menghadapi nasib

30 01 2008

Dasar apes.

Besok saya sidang. Sidang tahap pertama, dari keseluruhan 2 sidang.  Malang banget, dapat waktu yang tidak ‘romantis’, pukul 15.00! Cemasnya minta ampun. Lebih khawatir lagi begitu tahu siapa ‘lawan’ yang akan saya hadapi di ruang sidang esok. Konon, mereka sangat detil dan teoritis. Mampus saya.

Sekarang perasaannya tidak karuan. Ada rasa cemas luar biasa, tapi terselip juga kepercayaan diri. Ingin cepat-cepat berakhir, tapi berharap juga diundur. Ya, ya, ya. Sikap kontradiktif memang seringkali muncul di kala saya menghadapi peristiwa penting.

Kaki saya saat ini tidak berhenti bergoyang. Naik-turun. Mengisyaratkan perasaan mulai tidak tenang. Nanti malam pasti saya susah tidur, lalu besok pagi jantung deg-degan, diakhiri dengan tubuh yang dingin menjelang jadwal sidang dimulai. Saya kenal sekali dengan tubuh saya. Selalu begitu, tiap kali saya merasa tidak nyaman.

Hah, tapi harus dihadapilah. Tokh ini memang satu-satunya jalan, kan?! Sekarang saya hanya mencoba untuk tenang, sembari mendorong badan untuk bergerak menghafalkan rangkaian materi yang belum saya pelajari dari kemarin.

Pasti bisa! Pasti!

Doakan saya, ya.





bertahan pada pilihan

24 01 2008

Lagi-lagi saya dihadapkan pada pilihan!

Ada dua pilihannya. Yang pertama, sesuai dengan minat dan ketertarikan saya, tapi sulit dan sering dianalogikan sebagai kandang macan. Yang kedua, tidak terlalu menarik bagi saya, tapi konon menjanjikan kemudahan dan ketentraman.

Dari awal, saya selalu mengesampingkan unsur ‘kesusahan dan kengerian’, sehingga memilih yang pertama. Mudah-mudahan ini tidak berarti saya terlalu percaya diri atau mengabaikan kesanggupan diri (baca: kestabilan emosi). Di pikiran saya, dalam hidup yang sangat singkat ini, saya harus melakukan sesuatu yang paling saya inginkan. Agar tidak menyesal.

Kenyataan bahwa pilihan itu memendam beban yang sangat berat, bagi saya itu merupakan risiko yang harus dihadapi. Karena itu yang menjadi prinsip dasar haruslah minat dan keinginan terdalam saya. Meminjam istilah Ine, teman kuliah saya, yang penting adalah niat. Bila niat cukup bulat, sesulit apapun rintangan, pasti akan dihadapi.

Betul juga. Dua tahun lalu, saya pernah niat sekali berliburan dengan menggunakan uang sendiri. Saat itu saya bepergian dengan Renty mengunjungi dua kota, yaitu Bandung dan Jogjakarta. Packaging-nya memang indah: jalan-jalan, tapi sebenarnya tidak secantik itu. Harus ada sejumlah uang yang dikorbankan, lalu badan yang letih, dan lebih spesifik lagi, ada hal-hal yang tidak direncanakan. Dalam kasus saya dan Renty, unpredictable event itu berupa gempa bumi yang berskala 5.9 richter!

Sejatinya, liburan saya sudah langsung berakhir saat itu. Untungnya niat untuk bersenang-senang berhasil mempertahankan mood saya. Liburan pun terus berlanjut, meski tidak sesuai dengan yang saya perkirakan sebelumnya.

Karena itu, bagi saya, yang tersulit bukanlah menentukan sebuah pilihan, melainkan bertahan pada pilihan yang sudah dicetuskan. Beberapa saat lalu, Ine, teman saya tadi, menelepon sehubungan dengan berita miring mengenai pilihan pertama tadi. Wah, bingung juga jadinya. Susah sekali bertahan pada suatu pilihan, manakala pilihan tersebut TAMPAKNYA tidak terlalu indah dan menawarkan beban yang berat.

Kenapa kata ‘tampaknya’ saya beri huruf besar, karena itu merupakan sebuah perkiraan, yang belum tentu benar. Hanya saja karena banyak orang telah mengatakan seperti itu, akhirnya probabilitasnya menjadi tinggi. Ine tadi bilang begini, “Gue takut, ini tuh sebenarnya warning buat kita, atau hanya cobaan saja, ya”.

