ini. Hahaha. Cukup seru kok buat mengisi waktu luang.

Last words, coba simak jawaban Pepeng waktu ditanya, “KENAPA ORANG PERCAYA SAMA TUHAN PADAHAL BELUM PERNAH MELIHAT SAMA SEKALI?”

Gini deh, simpel aja. Semua hal pasti ada yang bikin. Komputer ada yang bikin, meja ada yang bikin, uang ada yang bikin. Semua itu bikinan manusia. Nah, yang bikin manusia siapa? Yang bikin alam semesta ini siapa? Yang pasti sesuatu yang maha kuasa banget! Siapa yang lebih berkuasa dari Tuhan? Yang kita kenal dalam pelajaran agama kita. Mau contoh konkrit lagi? Loe bisa baca tulisan gue ini, loe tahu kan pasti ada yang ngetik ini? Padahal loe enggak ngeliat ada yang ngetik ini. Tapi kenapa bisa ada ketikan ini? Tuh, pikir aja sendiri.

Damn, kalau dia bikin blog, pasti seru.





aneh mode on!

28 04 2008

Hari ini si bibi, asisten rumah tanggaku, akan pulang (baca: berhenti kerja). Menurut ibu, penggantinya sudah ada dan mudah-mudahan lebih baik. Hmm, bukan berarti si bibi tidak baik kerjanya. Dalam sudut pandang tertentu, ia adalah juru masak yang jempolan (saya suka sekali sambal buatannya) dan rajin. Hanya saja ia sering mengeluh dan membantah perkataan ayah dan ibu saya. Bayangkan, ayah saya pun dibantah juga!

Ayah dan ibu sebenarnya mencoba untuk sabar. Tapi ketika satu pihak berusaha menenangkan diri, justru si bibi sendiri yang datang ke ibu dan minta ke luar. Katanya badannya pegal dan jam istirahatnya sering terganggu karena harus menunggu anggota keluarga pulang malam. Usut punya usut, ternyata si bibi menganggap jam 5 sore sudah masuk ke jam istirahatnya. Setelah itu, ia hanya boleh diganggu oleh kegiatan masak makanan malam dan cuci piring. Selain itu, ia menilainya sebagai tindakan mengganggu-jam-istirahat.

Wah, kalau begini susah juga ya. Memang sih, saya setuju kalau asisten rumah tangga itu harusnya punya jam kerja. Tapi kan itu palingan juga permintaannya gak heboh2 amat. Palingan juga minta bikinin air panas. That’s it.

Saya bilang ke ibu, kalau sudah begini rasanya jadi malas. Saya suruh tidak usah pakai asisten rumah tangga lagi aja, tapi kayaknya memang sulit ya. Akhirnya ibu cari penggantinya. Sudah dapat, dan akan masuk hari ini.

Inti cerita bukan membicarakan mengenai kelakuan asisten rumah tangga saya. Justru saya sedang mengalami ‘aneh mode on’, yang selalu terjadi setiap asisten rumah tangga saya yang lama ingin pulang atau berhenti kerja.

Ada perasaan kehilangan, ketakutan akan perubahan, dan kesedihan. Segiling apapun kelakuan mereka, toh mereka sudah bersama keluarga saya selama beberapa saat. Jadi rasanya gimanaaa gitu ketika mereka akan pamit pulang.

Mengatasi ‘aneh mode on’ itu, sebenarnya saya sudah berencana untuk tidak di rumah hari ini. Sengaja pingin balik ke kost, jadi tidak mengalami momen pamit-pamitan itu dan begitu pulang hari Rabu, langsung kenalan aja sama si bibi baru.

Eh, taunya jadual pertemuan saya dengan klien di Sawangan dibatalkan, sehingga saya tidak harus balik ke kost hari ini. Jadilah saya harus melakukan momen perpisahan itu.

Tadi ibu suruh saya ke luar kamar, karena kamar saya mau dibersihkan si bibi. Habis ini, beliau mau langsung pulang dan ibu akan mengambil asisten rumah tangga pengganti di agensi.

Hah, saya jadi wagu sekali perasaannya.

Aneh mode sudah benar-benar ‘on’ saat ini.





kebanyakan minat

10 04 2008

Salah satu keputusan paling benar yang saya lakukan di awal-awal tahun ini adalah memilih Klinis Dewasa sebagai jurusan minor saya. Meski awalnya sempat super ragu, tapi akhirnya saya merasakan sendiri betapa saya telah memilih keputusan yang sangat, sangat benar.

Ada 2 mata kuliah. Pertama, tentang family therapy dan yang kedua tentang group process. Dan saya menyukai keduanya. Betul-betul sesuai dengan yang saya harapkan ketika pertama kali melihat pilihan-pilihannya di Siak-NG.

