diingatkan

20 02 2008

Dulu, setiap kali mendapat masalah, saya sering marah dengan Tuhan saya. Di antara begitu banyak makian terhadap Tuhan, saya ingat beberapa kalimat yang saya ucapkan dengan penuh emosi ketika berdoa. Kira-kira begini, “Tuhan, mau Engkau apa? Ini nggak adil. Selama ini aku seperti melakukan komunikasi satu arah. Aku bercerita, aku berkeluh kesah, aku mengadu. Tapi cuma itu aja, aku nggak pernah dengar kata-kata apapun dariMu. Kenapa para pendeta selalu bilang kalau Engkau telah berbicara dengan mereka? Lah, sekarang aku jadi bingung, sebenarnya apakah Kau cuma mau ngomong sama mereka aja, atau aku memang yang bodoh, nggak bisa memahami cara komunikasi Engkau? Tolong kasih ‘clue‘-nya. Apakah nanti semacam kata hati, atau seperti ada orang bicara denganku, atau dalam bentuk halusinasi? Ngomong, dong. Aku nggak ngerti.

Stupid, eh? Yah, memang. Untungnya, perlahan saya menyadari bahwa sesuatu terjadi untuk alasan tertentu. Detik itu, mungkin saya tidak tahu alasannya, namun pada akhirnya saya akan mengetahui bahwa setiap masalah menyimpan pelajaran tertentu. Lama-kelaman saya menyadari bahwa Tuhan saya sebenarnya telah melakukan komunikasi dengan saya, melalui berbagai cara. Bisa lewat kata hati, maupun kalimat yang disampaikan orang lain pada saya.

Contohnya siang tadi. Kebetulan beberapa waktu ini saya sedang mengalami, ehm, katakan saja krisis identitas. Intinya, saya tidak tahu mau melakukan apa setelah fase ini berakhir. Saya terus mengatakan pada diri saya bahwa inilah ruang yang diinginkan Tuhan untuk saya lakukan, namun kemudian saya kembali menyanggahnya. Merasa pribadi saya tidak akan cocok untuk tetap berada di ruang ini dalam jangka waktu yang panjang.

Hingga momen singkat tadi siang terjadi. Ceritanya hari ini saya menghadiri acara ‘pelepasan’ tiga orang dosen dari bagian perkembangan, tempat saya belajar. Mereka dosen senior. Hebat-hebat. Dua di antaranya adalah guru besar dan yang satu lagi adalah dosen sangat senior, dengan bergudang-gudang pengalaman. Yang terakhir ini jadi dosen pembimbing saya. Menarik juga, orangnya sangat baik dan keibuan.

Dua dari ketiga dosen ini (termasuk sang dosen pembimbing) adalah orang-orang yang mewawancarai saya ketika tahap seleksi masuk profesi. Saya tidak menyadari hal ini, sampai ketika salah satu dari mereka (yang bukan dosen pembimbing) mengucapkan kalimat ini saat saya menyalaminya: “Kamu dulu saya yang wawancara pertama kali”. Singkat saja, namun mengakibatkan efek kaku sekitar 30 detik bagi saya. “Ibu masih ingat,” seru saya setengah speechless. “Oh iya, saya ingat,” ujar beliau.

Beberapa menit kemudian, yang terjadi adalah saya berdiri terpaku, masih kaget. Hehehe… Terlihat berlebihan, ya?! Memang sih, saya juga bingung. Biasa saja toh kalau dia ingat saya, tapi entah kenapa kalimat itu begitu menyentil. Seperti ada yang mengetuk hati saya dan memaksa saya untuk mengingat kembali akar dari semua peristiwa selama tahun-tahun belakangan ini.

Saya masih ingat detik demi detik ketika tahap seleksi itu dilakukan, bahkan sejak tahap persiapan. Betapa susahnya mencari waktu untuk belajar. Ritual yang saya lakukan setiap hari seperti ini: Bangun jam 6 pagi > menghafal materi > ke kantor jam 8 dan kerja sampai jam 12 > diam-diam pergi ke Chichi’s kafe di Gedung Kobel, maksudnya buat makan siang sambil belajar (cs-an sama Poetry buat bilang ke teman-teman kalau saya lagi ketemu teman di kantor seberang, soalnya saat itu saya belum bilang tentang rencana ini) > balik kantor jam 1, trus kerja sampai jam 9 malam. Abis itu langsung tidur, nggak kuat kalau harus belajar lagi.

