Jumat malam kemarin, dengan impulsifnya saya dan Arie menonton film Otomatis Romantis di Setiabudi Building. Iseng saja, malas kalau harus langsung pulang ke rumah. Saya bahkan tidak tahu ceritanya tentang apa, yang saya tahu publisis dari film ini adalah teman saya, Imel, dan waktu itu ia pernah cerita kalau Tora Sudiro main di sini. Tertarik juga jadinya.
Salah satu ide ceritanya sedikit mirip dengan Get Married, dimana ada seorang perempuan, Nadia (Marsha Timothy), yang sedang bingung karena belum menikah, meski sudah berusia 30 tahun. Sang ayah mengatakan bahwa sudah saatnya ia menikah, karena menurut primbon, tahun itu adalah tahun yang tepat untuk melepas masa lajang. Terdengar familiar? Hahaha… Kasihan, deh!!!
Di film ini Nadia jatuh cinta dengan Bambang (Tora Sudiro), bawahannya yang kerja di bagian administrasi. Sampai sini, banyak yang kemudian menyamakan tema ceritanya dengan FTV Ujang Pantry. Tapi, tidak, saya sedang tidak ingin membicarakan mengenai tema itu. Yang menarik perhatian saya justru ide mengenai orangtua yang mendesak anaknya untuk menikah, karena sudah berusia 30 tahun.
Topik mengenai ’saatnya menikah’ ini sedang jadi pembicaraan antara saya dengan teman-teman. Pasalnya, banyak sekali teman dekat yang memutuskan untuk menikah di tahun ini. Yah, kalau dipukul rata, maka usia mereka sekitar 27 tahun ‘lah tahun ini. Kalau saya membayangkan ke masa ketika kecil dulu, usia 27 tahun memang diidentikkan dengan ‘masa yang tepat untuk menikah’. Jadi tidak heran juga melihat banyaknya undangan pernikahan datang dari teman-teman.
‘Masalah’ muncul ketika saya dan beberapa teman lainnya memiliki gambaran yang ‘kabur’ mengenai kapan kami akan menikah. Bwahahaha…. Perempuan-perempuan malang, memang. Hihihi.. Akhirnya Jupla dan Smita, sahabat-sahabat saya, memutuskan tahun 2008 ini sebagai masa pelepasan status. Dengan kata lain, mereka ingin menikah tahun ini! “Paling banter, tahun depan, deh,” tambah Jupla, meminta excused.
Renty, sahabat saya sejak SMA, kemudian jadi bingung. Mungkin saya dengan dia terlalu sering jalan bareng, sehingga pola pikirnya sama, dimana kita belum bisa membayangkan diri kita menjadi ibu rumah tangga dan memakai cincin pernikahan. Akhirnya dia bilang, “Kalau gue, umur 29 aja, ah. Kan ceritanya wanita karir, pingin mengejar karir dan mempersiapkan diri dulu”.
Nah, nah, giliran saya yang bingung. Kapan, ya??? Well, beberapa tahun lalu, saya sempat terpikir untuk tidak menikah, dengan alasan tidak akan pernah merasa siap mengikatkan diri dengan seorang laki-laki seumur hidup saya. Tapi saya berkomitmen untuk memiliki anak. Jadi saya bilang ke ibu, bahwa menikah ataupun tidak menikah, saya akan memiliki anak. Entah bagaimana caranya, yah yang paling legal sih adopsi anak. Hehehe… Tapi itu kan juga tidak mudah.
Seiring berjalannya waktu, pemikiran saya goyah juga. Sekarang saya mendeklarasikan diri ingin memiliki seseorang yang ada hingga lanjut usia. Ingin memiliki suami yang sekaligus juga soulmate. Intinya, saya ingin menikah. Tapi kapan? Nah, ini yang lagi-lagi tidak bisa dijawab.
Di depan teman-teman, saya bilang begini, “Kayaknya gue umur 31 tahun, deh”. Kontan saja mereka kaget. “Masak sih, Mel? Selama itu,” tanya Jupla. Jawaban gue kemudian simpel saja, “Yah, gue kayaknya baru siap di usia itu, Jup. Masih banyak yang mau gue kejar dan sebelum semua itu terwujud, ego gue pasti nggak akan siap untuk terikat dalam pernikahan”. Mereka akhirnya menyambut jawaban saya dengan diam saja. Mungkin sebenarnya ingin geleng-geleng kepala mendengar pembelaan saya itu. Hahaha…
Nah, semalam, saya kumpul-kumpul bareng gank SMA saya, JKC. Saya pun kembali ditanya kapan ingin menikah. Saya lalu bilang akan menikah di usia 30 tahun. Dina, anggota gank yang menikah pertama kali dan pernah saya ceritakan mengenai rencana pernikahan saya, kemudian menyambar, “Halah, kemaren lo bilangnya 31, sekarang kok dikorting jadi 30″. Saya ketawa saja.