Selain sesuai dengan pilihan, saya juga merasa pikiran semakin terbuka. Melihat peluang di luar yang selama ini saya pelajari. Bukan berarti membelot, tetapi saya hanya tidak ingin minat-minat terpendam jauh akibat diri saya terlalu memasang batasan-batasan disiplin ilmu. Memang saya lulus dari Klinis Anak, namun bila saya tertarik dengan terapi lain, di luar yang saya pelajari, tidak salah dong?!

Dua hari lalu saya mendengar kuliah dari dosen saya, yang merupakan konselor keluarga dan pernikahan, mengenai bagaimana interaksi keluarga berpengaruh terhadap kondisi psikologis seseorang. Menarik juga mendengarkan gerak-gerik terapis keluarga menangani sebuah masalah. Meski belajarnya di ‘ruang’ Klinis Dewasa, tapi saya melihat aplikasi pelajaran ini sangat nyata di lingkup Klinis Anak. Jadi tertarik!

Nah, tadi, saat makan siang, saya mengobrol singkat dengan Mbak Anna, yang saya tahu sedang memusatkan diri pada kaum Lansia (lanjut usia). Ngobrol panjang, jadi teringat ompung saya dulu. Betapa saya ingin punya ompung yang lengkap, seperti teman-teman lainnya. Betapa saya berubah menjadi sentimentil, membayangkan mereka yang bersiap-siap menuju kematian.

“Justru hal terpenting yang harus diobrolkan dengan lansia adalah bagaimana mereka bisa menerima kenyataan bahwa ajal mereka sudah dekat. Beberapa ada yang nggak bisa terima,” kata Mbak Anna.

“Nggak bisa terima, berhubungan dengan life satisfaction ya mbak,” tanya saya.

“Oh iya. Tentu aja. Seru kok, mel. Apalagi di Indonesia belum ada klinik khusus Lansia yang psikologi terpadu,” Mbak Anna melanjutkan.

Saya diam. Berpikir. Akhirnya ketika jalan pulang dari kantin, saya bilang ke Ine begini, “Ne, kayaknya gue tertarik juga sama Lansia”.

Ine nggak bilang apa-apa. Justru suara dalam hati saya yang nyeletuk, “Duh, mel. Lo kebanyakan maunya. Awalnya remaja, terus anak, terus keluarga dan dewasa muda, terakhir lansia. Kebanyakan minat, lo!”.

Saya hanya tersenyum miris, sambil bilang, “Yah, namanya juga plinplan”.

Tapi, suara hati belahan lainnya nyeletuk, “Mel, mungkin bukan kebanyakan minat. Hanya saja lo menyintai perilaku manusia. Rentang usia manapun itu”.

Mungkin juga. Bukankah itu alasan utama saya bertahan di bidang ini? Psikologi: Ilmu tentang perilaku manusia.

Manusia, makhluk yang menurut Tuhan paling tinggi derajat dan kesempurnaannya, tapi paling sering bermasalah dan bikin pusing.

Seperti produk-produk Apple. Dari segi branding dan tampilan sangat istimewa, tapi tidak jarang bermasalah dan justru sulit direparasi.

Menarik kan, manusia itu?!





tentang JKC

4 04 2008

Di antara semua cerita mengenai teman-teman saya, rasanya hanya JKC yang jarang saya beritakan (Well, sebenarnya ada juga sih, geng SMP saya, namanya Dream Tim. Hahaha… Tapi itu sih udah ke ‘laut’ aja, gak ada kabarnya sama sekali).

Nah, tentang JKC ini sedikit menarik. Ada rasa lucu, berdarah-darah, tegang, tapi akhirnya jadi mengharukan. Perasaan-perasaan nan campur aduk ini muncul di pikiran saya dalam belakangan hari ini. Nggak heran bila akhirnya saya memilih topik ini untuk dibahas di salah satu mata kuliah saya di Minor KLD (Iya betuuulll, ini bagian dari tugas kuliah saya. Seru, ya?!).

Sedikit sulit untuk membahasnya. Untuk lebih jelas, saya copy-paste-kan saja ya, tugas saya, dengan potongan di sana-sini.

“JKC adalah kelompok pertemanan yang saya ikuti sejak SMA. Ketika belum berdiri, JKC hanya merupakan pertemanan beberapa orang, yang kebanyakan terdiri dari murid-murid asal 2 kelas, yaitu kelas I-5 dan I-6. Saat naik kelas, kami tambah akrab dan akhirnya membentuk sebuah ‘gank’. Awalnya saya sendiri justru tidak tahu kalau pertemanan itu sudah ditingkatkan menjadi sebuah gank bernama JKC (singkatan dari Janda Kembang Club). Saya baru diberi tahu sekitar seminggu kemudian kalau saya tergabung dalam kelompok tersebut. Pun begitu, saya tidak menolak atau marah. Sebagai anak SMA, saya justru merasa senang karena bisa memiliki gank, lagipula saya memang sehari-hari selalu kumpul bersama mereka.