Ketika seleksi dimulai, gugupnya setengah mampus. Melihat gaya orang lain, kayaknya meyakinkan banget. Sementara saya? Style wartawan, yang ingin semuanya serba ringkes dan tegas. Rasanya kok kurang klop untuk menangani klien anak-anak. Teman-teman lain rasanya keibuan, sementara saya keanak-anakan yang cenderung ‘kebapakan’. Hahahaha…

Saya kemudian bertemu kedua dosen tersebut di sesi group discussion dan wawancara. Saat wawancara inilah saya sempat tersendat-sendat saat berbicara. Bukan karena gugup, tapi karena mereka menanyakan sebuah kisah yang merupakan ‘luka’ paling menyakitkan yang pernah saya alami. Biasanya saya tidak pernah ceritakan ke sembarang orang, namun entah kenapa saat itu saya memberanikan diri untuk menceritakannya.

Sekitar 15 menit, rentetan ‘image‘ kejadian saat tahap seleksi itu muncul di pikiran saya tadi siang. Well, sampai saat ini, saya masih tidak tahu makna apa yang terdapat di balik kalimat sang guru besar tadi. Namun sembari menunggu jawaban paling benar muncul, saya mencoba mengartikannya sebagai peringatan untuk kembali yakin kepada pilihan yang saya ambil sekitar satu setengah tahun lalu. Bahwa pertanyaan mengenai cocokkah saya dengan ruang ini sudah tidak lagi relevan, karena mereka telah memutuskan untuk memilih saya saat itu.

Jika memang itu maksud dari ucapan tadi, maka pertanyaannya sekarang adalah: apakah saya mau membuktikan kepada orang-orang, bahwa keputusan yang mereka ambil saat itu adalah tepat?

Saya memilih untuk menjawab: “Ya, akan saya buktikan”.

“Terima kasih Tuhan, untuk peringatanNya. Aku yakin, tadi yang berbicara adalah Engkau”.





tentang dengarkan-aku-Tuhan

13 02 2008

Barusan saja saya membaca sebuah surat yang dikirim untuk saya siang tadi.

Isinya ternyata dari paduan suara tempat saya bergabung selama beberapa tahun ini. Kop dan perihal yang ditulis sudah tidak asing bagi saya. Surat peringatan, karena absensi yang rendah. Tapi ternyata kali ini surat tersebut terdiri dari 2 lembar. Selain lembar peringatan, ada sebuah lembaran lain yang berisikan ucapan terima kasih karena pernah bergabung di paduan suara tersebut. Tulisnya begini: “Bersama dengan surat ini, kami menyampaikan ucapan terima kasih karena saudari pernah bergabung bersama kami di ****. Karena sampai saat ini kami belum dapat melihat perbaikan kehadiran saudari dalam segala kegiatan **** setelah surat peringatan ke 1, 2, dan 3 kami sampaikan sebelumnya”.

Ada 2 hal yang muncul di benak dan rasa saya. Pertama, lucu. Akhirnya saya dikeluarkan juga, mengingat sudah setahun saya tidak pernah muncul. Sayangnya yang kedua cukup menyita perhatian: ada rasa kehilangan. Kehilangan sesuatu yang berarti. Seperti sesuatu yang biasa melekat pada diri saya, harus dilepaskan.

Keterlibatan saya dengan paduan suara itu bukan sekadar keanggotaan biasa saja. Secara tidak disadari, keterlibatan itu sudah menjadi suatu identitas yang saya jaga dan hormati. Bukan sekadar simbol kebanggaan.

Jauh sebelum saya bergabung di paduan suara ini, saya sudah memiliki catatan sejarah khusus dengannya. Ketika itu saya masih SD dan bergabung dengan paduan suara anak-anak. Yah, saya memang senang menyanyi. Saat itu banyak tante saya yang tergabung dengan paduan suara ini. Ibu pun sempat menjahit seragam para anggotanya. Mungkin karena itu, akhirnya saya diajak jadi ‘bintang tamu’ untuk sebuah acara natal. Tidak sendirian, karena ada segerombolan anak-anak kecil lainnya. Saya masih ingat jelas. Saya memakai baju putih saat itu.

