now at last i know

18 03 2008

Sekarang saya tahu apa kiat yang bisa mengobati sindrom ditinggalkan (left-behind syndrome) yang saya rasakan kemarin-kemarin ini. Sederhana ternyata, yaitu: LUPAKAN, KURANGI HARAPAN, dan TURUNKAN STANDAR!

Saya berani bilang begini, karena hal itu yang baru saja saya pelajari kemarin. Setelah mengalami berbagai episode campuran marah dan sedih, akhirnya saya terbiasa untuk melupakan sang sahabat. Well, mungkin bukan literally melupakan ya, tapi berusaha nggak menganggapnya ada. Huhuhu.. Tragis ya, tapi itulah yang saya lakukan!

Kemudian, seiring dengan menurunnya intensitas komunikasi saya dengan sahabat itu, akhirnya saya pun berusaha mengurangi harapan. Kalau dulunya saya selalu jengkel ketika ia tidak pernah telfon (dan kerjanya saya terus yang menghubungi, sehingga kesannya ngarep banget), perlahan saya mulai biasa-biasa aja.

Setelah saya mengurangi harapan, akhirnya saya pun menurunkan standar. Dalam kasus saya, akhirnya saya sadar bahwa dalam urutan prioritas hidup, sepertinya memang, ehm, saya nggak bisa memasukkan sahabat di urutan nomor 1. Huhuhu… Sedikit susah juga nulisnya, karena hampir selama hidup, saya termasuk orang yang bestfriend-oriented. Hidup saya selalu diisi oleh sahabat, sehingga memang ketika saya menurunkan urutan prioritas mereka, jadinya sedikit aneh juga. Kali ini, saya ingin lebih berorientasi pada keyakinan saya saja. Menomorsatukan Tuhan saya, kemudian keluarga saya, baru terakhir sahabat. Urutan ini pun disusun berdasarkan siapa yang lebih besar kemungkinannya untuk tidak meninggalkan saya terpuruk di suatu waktu.

Ketika ketiga hal ini saya lakukan, ternyata saya bisa melewati sindrom ini dengan cukup gemilang (meskipun terseok-seok). Kemarin saya bertemu dengan seorang sahabat. Katakanlah, dia sahabat yang hilang! Serius saya. Sedih, tentu saja, tapi setelah saya melewati ketiga hal ini, ternyata saya jadi sadar bahwa dia tidak hilang. Hanya saja saya memang harus menurunkan harapan/standar saya.

Akhirnya saya sadar kalau dia masih tetap sahabat saya. Kita ngobrol banyak dan saya merasa nyaman. Pulang-pulang, saya senyum terus seperti orang yang baru pulang berlibur. No hard feeling. Meski kemudian saya bertemu kenyataan bahwa mungkin dalam beberapa waktu ke depan, selama saya tidak bertemu dengan dia, saya akan kembali merasa ‘ditinggalkan’, tapi saya bisa menerimanya.

Kali ini saya tahu bahwa: dengan dia, standarnya memang sudah berbeda. Tidak lagi seperti dulu, yang intens berbicara setiap hari, bahkan setiap jam. Sekarang kami hanya bisa mengobrol sebulan sekali atau bahkan berbulan-bulan sekali. Pun begitu, saya harus meyakini bahwa sahabat saya itu masih hidup di ujung sana dan bahwa ketika nantinya kita bertemu, dia akan tetap seperti figur yang saya kenal dulu.

Sejauh ini, itulah hasil kontemplasi saya dengan otak saya sendiri, selama beberapa jam terakhir selepas pertemuan saya dengan sang sahabat. Saya tidak peduli, apakah kontemplasi ini benar atau tidak. Satu yang pasti, yang bikin saya sangat senang, adalah fakta bahwa sahabat saya tidak hilang. Ternyata selama ini ia hanya, ehm, katakanlah pindah ke luar kota, sehingga saya tidak bisa selalu menemuinya.

But she’s in safe hands now.


Actions

Information

One response

25 03 2008
PoppieS

Kadangkadang kepala yang dingin dan hati yang ikhlas memang membantu untuk menghadapi keadaan saat ini…

People change. We adjust. But time will heal.

Leave a comment