Secara lebih khusus, saya memilih kelompok ini karena sebagian besar teman saya saat kelas I tergabung di dalamnya. Selain itu banyak hal-hal baru yang saya pelajari dari dan bersama mereka. Misalnya saja mengenai pelajaran sekolah, pergaulan, perawatan tubuh, sampai hubungan dengan lawan jenis sekalipun. Karenanya saat itu saya merasa adanya sifat kesamaan dengan mereka, yang tidak saya dapatkan ketika bersama dengan teman-teman lainnya.

Tujuan dari didirikannya JKC saat itu ingin mengutip slogan TVRI, yaitu menjalin persatuan dan kesatuan. Awalnya memang hanya sebagai bahan lelucon, namun kemudian kami menyadari bahwa kelompok ini memang didirikan agar bisa menjadi lebih kompak dan solid. Sedangkan tujuan saya sendiri lebih kepada keinginan untuk memiliki teman yang bisa diandalkan saat itu. Dengan bergabung dengan mereka, saya tahu saya tidak akan sendiri. Akan ada teman-teman yang membantu di kala saya memiliki masalah. Selain itu identitas sebagai anggota dari sebuah kelompok juga tampaknya menjadi penting saat itu. Ada perasaan bangga, karena memiliki sebuah gank.

Anggota kelompok ini terdiri dari 15 orang. Karakteristiknya kebanyakan sangat perhatian terhadap penampilan. Hal ini sempat membuat saya canggung, karena saya justru bertolakbelakang dengan hal itu. Meski begitu akhirnya saya dapat beradaptasi juga. Saya menjadi lebih perhatian terhadap penampilan, meski tidak seheboh teman-teman saya. Mereka pun tampak menerima karakter saya yang cuek tersebut.

Karakteristik lainnya dari anggota dalam kelompok ini berbeda-beda. Ada yang cenderung keibuan, ada juga yang terkesan cuek, ada yang sedikit posesif, ada juga yang pasif. Dampak dari varian karakteristik ini pun berbeda-beda. Bagi mereka yang cenderung keibuan dan senang mengatur, biasanya mereka cenderung menjadi pengambil keputusan. Sebaliknya, teman yang bertipe cuek biasanya cenderung ikut-ikutan saja. Saya sendiri tergolong tipe ini. Saya cenderung mengambil posisi sebagai ‘joker’ atau penghibur.

Mengingat jumlahnya yang besar dan karakter anggotanya yang bervariasi, maka kelompok ini memang sarat dengan konflik. Ada 2 orang teman yang selalu bermusuhan, sehingga tidak mau berbicara satu sama lain. Sayangnya, hanya sedikit dari masalah-masalah yang muncul diselesaikan dengan cara diskusi. Satu-satunya masalah yang pernah coba diselesaikan, seingat saya, adalah ketika ada perebutan pacar di antara 2 orang teman. Sayangnya usaha menyelesaikan masalah itu justru gagal, karena keduanya bertengkar dan semenjak itu terjadi perang dingin. Yang terakhir ini memang menjadi kebiasaan dalam kelompok ini, dimana hampir semua masalah diselesaikan dengan cara didiamkan begitu saja. Akhirnya tidak jarang ada perasaan dendam atau sibuk membicarakan kejelekan teman lain di muka umum.

Ketika lulus SMA, kelompok ini juga sempat ‘mencar-mencar’. Bisa jadi karena saat itu tiap anggotanya sedang saling beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Alhasil frekuensi pertemuan anggotanya jadi sangat sedikit. Dalam satu tahun, bisa hanya bertemu sekali saja. Itu pun tidak lengkap. Karena itu saya sempat berpikir gank SMA saya ini telah bubar.

Namun ketika suatu kali seorang teman saya menikah, di tahun 2004, saya menyadari kalau pikiran saya itu salah besar. Saat itu kami berkumpul untuk merayakan acara besar seorang teman tadi dan ternyata sampai saat acara pernikahan itu berakhir, kami tetap sering berkumpul. Hari-hari kemudiannya diisi dengan pertemuan yang cukup menyenangkan. Bahkan sampai arisan segala! Nggak heran kalau, akhirnya, sampai sekarang hubungan kami kembali dekat. Frekuensi pertemuan juga meningkat jadi sebulan sekali.