Bertahun-tahun kemudian, paduan suara itu tetap eksis. Ketika saya kuliah, kakak saya bergabung dengan paduan suara itu. Dia mengajak saya kala itu, namun saya tolak. Meski begitu, muncul pergumulan di hati saya, ada dorongan yang sangat besar untuk kembali bernyanyi di paduan suara (semenjak SMP, saya berhenti dalam tiap kegiatan paduan suara). Bagi mereka yang pernah ikut paduan suara, pasti mengerti betapa rindunya proses bernyanyi dalam kelompok ini. Saat itu saya juga tergerak untuk melayani. Pingin melakukan sesuatu yang membahagiakan Tuhan saya.

Akhirnya, saya bersedia untuk masuk paduan suara ini. Masuknya bareng Kak Itis. Kalau  tidak salah, bulan Juli. Tahunnya 2002, mungkin. Lupa. Di masa awal, saya menghadapi masa adaptasi yang sulit, mengingat saat itu saya paling muda. Yang lainnya sudah bekerja. Masalah komunikasi, tentunya!

Berada dalam lingkungan asing tentu sangat menyiksa. Rasanya seperti alien, tidak tahu harus apa dan harus memulai obrolan apa. Untungnya, tidak beberapa lama, seorang teman yang usianya setahun di bawah saya ikut bergabung. Saya senang sekali. Apalagi ada beberapa teman lain, yang usianya juga tidak jauh dengan saya, ikut serta. Makin lama saya mulai merasa nyaman. Saya menemukan ‘teman perjuangan’. Sementara itu, saya pun mulai menikmati pelayanan saya.

Waktu berlalu, saya mulai bekerja. Teman-teman lainnya juga mengalami perubahan. Teman seperjuangan saya (yang usianya setahun di bawah saya) mulai jarang masuk dan akhirnya ia dikeluarkan. Teman-teman yang tadinya saya nilai ‘asik’, sudah menjelma menjadi sosok yang sulit dimengerti. Singkat kata, kita mulai menjauh. Perlahan, tanpa saya sadari, saya mulai merasa sendiri. Perasaannya jadi sama seperti saat hari pertama saya bergabung. Sepi.

Untungnya, saat itu saya mendapatkan tanggung jawab yang menantang. Saya coba emban tanggung jawab itu dengan sepenuh hati. Sayangnya, muncul banyak selisih paham. Saya jadi sering kesal, merasa pengorbanan saya yang sudah ‘all out‘ itu dipandang sebelah mata. Di mata saya, yang akan dihargai hanya mereka yang berhasil memberikan keuntungan cukup besar bagi pendapatan. Sementara kerja saya kebanyakan digerakkan oleh otak kanan, yang menuntut rasa seni dan kreativitas. Hasil jadinya adalah karya cipta, bukannya materi. Ini yang tidak mendapat cukup penghargaan dari mereka.

Suatu kali paduan suara tersebut mengadakan konser besar. Saya bertugas membuat buku acara. Percayalah, saya kerahkan segala daya upaya agar buku acara tersebut terlihat baik dan sempurna. Saya perhatikan tiap disain, warna, huruf, sampai susunan kata. Hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat saya harus bekerja sinergi dengan seorang teman disainer grafis yang kantornya jauh dari lokasi kantor saya saat itu, di wilayah Kuningan. Alhasil, kami harus selalu berhubungan lewat telfon, diam-diam tentunya. Saya pun harus mondar-mandir Kuningan-Subur (Setiabudi Building) atau Kuningan-Bendungan Hilir. Buat apa? Buat mencetak dummy tentunya. Mau tahu bagaimana prosesnya? Seperti ini: saya datang ke kantor jam 7 (biar bisa koreksi lembaran buku acara atau undangan) > korespondensi dengan teman disainer grafis (lewat telfon dan email) > kembali kerja karena sudah jam 9 > jam makan siang!!! ups, no, saya bukannya makan siang, tapi mencari ojek untuk pergi ke BenHil > balik ke kantor, beli roti di warung buat lunch > kembali kerja > waktunya pulang! Pulang? Tentu tidak! Saya harus kembali ke BenHil > pergi ke tempat latihan. Dan percayalah, proses ini berlangsung berminggu-minggu. Apalagi terkadang saya harus curi waktu ke kantor teman disainer grafis tersebut, apabila file tidak bisa dikirim lewat email. Perginya naik apa? Tentu saja naik ojek. *sigh*