Lalu saya dan Renty mulai membicarakan mengenai hari baik untuk menikah. Kebetulan sebelum bertemu mereka, saya dan Arie ketemuan untuk nonton film di Blitz. Sambil menunggu film dimulai, kita membicarakan juga mengenai hari baik untuk menikah ini. Menurut dia, berdasarkan informasi dari Yufi, teman kampus saya, angka 7-8-9 adalah angka-angka yang bagus dalam mitologi Cina, karena berarti keberuntungan, kemakmuran, dan kelanggengan. Setelah Arie melihat tanggalan, ternyata tanggal 7 Agustus 2009 adalah hari Jumat, yang merupakan hari yang cocok buat menikah, mengingat weekend.
Nah, semalam Renty mengatakan ada hari baik lagi selain 7-8-9 itu (dikatakan baik, karena berurutan), yaitu 9-10-11 atau 9 Oktober 2011, yang jatuh di hari Minggu. Renty bilang, dia ingin ‘ngetek-in’ hari itu sebagai tanggal pernikahannya. “Cuman mundur setahun (usia 30 tahun) dari rencana nikah 29 tahun, kan. Nggak papa deh,” celetuk dia dengan muka yang miris. Hahaha… Terus saya gimana dong? Kan nggak mungkin nikah di hari yang sama, nanti tamunya bingung harus datang ke mana. Hihihi…
Akhirnya kita melihat tanggal lainnya, yaitu 10-11-12 (10 Nopember 2012). Ternyata… Hari sabtu! Yayy… Akhirnya giliran saya yang langsung menandai itu sebagai hari pernikahan saya. Mundur setahun juga, sih. Tapi tak apalah. Hahaha… Sinting juga, ya. Nentuin hari pernikahan kok kayak nebak nomor buntut saja. Sambil tertawa-tawa, hati kecil saya akhirnya berbisik, “Tapi sebenarnya mau kapan, mels?”.
Yah, itu pertanyaan yang membingungkan juga. Saya masih ‘beruntung’ karena kakak belum menikah, jadi tidak harus buru-buru. Tapi kemudian saya melihat bahwa ayah dan ibu juga tidak mendesak kakak untuk menikah. Sekali-kali memang mereka bertanya, tetapi ketika kakak bilang belum waktunya, mereka tidak memaksa.
Akhirnya perspektif saya berubah, bukannya saya ‘beruntung’ karena kakak belum menikah, namun beruntung memiliki orangtua yang memahami jalan pikiran yang dimiliki anak-anaknya. Mereka tidak mendesak, karena tetap memiliki keyakinan bahwa anak-anaknya dapat menentukan jalan hidupnya masing-masing.
Saya jadi teringat masa-masa ketika bingung memutuskan untuk kuliah lagi atau terus bekerja. Wah, kayaknya ini sudah sering saya ceritakan di blog sebelumnya. Garis besarnya saja, kuliah saya itu mengharuskan saya standby dari pagi hingga sore. Jadual hariannya adalah dari jam 9 ke jam 15. Sementara itu saya bekerja di dunia media, yang tidak kenal waktu. Intinya, tidak mungkin ‘lah bekerja sambil kuliah. Paling banter, ya jadi freelancer seperti yang saya tekuni sekarang ini.
Tidak ada yang salah menjadi freelancer, apalagi dari segi keuangan tetap mumpuni. Bahkan terkadang saya mendapatkan lebih dari sebelumnya. Tapi terikat dalam sebuah perusahaan menjanjikan ketenangan dan kepastian. Iya, tidak?! Apalagi saat itu saya memiliki karir yang baik. Tentu saja berat betul melepasnya.
Sementara saya diliputi kebingungan tersebut, orangtua tidak pernah mendesak saya untuk kuliah lagi. Hanya sekali mereka mengingatkan, yaitu saat kakak lulus magister hukum. Ayah bertanya, kapan saya mau melanjutkan kuliah. Weits, saat itu, isu ini sensitif sekali, sehingga langsung saja saya marah. Saya bilang begini, “Tenang saja, Pa. Aku juga mau ngambil lagi, kok. Tapi nggak tau kapan, yang jelas pasti kuliah lagi”.
Dibilang begitu, ayah jadi sedikit kesal. Dia bilang gini, “Yah, terserah aja. Kan cuma tanya. Waktunya kapan sih terserah kamu aja”. Dan ayah dan ibu betul-betul setia dengan kalimat itu. Mereka tidak pernah bertanya lagi, hingga akhirnya saya datang ke mereka dan mengatakan ingin membeli formulir pendaftaran mahasiswa baru.
Saya katakan begitu, ayah justru bertanya, “Udah yakin, De? Memang saatnya sudah pas kalau sekarang?”. Sementara ibu juga tidak kalah membuat saya ragu, “Kalau kamu stay di situ dan kuliahnya ditunda setahun lagi, kira-kira benefit yang kamu dapatkan apa?”. Wah, tambah bingung. Saya tahu, orangtua mencoba mengajak saya untuk kritis, agar tidak ada penyesalan. Tapi sebagai manusia ter-plin-plan sedunia, tentu saja pertahanan saya jadi goyah kembali.