Teman-teman yang dulunya berkelahi, kali ini sudah berbaikan. Menurut saya, konflik kelompok ini teratasi oleh kedewasaan para anggotanya. Ketika SMA, dimana tiap anggota masih mengalami krisis identitas dan ingin dinilai sebagai orang dewasa (meskipun ternyata belum dewasa sama sekali), akhirnya muncul begitu banyak konflik. Penyelesaian konflik pun belum dijalankan dengan benar. Tidak ada sikap asertif dalam menangani masalah, yang ada justru agresivitas dan keinginan untuk selalu dianggap benar.

Ketika para anggotanya sudah lebih dewasa, konflik-konflik di masa lalu itu akhirnya dapat dilupakan dan kami lebih bisa menerima kepribadian satu sama lain. Selain itu tiap pribadi juga telah menjalin hubungan akrab dengan teman-teman lain di luar kelompok, misalnya teman kuliah atau teman kantor. Dengan begitu tiap anggota sudah lebih fleksibel dan tidak terlalu bergantung pada kelompok JKC ini saja. Tuntutan yang diberikan antar anggota juga tidak sebesar dan seposesif saat SMA.

Sekarang ini, pihak pengambil keputusan juga tidak lagi hanya teman-teman dengan tipe keibuan itu saja. Teman-teman yang dulunya pasif pun sekarang sudah sering menjadi pengatur acara dan memberikan ide. Apalagi tiap anggotanya sekarang memiliki profesi yang beragam, sehingga semakin banyak ide diberikan dari berbagai perspektif.

Bagi saya pribadi, teman-teman dari kelompok ini memang jarang menjadi support group saat saya mengalami masalah. Ada teman-teman lain yang saya rasa lebih tepat untuk peran tersebut. Meski begitu faktor sejarah dan perasaan kesamaan dengan tiap anggota JKC membuat saya tidak bisa melupakan identitas kelompok ini. Setiap kali saya membicarakan mengenai masa SMA, pasti harus melibatkan JKC. Dengan begitu saya merasa tidak bisa ‘pergi’ jauh-jauh dengan mereka.

Tampaknya faktor sejarah dan kesamaan ini juga yang berlaku pada teman-teman lainnya. Ada kesadaran bahwa kami memulai kehidupan dewasa dari titik yang sama, karena itu sebanyak apapun teman kami saat ini, sehebat apapun karir tiap anggotanya, kami tidak pernah bisa pergi jauh-jauh dari identitas masa remaja ini.”

Awalnya bukan pembahasan mengenai kelompok JKC ini yang ingin saya bahas. Justru saya sebenarnya lebih tertarik membahas mengenai mantan paduan suara saya, karena lebih banyak ‘intrik’ di dalamnya. Tapi setelah kemarin Sabtu saya dan teman-teman berpelesiran ke Bandung untuk merayakan pernikahan Wulan, akhirnya saya memilih untuk memakai topik ini saja sebagai pembahasan.

Bagi saya, keberadaan JKC ini sangat unik. Bila diibaratkan, keberadaan JKC bagi saya mirip grafik bergambar gunung. Awalnya dalam (garis berada di bawah), lalu ada saat di mana saya tidak terlalu peduli dengannya dan bahkan begitu malu karena pernah menjadi bagian dari mereka (itu saat garis berada di atas), dan kemudian kembali dalam seperti saat ini (garis kembali ke bawah).

Seperti saya katakan di paper tadi, ‘attachment’ saya dengannya memang tidak sedalam dengan beberapa teman yang didaulat sebagai support group saya. Namun yang pasti, sampai kapanpun saya tidak bisa meninggalkan mereka.

JKC, seburuk (sering dicap sebagai geng SMA yang sok tau dan sok cantik. Bahkan ada geng cowok di sekolah yang begitu membenci kelompok ini. To be honest, ini yang sempat bikin gue malu… Huhuhu… Maafkan) dan sehebat apapun namanya, tetap merupakan bagian dari sejarah seorang Melissa. Yang membentuk saya hingga menjadi sekarang ini. Dan, yah, harus saya akui, mereka berperan besar dalam menciptakan masa remaja yang begitu indah. Barangkali saya tidak akan begitu tertarik pada dunia remaja, bila saya tidak pernah bergabung dengan kelompok ini.

Saksi sejarah. Penentu sejarah juga. Mungkin dua hal inilah yang paling tepat dijadikan alasan.

Dan apakah saya masih malu hingga sekarang ini? Tidak sama sekali. Sekarang justru saya berani menegakkan kepala, sambil merangkul sahabat-sahabat JKC saya, dan berkata dengan lantang, “Ya, gue anak JKC dan gue bangga dengan itu”.

Tidak ada yang harus disesali dari sebuah sejarah. Karena itu, terima kasih para janda kembangku (yang tentunya sekarang gak janda kembang lagi, yaaa… Hehehe…).

Saya sayang kalian.