Urusan selesai sampai situ? Ternyata tidak! Ketika semua materi sudah dikirim ke percetakan (melewati berbagai proses editting yang melelahkan), tiba-tiba saya dapat telfon yang mengatakan ada sebuah bank ingin memberikan sumbangan dan minta ditaruh logonya di buku acara! Shite! Mana mungkin? Undangan sudah dicetak rapih. Ketika saya konfrontir, saya justru mendapat jawaban ini, “Lo gimana sih, ini kan sumbangan”. Mau nangis, tapi saya tahan. Saya sudah mengingatkan dari jauh-jauh hari bahwa saya tidak mau ada iklan tempelan. Apa mau dikata, akhirnya di buku acara yang indah itu, tertempel sebuah iklan. Tidak cantik. Tidak dapat menahan, akhirnya saya menangis sejadi-jadinya. Tidak ada yang tahu.

Di lain waktu, saya menghabiskan berbulan-bulan untuk membuat video profil paduan suara saya. Mau tahu lagi ritual saya? Begini: datang ke kantor pagi jam 7 untuk edit materi video > kerja > makan siang > kerja lembur > jam 7 berangkat ke studio editting dan menemukan para editor masih asik main play station atau ada orang TransTV sedang memakai ruangan (maklum, dengan budget murah, saya tidak bisa men-slot ruangan. Jadi harus tunggu ruangan kosong) > masuk studio pukul 11-an > jam 1 belum selesai > jam setengah 2 pulang naik taksi. Please notice that i was a journalist at that time. Ritual kerja dan mobilitas saya di siang hari sangat tinggi, karena itu badan rasanya remuk-remuk saat harus bergadang sampai dini hari, untuk kembali bangun jam 6 keesokan paginya.

Saya bukan ingin menunjukkan kehebatan, tapi ingin menceritakan seberapa besar dan dalam perhatian saya bagi paduan suara ini. Di lain pihak, saya juga mendapatkan begitu banyak pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Tampil di berbagai acara, bernyanyi, menari. Mengikuti berbagai lomba. Kesemuanya sangat istimewa. Saya juga belajar mengenai tata panggung dari paduan suara ini. Pengetahuan itu sangat membantu saya saat bertindak sebagai organizer di berbagai acara. Tidak hanya itu, saya juga mendapatkan cukup mujizat selama melayani di paduan suara ini. Salah satunya adalah tugas kerja di negara luar, yang saya yakini sebagai balasan Tuhan atas kerja keras saya. “DIA bayar tunai, bok,” seru saya kepada kakak saat itu.

Saya juga merasa berarti di situ. Suatu kali, kami menyanyi di Rumah Sakit Cikini pada hari natal. Setelah menyanyi di aula, kami masuk ke bangsal-bangsal, mengunjungi mereka yang sedang sakit, sambil bernyanyi lagu natal. Saat itu saya melihat betapa sebuah nyanyian kecil dari kami dapat menimbulkan kebahagiaan. Semacam ada harapan yang muncul di rupa mereka ketika mendengarkan kami bernyanyi. Hal-hal seperti ini, bagi saya, merupakan alasan utama saya bertahan melayani Tuhan lewat paduan suara.

Sayangnya, meski menyadari bahwa paduan suara ini begitu berarti bagi saya, saya tidak bisa memungkiri perasaan kosong yang semakin muncul. Saya merasa jiwa sudah tidak di situ. Bila saya terlihat menikmati, itu karena saya berusaha menikmatinya. Ketika saya berusaha bergabung dalam lingkaran itu, saya berusaha menyatu dengan mereka dan terlihat akrab. Tapi sesungguhnya, saya kesepian. Ketika kami berteriak karena berhasil memenangkan lomba, saya pun berteriak. Tapi senang sendiri. Tidak senang bersama-sama.