Akhirnya, di tengah kebingungan, saya dan Ine tetap berusaha setia pada pilihan pertama. Kami sepakat menganggap masalah yang mungkin dihadapi merupakan sesuatu yang: (1) tidak bisa dipastikan keberadaannya dan (2) bukan tidak mungkin dapat kami atasi. Jadi yang dibutuhkan di sini adalah keberanian. Keberanian untuk tetap bertahan pada sesuatu yang diyakini paling tepat dengan yang diinginkan.

Semoga saja pilihan yang kami buat tidak salah. Intinya, secara esensi, pilihan tersebut paling sesuai dengan keinginan kami. Bila kemudian muncul masalah, itu adalah risiko yang harus dihadapi.

Crossing my fingers!

Jalan serta saya, Tuhan Yesus. Semua akan terasa lebih mudah bila Engkau ada.





akan ada waktunya

22 01 2008

otomatis romantis

Jumat malam kemarin, dengan impulsifnya saya dan Arie menonton film Otomatis Romantis di Setiabudi Building. Iseng saja, malas kalau harus langsung pulang ke rumah. Saya bahkan tidak tahu ceritanya tentang apa, yang saya tahu publisis dari film ini adalah teman saya, Imel, dan waktu itu ia pernah cerita kalau Tora Sudiro main di sini. Tertarik juga jadinya.

Salah satu ide ceritanya sedikit mirip dengan Get Married, dimana ada seorang perempuan, Nadia (Marsha Timothy), yang sedang bingung karena belum menikah, meski sudah berusia 30 tahun. Sang ayah mengatakan bahwa sudah saatnya ia menikah, karena menurut primbon, tahun itu adalah tahun yang tepat untuk melepas masa lajang. Terdengar familiar? Hahaha… Kasihan, deh!!!

Di film ini Nadia jatuh cinta dengan Bambang (Tora Sudiro), bawahannya yang kerja di bagian administrasi. Sampai sini, banyak yang kemudian menyamakan tema ceritanya dengan FTV Ujang Pantry. Tapi, tidak, saya sedang tidak ingin membicarakan mengenai tema itu. Yang menarik perhatian saya justru ide mengenai orangtua yang mendesak anaknya untuk menikah, karena sudah berusia 30 tahun.

Topik mengenai ’saatnya menikah’ ini sedang jadi pembicaraan antara saya dengan teman-teman. Pasalnya, banyak sekali teman dekat yang memutuskan untuk menikah di tahun ini. Yah, kalau dipukul rata, maka usia mereka sekitar 27 tahun ‘lah tahun ini. Kalau saya membayangkan ke masa ketika kecil dulu, usia 27 tahun memang diidentikkan dengan ‘masa yang tepat untuk menikah’. Jadi tidak heran juga melihat banyaknya undangan pernikahan datang dari teman-teman.

‘Masalah’ muncul ketika saya dan beberapa teman lainnya memiliki gambaran yang ‘kabur’ mengenai kapan kami akan menikah. Bwahahaha…. Perempuan-perempuan malang, memang. Hihihi.. Akhirnya Jupla dan Smita, sahabat-sahabat saya, memutuskan tahun 2008 ini sebagai masa pelepasan status. Dengan kata lain, mereka ingin menikah tahun ini! “Paling banter, tahun depan, deh,” tambah Jupla, meminta excused.

Renty, sahabat saya sejak SMA, kemudian jadi bingung. Mungkin saya dengan dia terlalu sering jalan bareng, sehingga pola pikirnya sama, dimana kita belum bisa membayangkan diri kita menjadi ibu rumah tangga dan memakai cincin pernikahan. Akhirnya dia bilang, “Kalau gue, umur 29 aja, ah. Kan ceritanya wanita karir, pingin mengejar karir dan mempersiapkan diri dulu”.

Nah, nah, giliran saya yang bingung. Kapan, ya??? Well, beberapa tahun lalu, saya sempat terpikir untuk tidak menikah, dengan alasan tidak akan pernah merasa siap mengikatkan diri dengan seorang laki-laki seumur hidup saya. Tapi saya berkomitmen untuk memiliki anak. Jadi saya bilang ke ibu, bahwa menikah ataupun tidak menikah, saya akan memiliki anak. Entah bagaimana caranya, yah yang paling legal sih adopsi anak. Hehehe… Tapi itu kan juga tidak mudah.

Seiring berjalannya waktu, pemikiran saya goyah juga. Sekarang saya mendeklarasikan diri ingin memiliki seseorang yang ada hingga lanjut usia. Ingin memiliki suami yang sekaligus juga soulmate. Intinya, saya ingin menikah. Tapi kapan? Nah, ini yang lagi-lagi tidak bisa dijawab.