Di saat sedang bingung seperti ini, saya bercerita kepada teman sebangku saya, Danthy. Saat itu dia hanya bilang satu kalimat yang akhirnya mendasari posting-an saya kali ini. Dia bilang seperti ini, “Mel, tenang aja. Ketika saatnya sudah tiba, lo pasti tahu kok kapan harus berhenti. Lo akan merasakannya sendiri”.
Yes, the time will come and tell you. Itu betul-betul terjadi. Dalam kasus berhenti bekerja tadi, suatu saat ketika saya sedang rapat redaksi, saya terbawa dalam ruang waktu yang terpisah, dimana saya sibuk memikirkan mengenai diri saya sendiri. Dan kata hati saya, tanpa disadari berbisik dengan tenangnya, “Sekarang saatnya. Sudah cukup peran saya di sini”.
Masa-masa setelah itu menjadi begitu enteng. Tidak ada lagi keragu-raguan ataupun penyesalan. Bahkan beberapa hari setelah berhenti bekerja, saya tidak merasakan kesedihan atau apapun itu yang mungkin umum terjadi pada mereka yang berhenti bekerja. Icha, teman saya yang saat itu sedang keliling Eropa, berpendapat lewat sms, “Mungkin karena lo merasa fase itu sudah betul-betul selesai, mels. Sekarang saatnya menuju fase berikutnya”.
Saya membetulkan pendapat teman saya itu. Waktu sudah menyuruh berhenti dan pindah ke masa berikutnya. Kalaupun kemudian muncul masalah di awal fase kuliah-lagi ini, tapi itu dikarenakan proses adaptasi yang tidak mudah. Bukannya karena timing yang salah.
Kembali lagi ke topik semula, tentang waktu yang tepat untuk menikah. Jujur, saya belum siap untuk itu. Saya tidak terlalu setuju dengan pendapat Dina, yang mengatakan bahwa kita tidak akan pernah merasakan siap, karena itu harus berani. Bagi saya, keberanian saja tidak cukup. Karena itu saya lebih ’setubuh’ dengan ayahnya Mima, yang tidak setuju bila seseorang menunda pernikahan karena belum siap materi, namun bila belum siap mental dapat dimahfumi.
Sudah cukup banyak kasus perceraian dan perselingkuhan yang saya dengar. Bahkan sahabat-sahabat dekat saya pun banyak yang terlibat dalam situasi tersebut. Jumat malam kemarin, saya bertemu dengan seorang eksekutif yang saya kenal, sedang berjalan dengan seorang perempuan, yang saya tahu persis bukan istrinya. Eh, keesokan harinya, Sabtu siang, saya bertemu dia di Pacific Place, sedang bergandengan dengan istri dan anak-anaknya yang lucu banget. How’s with that?
Bagi saya, kehidupan rumah tangga yang langgeng hanya bisa dipertahankan dengan komitmen dan kesetiaan yang kuat dengan pasangan. Bagaimana itu bisa diwujudkan? Salah satunya adalah dengan memilih pasangan yang tepat. Dalam pembicaraan lewat Yahoo! Messenger, saya pernah mengatakan kepada Icha bahwa saya tidak mencari pasangan yang membebaskan saya dari masalah, melainkan pasangan yang bersamanya saya bisa menghadapi masalah yang muncul bersama-sama.
Klise? Memang. Tapi itulah prinsip dasar yang saya miliki. Itu juga yang mungkin membuat saya belum mantap untuk menikah. Selain belum siap, saya juga belum menemukan ‘teman seperjuangan’ saya. Silahkan bilang saya naif, saya rela saja.
Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang ingin mengajak saya berpacaran. Ralat, bukan hanya pacaran, tapi dia ingin langsung menikah. Kalau saja saya betul-betul kebelet ingin menikah, pasti sudah langsung saya pacari dia. Tapi itu tidak akan terjadi. Alasannya? Saya tidak sejalan pikiran dengannya. Jangankan untuk adaptasi atau asimilasi, kompromi saja susahnya bukan main. Bagaimana jika suatu kali nanti ada masalah dalam pernikahan saya? Bisa-bisa langsung bercerai. Huu…
Akhirnya, kapan saya akan menikah? Yang pasti belum sekarang. Usia 30 tahun? Atau tanggal 10 Nopember 2012? Tidak tahu juga. Jawaban saya kali ini: Suatu kali nanti, ketika saya sudah siap, begitu juga pasangan saya. Entah kapan. Tapi saya yakin hati saya akan memberi tahu kapan saat yang tepat untuk berpindah ke fase pernikahan itu. Sang waktu akan memberi tanda.
Anda mau bilang saya lugu dan tidak berani mengambil keputusan? Terserah. Tokh kalau ada apa-apa dengan hidup saya, Anda juga tidak dapat berbuat banyak, kan?
Akan ada waktunya. Tunggu saja.
kata mereka