Perasaan jauh semakin diperparah dengan adanya kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan rasa saya. Saya berusaha setuju dengan kebijakan-kebijakan itu, tapi tidak bisa. Kebijakan tersebut sungguh jauh dari harapan yang ada di benak saya. Jalan pikiran saya dengan mereka semakin jauh dan saya tidak bisa berkompromi dengan berbagai perbedaan-perbedaan ide yang muncul.

Akhirnya, saya tidak lagi merasakan dorongan besar untuk berkorban. Jangan pernah mengatakan saya tidak mengagungkan nilai pelayanan. Sungguh mati, saya sangat menomorsatukan hal tersebut. Tapi paduan suara ini sudah kehilangan esensinya bagi diri saya. Sepi. Monoton.

Surat itu kini saya simpan di lemari saya. Meski kabar yang dibawanya tidak menyenangkan, namun surat itu cukup berarti. Selagi menulis ini, muncul berbagai pernyataan ‘seandainya’. Andai saja mereka tidak berubah, andai saja mereka dapat mengambil kebijakan dengan benar, andai saja saya bisa menahan diri dan terus datang meski merasa kosong. Tapi akhirnya saya menyadari bahwa semua pernyataan itu tidak ada artinya, karena mungkin Tuhan memang sudah menyuruh saya berhenti.

Bagaimanapun itu, saya tetap berterima kasih atas semua keindahan yang saya alami tahun-tahun belakang ini. Andaikan ada yang mengerti, bahwa bukan keinginan saya untuk tidak setia. Sungguh, saya sangat menginginkannya. Namun kesetiaan butuh rasa kesatuan. Sayangnya, rasa itu perlahan-lahan hilang. Kini yang tinggal hanya kenangan saja.

Tapi saya tidak menyesalinya. Satu fase lagi dalam hidup saya berakhir. Bisa jadi, di waktu ke depan, saya kembali lagi ke fase itu, kembali bersekutu dalam paduan suara itu. Tapi bisa jadi, saya memang tidak akan pernah kembali. Saat ini saya tidak memiliki petunjuk apapun akan itu.

Sekali lagi, terimakasih telah menjadi bagian yang sangat berarti bagi saya.

Syalom.





go blog

11 02 2008

Dunia weblog atau jurnal online makin lama memang makin digilai. Apalagi banyak situs jurnal online yang semakin memperbaharui fiturnya. Belum ditambah dengan kemudahan memiliki situs sendiri, dengan menghubungkannya lewat situs-situs ternama, seperti Blogspot atau WordPress. Operasinya mudah, tapi sudah bisa narsis dengan pakai nama sendiri, misalnya www.punyague.com. Biayanya nggak mahal lagi.

Nggak cuma para duniamayaers (hehehe) yang senang blogging. Lama kelamaan, banyak juga artis yang punya blog. Ada Maia, Dian Sastro, Wulan Guritno, sampai Indra Lesmana sekalipun. Malah Yusril Ihza Mahendra pun nge-blog juga. Hebaaat.

Sejak bertahun-tahun lalu, saya pun ikut serta dalam kegilaan blogging. Yang serius sih awalnya di Friendster, tapi karena waktu itu kantor saya tidak bisa membuka situs ini, maka buat juga di Multiply. Eh, sekarang malah tertarik juga dengan WordPress. Akhirnya bingung sendiri, ada 3 blog, buat apaan aja yak?

Akhirnya, kalau majalah aja punya content criteria, maka gue pun membuat kriteria untuk tiap blog. Hahaha.. Sinting lo, mels! Jadi inilah pengkhususan yang gue punya.

fat but cute

Dimulai dari towwwaaaa.blogs.friendster.com. Dulu sih blog ini banyak pengunjungnya, tapi seiring dengan jarangnya gue posting (dan isinya juga kebanyakan curcol! Hehehee…), maka makin dikit yang mampir. Tapi nggak tau juga sih, abisnya gak bisa lihat persentase-nya. Akhirnya gue memutuskan untuk menggunakannya sebagai daily journal aja, lebih private.

it’s, oh, so quiet

Lalu towwwaaaa.multiply.com. Di sini, gue bisa lebih bebas. Tulisannya sesuka hati gue, tata bahasanya campur-campur, dan bisa posting lagu ataupun video. Lebih ekspresif. Hehehe… Banyak yang mampir, senang juga melihatnya.

house of mels

Nah, yang paling sepi di melsmangunsong.wordpress.com. Maklum, isinya kebanyakan tulisan-tulisan yang serius. Panjang juga. Wajar aja kalau pada malas baca. Nggak papa, karena blog itu gue bikin buat latihan nulis. Jadi jangan heran kalau yang komen cuman segitu aja, Smita sebagai pengunjung terajin. Hehehehe… Tapi dari grafiknya sih sebenarnya banyak juga yang dateng, cuma nggak tinggalin pesan aja.