Di depan teman-teman, saya bilang begini, “Kayaknya gue umur 31 tahun, deh”. Kontan saja mereka kaget. “Masak sih, Mel? Selama itu,” tanya Jupla. Jawaban gue kemudian simpel saja, “Yah, gue kayaknya baru siap di usia itu, Jup. Masih banyak yang mau gue kejar dan sebelum semua itu terwujud, ego gue pasti nggak akan siap untuk terikat dalam pernikahan”. Mereka akhirnya menyambut jawaban saya dengan diam saja. Mungkin sebenarnya ingin geleng-geleng kepala mendengar pembelaan saya itu. Hahaha…

Nah, semalam, saya kumpul-kumpul bareng gank SMA saya, JKC. Saya pun kembali ditanya kapan ingin menikah. Saya lalu bilang akan menikah di usia 30 tahun. Dina, anggota gank yang menikah pertama kali dan pernah saya ceritakan mengenai rencana pernikahan saya, kemudian menyambar, “Halah, kemaren lo bilangnya 31, sekarang kok dikorting jadi 30″. Saya ketawa saja.

Lalu saya dan Renty mulai membicarakan mengenai hari baik untuk menikah. Kebetulan sebelum bertemu mereka, saya dan Arie ketemuan untuk nonton film di Blitz. Sambil menunggu film dimulai, kita membicarakan juga mengenai hari baik untuk menikah ini. Menurut dia, berdasarkan informasi dari Yufi, teman kampus saya, angka 7-8-9 adalah angka-angka yang bagus dalam mitologi Cina, karena berarti keberuntungan, kemakmuran, dan kelanggengan. Setelah Arie melihat tanggalan, ternyata tanggal 7 Agustus 2009 adalah hari Jumat, yang merupakan hari yang cocok buat menikah, mengingat weekend.

Nah, semalam Renty mengatakan ada hari baik lagi selain 7-8-9 itu (dikatakan baik, karena berurutan), yaitu 9-10-11 atau 9 Oktober 2011, yang jatuh di hari Minggu. Renty bilang, dia ingin ‘ngetek-in’ hari itu sebagai tanggal pernikahannya. “Cuman mundur setahun (usia 30 tahun) dari rencana nikah 29 tahun, kan. Nggak papa deh,” celetuk dia dengan muka yang miris. Hahaha… Terus saya gimana dong? Kan nggak mungkin nikah di hari yang sama, nanti tamunya bingung harus datang ke mana. Hihihi…

Akhirnya kita melihat tanggal lainnya, yaitu 10-11-12 (10 Nopember 2012). Ternyata… Hari sabtu! Yayy… Akhirnya giliran saya yang langsung menandai itu sebagai hari pernikahan saya. Mundur setahun juga, sih. Tapi tak apalah. Hahaha… Sinting juga, ya. Nentuin hari pernikahan kok kayak nebak nomor buntut saja. Sambil tertawa-tawa, hati kecil saya akhirnya berbisik, “Tapi sebenarnya mau kapan, mels?”.

Yah, itu pertanyaan yang membingungkan juga. Saya masih ‘beruntung’ karena kakak belum menikah, jadi tidak harus buru-buru. Tapi kemudian saya melihat bahwa ayah dan ibu juga tidak mendesak kakak untuk menikah. Sekali-kali memang mereka bertanya, tetapi ketika kakak bilang belum waktunya, mereka tidak memaksa.

Akhirnya perspektif saya berubah, bukannya saya ‘beruntung’ karena kakak belum menikah, namun beruntung memiliki orangtua yang memahami jalan pikiran yang dimiliki anak-anaknya. Mereka tidak mendesak, karena tetap memiliki keyakinan bahwa anak-anaknya dapat menentukan jalan hidupnya masing-masing.

Saya jadi teringat masa-masa ketika bingung memutuskan untuk kuliah lagi atau terus bekerja. Wah, kayaknya ini sudah sering saya ceritakan di blog sebelumnya. Garis besarnya saja, kuliah saya itu mengharuskan saya standby dari pagi hingga sore. Jadual hariannya adalah dari jam 9 ke jam 15. Sementara itu saya bekerja di dunia media, yang tidak kenal waktu. Intinya, tidak mungkin ‘lah bekerja sambil kuliah. Paling banter, ya jadi freelancer seperti yang saya tekuni sekarang ini.

Tidak ada yang salah menjadi freelancer, apalagi dari segi keuangan tetap mumpuni. Bahkan terkadang saya mendapatkan lebih dari sebelumnya. Tapi terikat dalam sebuah perusahaan menjanjikan ketenangan dan kepastian. Iya, tidak?! Apalagi saat itu saya memiliki karir yang baik. Tentu saja berat betul melepasnya.

