Ceritanya saya baru saja beli buku yang dikarang oleh Naif, band Indonesia favorit saya (sejauh ini). Awalnya hanya membaca imel kiriman Mas @dib yang promosiin tentang album terbaru Naif yang dijual dengan metode baru, yaitu melalui gimmick Rollingstone Indonesia edisi mei ini. Di imel itu mas adib kasih link ke multiply naif dan setelah happy blogwalking, sampailah saya pada berita mengenai terbitnya buku berjudul “Kenapa Kuda Lumping Makan Beling? dan 61 Pertanyaan Ngaco Lainnya Dijawab oleh NAIF“, terbitan Bukune itu.
Melihat penerbitnya, saya sih kebayang langsung buku-buku ringan, yang tujuannya untuk ngelawak. Contohnya ya buku-buku Raditya Dhika ‘lah. Gak terlalu suka, actually. Tapi berhubung ini Naif, maka saya beli.
Setelah dibaca-baca, komentarnya cuman 1: nih buku harus dibaca kalau kita beneran lagi gak ada kerjaan banget. Hahaha… Karena kalau terlalu serius bacanya, bisa-bisa gondok sendiri melihat betapa gak nyambungnya jawaban yang diberikan David, Jarwo, Emil, dan Pepeng itu. Coba baca cuplikannya di www.bukune.com deh.
Tapi kalau rilek (gak pake ’s’), kemungkinan besar Anda akan setuju dengan saya, bahwa para personil band ini sangat pintar. Well, kalau tidak mau se-memuji itu, paling tidak mereka bisa diberi cap sebagai ‘orang yang enak diajak kontemplasi’ lah (Well, sebenernya cap ini juga udah kebayang sejak gue mendengarkan lirik-lirik mereka yang cerdas, sih).
Tidak percaya? Coba baca ini. Salah satu bagian yang paling saya suka.
APA ARTI HIDUP BAGI KALIAN?
David
Hidup artinya sesuatu yang tidak mati. sesuatu yang menyala, sesuatu yang bergerak. kalau lagi mati lampu lama, kemudian menyala, kita akan berteriak, “Hidup!” Kalau lagi pertandingan PSSI melawan MU, kita menyemangati PSSI dengan berteriak, “Hidup PSSI!” Hidup itu sesuatu yang menyenangkan. Hidup itu karunia yang tiada duanya yang diberikan oleh Tuhan. Hidup itu susah senang, baik buruk, kalau kita memahaminya, itu terasa indah. jadi hidup bagi saya indah. Hidup itu indah.
Jarwo
Gila, ini pertanyaan susah dan filosofis banget yah?! Hm, gue jadi bingung mau jawab bagaimana. Menurut gue, arti hidup adalah siap-siap mati. Kita ini diciptakan oleh Tuhan dan yang pasti akan kembali lagi kepada-Nya. Jadi menurut gue hidup itu adalah untuk mempersiapkan bekal kita nanti sebelum kematian kita tiba. Jadinya ya hidup itu bersiap-siap untuk mati. Yah, kurang lebih gitu deh. Kalau menurut loe, jawabannya apa? Bantuin gue ngejawabnya dong!
Emil
Arti hidup menurut gue adalah perantara antara kelahiran dan kematian. Hidup juga berarti waktu yang diberikan kepada kita untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan setelah kematian.
Pepeng
Dari lahir sampe mati kita itu dipenuhi dengan berbagai masalah. Tapi di situlah justru seninya hidup. Gimana kita harus bisa menyelesaikan segala permasalahan kita. Hidup itu adalah sebuah perjalanan menuju kematian. Makanya hidup itu harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Jangan jadi orang males, jangan jadi orang jahat. Jangan jadi orang yang setelah mati jadi nothing atau dikenang orang dengan segala keburukannya. Jangan loe nyari mati, karena mati akan datang dengan sendirinya kepada kita suatu saat nanti.