Hihihihi… Ini campuran sama hobi nulis dengan gairah narsisis memang. Hehehe.. Nggak papa ‘lah. Nggak merugikan orang lain, toh?!

Jadi sudi mampir, ya. Mau curhat-curhatan via Friendster boleh, sharing video atau lagu lucu via Multiply boleh, atau mau sedikit kontemplatif via WordPress juga boleh.

Bebas teratur aja. Halah.





dongeng penyihir

11 02 2008

harry potter and the deathly hallows

Yayaya, seperti banyak orang lainnya, saya termasuk penggila Harry Potter. Tidak sampai masuk fans club segala, sih. Hahaha… Saat-saat membaca buku, terutama novel, merupakan saat yang menyenangkan bagi saya. Membuat saya jadi self-centered sesaat. Saya juga jadi tidak sabaran, ingin cepat tahu hasil akhirnya, sehingga terlihat giat sekali membacanya.

Sebenarnya saya bukan pembaca yang mudah. Meski uang saya banyak keluar untuk membeli buku, namun hanya sedikit yang berhasil saya baca. Terkadang malah ada yang terputus di tengah jalan. Alasannya simpel: saya bosan.

Untuk buku setebal Harry Potter, seharusnya saya merasa bosan. Well, di pertengahan memang sempat begitu, namun J. K. Rowling cukup mampu memainkan mood pembaca. Paling tidak, saya berusaha untuk terus bertahan membacanya, karena ingin tahu akhir dari cerita penyihir terkenal ini.

Saya memang termasuk telat membacanya. Maklum, saya harus menunggu edisi bahasa Indonesia keluar. Habis itu, masih menunggu edisi soft cover lagi. Sintiang. Teman-teman banyak yang menyuruh saya beli edisi bahasa Inggris saja. Tapi saya bilang begini, “Abis gue kan dari awal udah baca yang bahasa Indonesia. Udah kebiasaan dengan Myrtl Merana atau Dia Yang Namanya Tidak Boleh Disebut“. Hihihi.. Nanti kalau saya tidak paham istilah-istilahnya bagaimana? :P

Yang pasti, prediksi saya benar: Severus Snape ada di pihak Dumbledore. Saya selalu bilang kepada semua orang bahwa Dumbledore tidak pernah salah (walaupun di edisi ini akhirnya diberi tahu juga letak kelemahan Dumbledore. Hehehe…).

Serunya, kemarin saya mendapatkan artikel yang isinya hasil pembicaraan antara J. K. Rowling dengan fans atau wartawan, mengenai kehidupan setelah tahun ketujuh, yang tidak diceritakan di dalam buku. Lengkapnya, langsung aja baca di sini .





all you need is love

11 02 2008

Seminggu kemarin, saya belajar tentang cinta.

Media pembelajarannya mudah saja, yaitu dari film. Meski merupakan cerita fiksi, tapi saya belajar banyak darinya. Dan yang terutama, saya sekarang memiliki tanggapan atas pendapat sahabat saya, yang bilang kalau kita tidak akan hidup dengan cinta. “Bullshit kalau ada yang bilang pernikahan bisa berjalan dengan modal cinta. Gue kan udah nikah mel. Udah ngerasain gimana susahnya nikah. Lo tuh butuh duit. Apalagi kalau udah punya anak. Kalau suami lo gak mumpuni, berat banget”.

Saya saat itu hanya terdiam saja. Di benak saya, ingin rasanya menyanggah pendapatnya. Tapi saya juga tidak berani bicara banyak, karena pengetahuan saya masih sangat minim dalam hal pernikahan seperti ini.

Tapi saya dapat petunjuknya minggu kemarin!

