Dulu, setiap kali mendapat masalah, saya sering marah dengan Tuhan saya. Di antara begitu banyak makian terhadap Tuhan, saya ingat beberapa kalimat yang saya ucapkan dengan penuh emosi ketika berdoa. Kira-kira begini, “Tuhan, mau Engkau apa? Ini nggak adil. Selama ini aku seperti melakukan komunikasi satu arah. Aku bercerita, aku berkeluh kesah, aku mengadu. Tapi cuma itu aja, aku nggak pernah dengar kata-kata apapun dariMu. Kenapa para pendeta selalu bilang kalau Engkau telah berbicara dengan mereka? Lah, sekarang aku jadi bingung, sebenarnya apakah Kau cuma mau ngomong sama mereka aja, atau aku memang yang bodoh, nggak bisa memahami cara komunikasi Engkau? Tolong kasih ‘clue‘-nya. Apakah nanti semacam kata hati, atau seperti ada orang bicara denganku, atau dalam bentuk halusinasi? Ngomong, dong. Aku nggak ngerti“.
Stupid, eh? Yah, memang. Untungnya, perlahan saya menyadari bahwa sesuatu terjadi untuk alasan tertentu. Detik itu, mungkin saya tidak tahu alasannya, namun pada akhirnya saya akan mengetahui bahwa setiap masalah menyimpan pelajaran tertentu. Lama-kelaman saya menyadari bahwa Tuhan saya sebenarnya telah melakukan komunikasi dengan saya, melalui berbagai cara. Bisa lewat kata hati, maupun kalimat yang disampaikan orang lain pada saya.
Contohnya siang tadi. Kebetulan beberapa waktu ini saya sedang mengalami, ehm, katakan saja krisis identitas. Intinya, saya tidak tahu mau melakukan apa setelah fase ini berakhir. Saya terus mengatakan pada diri saya bahwa inilah ruang yang diinginkan Tuhan untuk saya lakukan, namun kemudian saya kembali menyanggahnya. Merasa pribadi saya tidak akan cocok untuk tetap berada di ruang ini dalam jangka waktu yang panjang.
Hingga momen singkat tadi siang terjadi. Ceritanya hari ini saya menghadiri acara ‘pelepasan’ tiga orang dosen dari bagian perkembangan, tempat saya belajar. Mereka dosen senior. Hebat-hebat. Dua di antaranya adalah guru besar dan yang satu lagi adalah dosen sangat senior, dengan bergudang-gudang pengalaman. Yang terakhir ini jadi dosen pembimbing saya. Menarik juga, orangnya sangat baik dan keibuan.
Dua dari ketiga dosen ini (termasuk sang dosen pembimbing) adalah orang-orang yang mewawancarai saya ketika tahap seleksi masuk profesi. Saya tidak menyadari hal ini, sampai ketika salah satu dari mereka (yang bukan dosen pembimbing) mengucapkan kalimat ini saat saya menyalaminya: “Kamu dulu saya yang wawancara pertama kali”. Singkat saja, namun mengakibatkan efek kaku sekitar 30 detik bagi saya. “Ibu masih ingat,” seru saya setengah speechless. “Oh iya, saya ingat,” ujar beliau.
Beberapa menit kemudian, yang terjadi adalah saya berdiri terpaku, masih kaget. Hehehe… Terlihat berlebihan, ya?! Memang sih, saya juga bingung. Biasa saja toh kalau dia ingat saya, tapi entah kenapa kalimat itu begitu menyentil. Seperti ada yang mengetuk hati saya dan memaksa saya untuk mengingat kembali akar dari semua peristiwa selama tahun-tahun belakangan ini.
…
Saya masih ingat detik demi detik ketika tahap seleksi itu dilakukan, bahkan sejak tahap persiapan. Betapa susahnya mencari waktu untuk belajar. Ritual yang saya lakukan setiap hari seperti ini: Bangun jam 6 pagi > menghafal materi > ke kantor jam 8 dan kerja sampai jam 12 > diam-diam pergi ke Chichi’s kafe di Gedung Kobel, maksudnya buat makan siang sambil belajar (cs-an sama Poetry buat bilang ke teman-teman kalau saya lagi ketemu teman di kantor seberang, soalnya saat itu saya belum bilang tentang rencana ini) > balik kantor jam 1, trus kerja sampai jam 9 malam. Abis itu langsung tidur, nggak kuat kalau harus belajar lagi.
Ketika seleksi dimulai, gugupnya setengah mampus. Melihat gaya orang lain, kayaknya meyakinkan banget. Sementara saya? Style wartawan, yang ingin semuanya serba ringkes dan tegas. Rasanya kok kurang klop untuk menangani klien anak-anak. Teman-teman lain rasanya keibuan, sementara saya keanak-anakan yang cenderung ‘kebapakan’. Hahahaha…
Saya kemudian bertemu kedua dosen tersebut di sesi group discussion dan wawancara. Saat wawancara inilah saya sempat tersendat-sendat saat berbicara. Bukan karena gugup, tapi karena mereka menanyakan sebuah kisah yang merupakan ‘luka’ paling menyakitkan yang pernah saya alami. Biasanya saya tidak pernah ceritakan ke sembarang orang, namun entah kenapa saat itu saya memberanikan diri untuk menceritakannya.
…
Sekitar 15 menit, rentetan ‘image‘ kejadian saat tahap seleksi itu muncul di pikiran saya tadi siang. Well, sampai saat ini, saya masih tidak tahu makna apa yang terdapat di balik kalimat sang guru besar tadi. Namun sembari menunggu jawaban paling benar muncul, saya mencoba mengartikannya sebagai peringatan untuk kembali yakin kepada pilihan yang saya ambil sekitar satu setengah tahun lalu. Bahwa pertanyaan mengenai cocokkah saya dengan ruang ini sudah tidak lagi relevan, karena mereka telah memutuskan untuk memilih saya saat itu.
Jika memang itu maksud dari ucapan tadi, maka pertanyaannya sekarang adalah: apakah saya mau membuktikan kepada orang-orang, bahwa keputusan yang mereka ambil saat itu adalah tepat?
Saya memilih untuk menjawab: “Ya, akan saya buktikan”.
“Terima kasih Tuhan, untuk peringatanNya. Aku yakin, tadi yang berbicara adalah Engkau”.




mel, gw pernah baca di buku When God Winks, yang meyakinkan gw bahwa di dunia ini gak ada kebetulan (everything happens for a reason), bahwa at some point dalam hidup lo, Tuhan akan menunjukkan bahwa pilihan lo ‘waktu itu’ sudah tepat dengan caraNya yang unik. dan karena itu mungkin kadangkadang kita terpana begitu God winked at us… dan menurut gw, mungkin saat dosen itu ngomong itu, dia lagi winked at you yaaa..
baca deh bukunya.
wish u all the very best, darling!
you know what? gue suka sekali dengan penggunan kata ‘wink’ di situ. just a little motion, gak ada kata panjang lebar, tapi sebenarnya berbicara tentang banyak hal…
*sedang membayangkan cara Tuhan mengedipkan mata, literally! hehehe…*
Wisma KODEL mels…bukan KOBEL. Kalopun ada GOBEL tapi dia yg punya Panasonic bukan sebuah gedung di kuningan yg letaknya pantat-pantatan sm Gd.Femina
Anjis. Jorok amat. Wisma Kobel.
Kalo Gobel, dulu kita pernah kerja sono noooh yang sama Moores Rowland.. gaya banget yah pas di sana. Megang abis.