Wah, saya suka sekali dengan jawaban David di sini. Baru kebayang, iya juga ya, kenapa kalau bersorak kita harus berteriak “Hidup”. Waktu SBY terpilih jadi presiden, saya sibuk teriak, “Hidup SBY”. Hahahaha… Lame! Berarti kata ‘hidup’ itu menggambarkan harapan dan, seperti yang David bilang, sesuatu yang menyenangkan.
Saya juga setuju dengan jawaban lain yang mengatakan hidup adalah persiapan menuju kematian atau bahwa hidup adalah perantara dari kelahiran menuju kematian. Dari dulu saya setuju itu. Bagi saya manusia memiliki beberapa fase dalam keberadaannya. Dimulai dari kelahiran, kehidupan, dan kematian. Entah apakah ada fase lain, selain ketiga itu. Barangkali sebelum kelahiran dan sesudah kematian ada fase-fase lagi. Yang pasti, semua fase itu harus dijalani dan bersifat mutlak. Saya tidak percaya pendapat yang mengatakan fase manusia terjadi di luar ketiga (dan mungkin tambahan) fase itu. Misalnya dengan urutan yang berbeda-beda atau ada yang terlongkap. Maaf, itu tidak saya percayai.
Karena fase itu wajib dijalani, maka terserah manusia ingin menjalani fase itu seperti apa. Kalau saya sih memilih untuk menjalaninya dengan senyaman mungkin. Toh, menurut saya, Tuhan itu sangat pintar. Dia tahu fase kehidupan ini bisa jadi sangat panjang (dan berpotensi untuk jadi menyebalkan), karena itu dia menciptakan tugas-tugas perkembangan yang berbeda seiring dengan usia. Misalnya, sebagai anak bayi, dengan semangatnya kita belajar jalan. Lalu ketika masuk sekolah, kita belajar bertemu dengan teman-teman baru dan belajar membaca. Ketika jadi anak remaja, kita ‘menikmati’ serunya puber. Lalu saat mulai dewasa muda, mulai belajar tentang cari duit dan berkeluarga. Bahkan saat lansia pun, kita masih bisa semangat melihat cucu-cucu mulai beranjak dewasa.
Sesungguhnya, path manusia sudah dirancang semenarik mungkin. Banyak memang rancangan yang dibikin dengan beberapa intrik, yang membuat kita ‘nge-gas pol’, saking stresnya. Tapi balik lagi ke prinsip pertama, hidup itu adalah fase yang harus dijalani. Meski rese’, tapi kalau kita menjalaninya dengan menyenangkan dan ‘hidup’, maka idealnya sih bakal enak. Yah, kayak sekolah aja deh. Packaging-nya bikin males. Tapi kalau udah ketemu temen yang asik, terus set mind otak udah ngebayangin betapa bergunanya ini ilmu yang dipelajari, maka dengan sendirinya juga sekolah jadi menyenangkan.
Hehehe.. Jadi panjang. Intinya? Jalanin hidup yang kita punya dan gak ada salahnya beli buku ini. Hahaha. Cukup seru kok buat mengisi waktu luang.
Last words, coba simak jawaban Pepeng waktu ditanya, “KENAPA ORANG PERCAYA SAMA TUHAN PADAHAL BELUM PERNAH MELIHAT SAMA SEKALI?”
Gini deh, simpel aja. Semua hal pasti ada yang bikin. Komputer ada yang bikin, meja ada yang bikin, uang ada yang bikin. Semua itu bikinan manusia. Nah, yang bikin manusia siapa? Yang bikin alam semesta ini siapa? Yang pasti sesuatu yang maha kuasa banget! Siapa yang lebih berkuasa dari Tuhan? Yang kita kenal dalam pelajaran agama kita. Mau contoh konkrit lagi? Loe bisa baca tulisan gue ini, loe tahu kan pasti ada yang ngetik ini? Padahal loe enggak ngeliat ada yang ngetik ini. Tapi kenapa bisa ada ketikan ini? Tuh, pikir aja sendiri.
Damn, kalau dia bikin blog, pasti seru.





kata mereka