Barusan saja saya membaca sebuah surat yang dikirim untuk saya siang tadi.
Isinya ternyata dari paduan suara tempat saya bergabung selama beberapa tahun ini. Kop dan perihal yang ditulis sudah tidak asing bagi saya. Surat peringatan, karena absensi yang rendah. Tapi ternyata kali ini surat tersebut terdiri dari 2 lembar. Selain lembar peringatan, ada sebuah lembaran lain yang berisikan ucapan terima kasih karena pernah bergabung di paduan suara tersebut. Tulisnya begini: “Bersama dengan surat ini, kami menyampaikan ucapan terima kasih karena saudari pernah bergabung bersama kami di ****. Karena sampai saat ini kami belum dapat melihat perbaikan kehadiran saudari dalam segala kegiatan **** setelah surat peringatan ke 1, 2, dan 3 kami sampaikan sebelumnya”.
Ada 2 hal yang muncul di benak dan rasa saya. Pertama, lucu. Akhirnya saya dikeluarkan juga, mengingat sudah setahun saya tidak pernah muncul. Sayangnya yang kedua cukup menyita perhatian: ada rasa kehilangan. Kehilangan sesuatu yang berarti. Seperti sesuatu yang biasa melekat pada diri saya, harus dilepaskan.
Keterlibatan saya dengan paduan suara itu bukan sekadar keanggotaan biasa saja. Secara tidak disadari, keterlibatan itu sudah menjadi suatu identitas yang saya jaga dan hormati. Bukan sekadar simbol kebanggaan.
Jauh sebelum saya bergabung di paduan suara ini, saya sudah memiliki catatan sejarah khusus dengannya. Ketika itu saya masih SD dan bergabung dengan paduan suara anak-anak. Yah, saya memang senang menyanyi. Saat itu banyak tante saya yang tergabung dengan paduan suara ini. Ibu pun sempat menjahit seragam para anggotanya. Mungkin karena itu, akhirnya saya diajak jadi ‘bintang tamu’ untuk sebuah acara natal. Tidak sendirian, karena ada segerombolan anak-anak kecil lainnya. Saya masih ingat jelas. Saya memakai baju putih saat itu.
Bertahun-tahun kemudian, paduan suara itu tetap eksis. Ketika saya kuliah, kakak saya bergabung dengan paduan suara itu. Dia mengajak saya kala itu, namun saya tolak. Meski begitu, muncul pergumulan di hati saya, ada dorongan yang sangat besar untuk kembali bernyanyi di paduan suara (semenjak SMP, saya berhenti dalam tiap kegiatan paduan suara). Bagi mereka yang pernah ikut paduan suara, pasti mengerti betapa rindunya proses bernyanyi dalam kelompok ini. Saat itu saya juga tergerak untuk melayani. Pingin melakukan sesuatu yang membahagiakan Tuhan saya.
Akhirnya, saya bersedia untuk masuk paduan suara ini. Masuknya bareng Kak Itis. Kalau tidak salah, bulan Juli. Tahunnya 2002, mungkin. Lupa. Di masa awal, saya menghadapi masa adaptasi yang sulit, mengingat saat itu saya paling muda. Yang lainnya sudah bekerja. Masalah komunikasi, tentunya!
Berada dalam lingkungan asing tentu sangat menyiksa. Rasanya seperti alien, tidak tahu harus apa dan harus memulai obrolan apa. Untungnya, tidak beberapa lama, seorang teman yang usianya setahun di bawah saya ikut bergabung. Saya senang sekali. Apalagi ada beberapa teman lain, yang usianya juga tidak jauh dengan saya, ikut serta. Makin lama saya mulai merasa nyaman. Saya menemukan ‘teman perjuangan’. Sementara itu, saya pun mulai menikmati pelayanan saya.
Waktu berlalu, saya mulai bekerja. Teman-teman lainnya juga mengalami perubahan. Teman seperjuangan saya (yang usianya setahun di bawah saya) mulai jarang masuk dan akhirnya ia dikeluarkan. Teman-teman yang tadinya saya nilai ‘asik’, sudah menjelma menjadi sosok yang sulit dimengerti. Singkat kata, kita mulai menjauh. Perlahan, tanpa saya sadari, saya mulai merasa sendiri. Perasaannya jadi sama seperti saat hari pertama saya bergabung. Sepi.