Ceritanya, kemarin itu semacam movie week bagi saya. Diawali dengan menonton film Radit dan Jani di hari Senin, lalu P. S. I Love You di hari Rabu, Along Came Polly di hari Kamis, dan I Am Sam di hari Jumat. Hahaha.. Berdarah-darah banget deh hati saya, soalnya nangis terus.

Untuk lebih memudahkan, coba saya bikin review kecil-kecilan dulu tentang 2 film pertama, ya. Mengingat Along Came Polly dan I Am Sam adalah film lama, jadi asumsi saya sudah banyak yang tahu jalan ceritanya.

Radit dan Jani

radit dan jani

Saya harus mengakui kalau saya senang sekali menonton film ini. Terlepas dari alur cerita yang naik turun (dan membuat bosan), tapi peran yang dimainkan Vino Bastian dan Fahrani sangat baik. Terasa real dan benar-benar mencerminkan tagline yang digunakan film ini: BRUTALLY ROMANTIC. Kasar, tapi manis.

Teman saya, Jehan, mempermasalahkan mengenai teknik pengambilan gambar yang menggunakan ‘hand shot‘. Haduh, saya tidak tahu istilahnya apa. Intinya kamera tidak ditaruh di penyangga dan di pegang di bahu atau dijinjing. Semacam itulah. Akhirnya gambar jadi goyang-goyang. Saya sih tidak terlalu terpengaruh, tapi memang dalam beberapa scene gambarnya bergoyang cukup parah. “Mual gue nontonnya bok,” alasan Jehan. Saya jawab aja gini, “Itu sih faktor usia, Je!”. Hahahaha…

Balik ke inti cerita. Ada sepasang muda-mudi (halah), yang hidup dengan rock ‘n roll attitude. Gayanya tidak jauh dengan Realita, Cinta, dan Rock ‘n Roll deh. Yang menyutradarai juga sama, Upi. Pasangan itu ceritanya sudah menikah (hm, sebenarnya kurang jelas juga, menikah atau tinggal bersama). Hubungannya ditentang oleh orangtua Jani (Fahrani), yang berasal dari keluarga berada. Mereka keukeuh menganggap Radit (Vino Bastian) telah merubah Jani jadi liar. Tapi Jani sendiri bersikeras mengatakan bahwa sebelum bertemu Radit, ia sebenarnya sudah bergaya seperti itu. Orangtuanya saja yang belum tahu.

Kedua pasangan ini yakin bahwa mereka akan meraih kebahagiaan bersama. Lengkapnya, silahkan tonton sendiri. Tips dari saya, bila ingin menikmati film ini, maka Anda harus benar-benar bisa berempati pada setiap tokoh, baik Radit, Jani, Ayah Jani, maupun Ibu Jani. Kalau gagal berempati, maka Anda akan mengalami nasib seperti orang-orang di belakang saya, yang dengan sok jantannya berteriak “Halah, cengeng banget sih nih cowok. Nggak banget”.

Kalau berhasil berempati, bisa jadi Anda akan merasakan seperti yang saya rasakan bersama beberapa teman. Ada kesedihan di situ, rasa sakit, pemberontakan, dan keragu-raguan, seolah bertanya, “Apakah kebahagiaan itu betul-betul akan datang? Sepertinya memang nggak, tapi gue bener-bener cinta sama orang ini”. Sederhananya begitu.

Sayangnya, sekali lagi, durasi film yang sangat panjang membuat usaha berempati seringkali kendor. Dan begitu usaha itu hilang, bum, cukup susah mengembalikan kenikmatan menontonnya.

P. S. I Love You

ps-i-love-you1.jpg

Film ini sebenarnya adaptasi dari novelnya yang dikarang oleh Caecelia Ahern. Lucunya, banyak yang menganggap versi film justru lebih bagus. Di novel, tokoh Gerry dan Holly Kennedy semacam highschool sweethearts gitu. Tapi di versi film, Holly Kennedy (Hillary Swank) digambarkan bertemu Gerry Kennedy (Gerard Butler) di Irlandia, ketika Holly sedang liburan (ceritanya Gerry adalah irish guy. Sedikit romantis, mengingat Gerard Butler adalah Scotish).

Hubungan Gerry-Hillary awalnya tidak disetujui oleh keluarganya. Apalagi karena hubungan tersebut, Gerry harus pindah dari Irlandia (Too bad, padahal saya dan Jehan justru berencana pindah ke sana. It’s so fuckin’ beautiful!). Hillary pun tidak mendapat persetujuan dari ibunya. Tapi melawan semua masalah itu, mereka tetap berdua dan merealisasikan cita-cita menjadi pasangan yang sempurna. Dan berhasil! Anda harus tonton sendiri untuk mengetahui apa yang saya maksud. Sangat real, tapi cantik dan indah.

Sayangnya, hubungan yang seperti dongeng indah itu harus berakhir ketika Gerry meninggal oleh tumor otak. Huhuhu…. Saya selalu sedih dengan topik ‘meninggal di usia muda’. Ada beberapa kenalan saya yang ditinggal suaminya dalam usia muda dan itu sungguh tidak mudah. Apalagi untuk hubungan yang sangat kental seperti dalam film ini.

So sweet‘-nya lagi, Gerry justru menciptakan skenario agar Hillary bisa mengatasi kesedihannya, yaitu dengan mengirimkan beberapa surat, yang kesemuanya berisi perintah-perintah yang harus dilakukan Hillary. Semuanya dilakukan Gerry agar Hillary tidak sedih berkelanjutan dan bisa melanjutkan hidupnya. Romantis banget!

Selain terkagum-kagum dengan Irlandia, saya juga langsung jatuh cinta dengan Gerard Butler dan Jeffrey Dean Morgan, yang berperan sebagai William Gallagher, sahabatnya Gerry. Huhuhu… mereka seksi sekali!

Bila diminta menarik benang merah, maka saya menyimpulkan kedua film ini (ditambah 2 film lainnya) berbicara tentang kekuatan cinta. Bila memutuskan untuk menonton 2 film di atas, coba perhatikan emosi tiap pemainnya. Soulful. Benar-benar dalam. Seolah dunia milik mereka saja dan tiap hari selalu jatuh cinta.

Itu yang akhirnya memantapkan saya untuk mengatakan bahwa saya tidak setuju dengan pendapat sahabat saya tadi. Saya ikhlas bila dicap polos dan naif, tapi saya percaya bahwa yang dibutuhkan setiap manusia adalah cinta. Boleh saja dibilang saya terlalu banyak membaca novel atau film yang mengumbar cinta. Tapi percaya deh, otak saya tidak segitu kakunya. Saya juga mendengar berbagai cerita yang ada di kehidupan nyata. Betapa beratnya hidup. Betapa susahnya menjalin sebuah hubungan. Saya mendengar cerita-cerita itu, bahkan mungkin lebih banyak cerita yang saya dengar daripada orang lain.

Tapi saya memilih untuk menjadi naif. Ingin seperti anak kecil yang percaya bahwa di akhir setiap cerita, pasti kita bertemu kebahagiaan. Karena itu saya ingin mencari seseorang yang saya cintai. Yang mana saya akan menjalani hidup dengannya. Saya tidak butuh lelaki yang mapan atau bisa selalu memberikan benda-benda yang dianggap bisa menyenangkan hati saya. Yang saya butuhkan justru lelaki biasa, yang telah membuat saya jatuh cinta secara luar biasa, dan bersamanya saya bisa melawan berbagai masalah di dunia ini.

Do you think i was a dreamer?! Yes, i do! Mungkin terkadang yang dibutuhkan memang kepolosan seperti itu. Saya ingin memiliki hubungan seperti Radit dan Jani, yang menjalani susah bersama-sama, sampai harus bermain ABC 5 dasar agar ‘lupa’ dengan kelaparan yang menyiksanya. Saya ingin memiliki seseorang seperti Gerry Kennedy, pria biasa yang tetap sempurna di mata saya, yang membuat dunia seolah hancur ketika ia pergi. Saya ingin menikah dengan lelaki seperti Polly Prince, yang bisa membuat saya berani melakukan berbagai hal, meskipun berisiko tinggi. Dan ini yang terutama, saya ingin menjadi seperti Sam Dawson, yang dalam kepolosannya tetap percaya akan cinta.

All you need is love. Sayangnya banyak orang yang tidak percaya atau ragu-ragu untuk bertahan akan cintanya, sehingga membuat kekuatan dari cinta itu sendiri pudar. Mungkin di situ letak masalahnya.

Ah, sekarang saya tahu jawabannya.