Untungnya, saat itu saya mendapatkan tanggung jawab yang menantang. Saya coba emban tanggung jawab itu dengan sepenuh hati. Sayangnya, muncul banyak selisih paham. Saya jadi sering kesal, merasa pengorbanan saya yang sudah ‘all out‘ itu dipandang sebelah mata. Di mata saya, yang akan dihargai hanya mereka yang berhasil memberikan keuntungan cukup besar bagi pendapatan. Sementara kerja saya kebanyakan digerakkan oleh otak kanan, yang menuntut rasa seni dan kreativitas. Hasil jadinya adalah karya cipta, bukannya materi. Ini yang tidak mendapat cukup penghargaan dari mereka.
Suatu kali paduan suara tersebut mengadakan konser besar. Saya bertugas membuat buku acara. Percayalah, saya kerahkan segala daya upaya agar buku acara tersebut terlihat baik dan sempurna. Saya perhatikan tiap disain, warna, huruf, sampai susunan kata. Hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat saya harus bekerja sinergi dengan seorang teman disainer grafis yang kantornya jauh dari lokasi kantor saya saat itu, di wilayah Kuningan. Alhasil, kami harus selalu berhubungan lewat telfon, diam-diam tentunya. Saya pun harus mondar-mandir Kuningan-Subur (Setiabudi Building) atau Kuningan-Bendungan Hilir. Buat apa? Buat mencetak dummy tentunya. Mau tahu bagaimana prosesnya? Seperti ini: saya datang ke kantor jam 7 (biar bisa koreksi lembaran buku acara atau undangan) > korespondensi dengan teman disainer grafis (lewat telfon dan email) > kembali kerja karena sudah jam 9 > jam makan siang!!! ups, no, saya bukannya makan siang, tapi mencari ojek untuk pergi ke BenHil > balik ke kantor, beli roti di warung buat lunch > kembali kerja > waktunya pulang! Pulang? Tentu tidak! Saya harus kembali ke BenHil > pergi ke tempat latihan. Dan percayalah, proses ini berlangsung berminggu-minggu. Apalagi terkadang saya harus curi waktu ke kantor teman disainer grafis tersebut, apabila file tidak bisa dikirim lewat email. Perginya naik apa? Tentu saja naik ojek. *sigh*
Urusan selesai sampai situ? Ternyata tidak! Ketika semua materi sudah dikirim ke percetakan (melewati berbagai proses editting yang melelahkan), tiba-tiba saya dapat telfon yang mengatakan ada sebuah bank ingin memberikan sumbangan dan minta ditaruh logonya di buku acara! Shite! Mana mungkin? Undangan sudah dicetak rapih. Ketika saya konfrontir, saya justru mendapat jawaban ini, “Lo gimana sih, ini kan sumbangan”. Mau nangis, tapi saya tahan. Saya sudah mengingatkan dari jauh-jauh hari bahwa saya tidak mau ada iklan tempelan. Apa mau dikata, akhirnya di buku acara yang indah itu, tertempel sebuah iklan. Tidak cantik. Tidak dapat menahan, akhirnya saya menangis sejadi-jadinya. Tidak ada yang tahu.
Di lain waktu, saya menghabiskan berbulan-bulan untuk membuat video profil paduan suara saya. Mau tahu lagi ritual saya? Begini: datang ke kantor pagi jam 7 untuk edit materi video > kerja > makan siang > kerja lembur > jam 7 berangkat ke studio editting dan menemukan para editor masih asik main play station atau ada orang TransTV sedang memakai ruangan (maklum, dengan budget murah, saya tidak bisa men-slot ruangan. Jadi harus tunggu ruangan kosong) > masuk studio pukul 11-an > jam 1 belum selesai > jam setengah 2 pulang naik taksi. Please notice that i was a journalist at that time. Ritual kerja dan mobilitas saya di siang hari sangat tinggi, karena itu badan rasanya remuk-remuk saat harus bergadang sampai dini hari, untuk kembali bangun jam 6 keesokan paginya.
Saya bukan ingin menunjukkan kehebatan, tapi ingin menceritakan seberapa besar dan dalam perhatian saya bagi paduan suara ini. Di lain pihak, saya juga mendapatkan begitu banyak pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Tampil di berbagai acara, bernyanyi, menari. Mengikuti berbagai lomba. Kesemuanya sangat istimewa. Saya juga belajar mengenai tata panggung dari paduan suara ini. Pengetahuan itu sangat membantu saya saat bertindak sebagai organizer di berbagai acara. Tidak hanya itu, saya juga mendapatkan cukup mujizat selama melayani di paduan suara ini. Salah satunya adalah tugas kerja di negara luar, yang saya yakini sebagai balasan Tuhan atas kerja keras saya. “DIA bayar tunai, bok,” seru saya kepada kakak saat itu.
Saya juga merasa berarti di situ. Suatu kali, kami menyanyi di Rumah Sakit Cikini pada hari natal. Setelah menyanyi di aula, kami masuk ke bangsal-bangsal, mengunjungi mereka yang sedang sakit, sambil bernyanyi lagu natal. Saat itu saya melihat betapa sebuah nyanyian kecil dari kami dapat menimbulkan kebahagiaan. Semacam ada harapan yang muncul di rupa mereka ketika mendengarkan kami bernyanyi. Hal-hal seperti ini, bagi saya, merupakan alasan utama saya bertahan melayani Tuhan lewat paduan suara.
Sayangnya, meski menyadari bahwa paduan suara ini begitu berarti bagi saya, saya tidak bisa memungkiri perasaan kosong yang semakin muncul. Saya merasa jiwa sudah tidak di situ. Bila saya terlihat menikmati, itu karena saya berusaha menikmatinya. Ketika saya berusaha bergabung dalam lingkaran itu, saya berusaha menyatu dengan mereka dan terlihat akrab. Tapi sesungguhnya, saya kesepian. Ketika kami berteriak karena berhasil memenangkan lomba, saya pun berteriak. Tapi senang sendiri. Tidak senang bersama-sama.
Perasaan jauh semakin diperparah dengan adanya kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan rasa saya. Saya berusaha setuju dengan kebijakan-kebijakan itu, tapi tidak bisa. Kebijakan tersebut sungguh jauh dari harapan yang ada di benak saya. Jalan pikiran saya dengan mereka semakin jauh dan saya tidak bisa berkompromi dengan berbagai perbedaan-perbedaan ide yang muncul.
Akhirnya, saya tidak lagi merasakan dorongan besar untuk berkorban. Jangan pernah mengatakan saya tidak mengagungkan nilai pelayanan. Sungguh mati, saya sangat menomorsatukan hal tersebut. Tapi paduan suara ini sudah kehilangan esensinya bagi diri saya. Sepi. Monoton.
Surat itu kini saya simpan di lemari saya. Meski kabar yang dibawanya tidak menyenangkan, namun surat itu cukup berarti. Selagi menulis ini, muncul berbagai pernyataan ‘seandainya’. Andai saja mereka tidak berubah, andai saja mereka dapat mengambil kebijakan dengan benar, andai saja saya bisa menahan diri dan terus datang meski merasa kosong. Tapi akhirnya saya menyadari bahwa semua pernyataan itu tidak ada artinya, karena mungkin Tuhan memang sudah menyuruh saya berhenti.
Bagaimanapun itu, saya tetap berterima kasih atas semua keindahan yang saya alami tahun-tahun belakang ini. Andaikan ada yang mengerti, bahwa bukan keinginan saya untuk tidak setia. Sungguh, saya sangat menginginkannya. Namun kesetiaan butuh rasa kesatuan. Sayangnya, rasa itu perlahan-lahan hilang. Kini yang tinggal hanya kenangan saja.
Tapi saya tidak menyesalinya. Satu fase lagi dalam hidup saya berakhir. Bisa jadi, di waktu ke depan, saya kembali lagi ke fase itu, kembali bersekutu dalam paduan suara itu. Tapi bisa jadi, saya memang tidak akan pernah kembali. Saat ini saya tidak memiliki petunjuk apapun akan itu.
Sekali lagi, terimakasih telah menjadi bagian yang sangat berarti bagi saya.
Syalom.
kata mereka