Sementara saya diliputi kebingungan tersebut, orangtua tidak pernah mendesak saya untuk kuliah lagi. Hanya sekali mereka mengingatkan, yaitu saat kakak lulus magister hukum. Ayah bertanya, kapan saya mau melanjutkan kuliah. Weits, saat itu, isu ini sensitif sekali, sehingga langsung saja saya marah. Saya bilang begini, “Tenang saja, Pa. Aku juga mau ngambil lagi, kok. Tapi nggak tau kapan, yang jelas pasti kuliah lagi”.

Dibilang begitu, ayah jadi sedikit kesal. Dia bilang gini, “Yah, terserah aja. Kan cuma tanya. Waktunya kapan sih terserah kamu aja”. Dan ayah dan ibu betul-betul setia dengan kalimat itu. Mereka tidak pernah bertanya lagi, hingga akhirnya saya datang ke mereka dan mengatakan ingin membeli formulir pendaftaran mahasiswa baru.

Saya katakan begitu, ayah justru bertanya, “Udah yakin, De? Memang saatnya sudah pas kalau sekarang?”. Sementara ibu juga tidak kalah membuat saya ragu, “Kalau kamu stay di situ dan kuliahnya ditunda setahun lagi, kira-kira benefit yang kamu dapatkan apa?”. Wah, tambah bingung. Saya tahu, orangtua mencoba mengajak saya untuk kritis, agar tidak ada penyesalan. Tapi sebagai manusia ter-plin-plan sedunia, tentu saja pertahanan saya jadi goyah kembali.

Di saat sedang bingung seperti ini, saya bercerita kepada teman sebangku saya, Danthy. Saat itu dia hanya bilang satu kalimat yang akhirnya mendasari posting-an saya kali ini. Dia bilang seperti ini, “Mel, tenang aja. Ketika saatnya sudah tiba, lo pasti tahu kok kapan harus berhenti. Lo akan merasakannya sendiri”.

Yes, the time will come and tell you. Itu betul-betul terjadi. Dalam kasus berhenti bekerja tadi, suatu saat ketika saya sedang rapat redaksi, saya terbawa dalam ruang waktu yang terpisah, dimana saya sibuk memikirkan mengenai diri saya sendiri. Dan kata hati saya, tanpa disadari berbisik dengan tenangnya, “Sekarang saatnya. Sudah cukup peran saya di sini”.

Masa-masa setelah itu menjadi begitu enteng. Tidak ada lagi keragu-raguan ataupun penyesalan. Bahkan beberapa hari setelah berhenti bekerja, saya tidak merasakan kesedihan atau apapun itu yang mungkin umum terjadi pada mereka yang berhenti bekerja. Icha, teman saya yang saat itu sedang keliling Eropa, berpendapat lewat sms, “Mungkin karena lo merasa fase itu sudah betul-betul selesai, mels. Sekarang saatnya menuju fase berikutnya”.

Saya membetulkan pendapat teman saya itu. Waktu sudah menyuruh berhenti dan pindah ke masa berikutnya. Kalaupun kemudian muncul masalah di awal fase kuliah-lagi ini, tapi itu dikarenakan proses adaptasi yang tidak mudah. Bukannya karena timing yang salah.

Kembali lagi ke topik semula, tentang waktu yang tepat untuk menikah. Jujur, saya belum siap untuk itu. Saya tidak terlalu setuju dengan pendapat Dina, yang mengatakan bahwa kita tidak akan pernah merasakan siap, karena itu harus berani. Bagi saya, keberanian saja tidak cukup. Karena itu saya lebih ’setubuh’ dengan ayahnya Mima, yang tidak setuju bila seseorang menunda pernikahan karena belum siap materi, namun bila belum siap mental dapat dimahfumi.

Sudah cukup banyak kasus perceraian dan perselingkuhan yang saya dengar. Bahkan sahabat-sahabat dekat saya pun banyak yang terlibat dalam situasi tersebut. Jumat malam kemarin, saya bertemu dengan seorang eksekutif yang saya kenal, sedang berjalan dengan seorang perempuan, yang saya tahu persis bukan istrinya. Eh, keesokan harinya, Sabtu siang, saya bertemu dia di Pacific Place, sedang bergandengan dengan istri dan anak-anaknya yang lucu banget. How’s with that?

Bagi saya, kehidupan rumah tangga yang langgeng hanya bisa dipertahankan dengan komitmen dan kesetiaan yang kuat dengan pasangan. Bagaimana itu bisa diwujudkan? Salah satunya adalah dengan memilih pasangan yang tepat. Dalam pembicaraan lewat Yahoo! Messenger, saya pernah mengatakan kepada Icha bahwa saya tidak mencari pasangan yang membebaskan saya dari masalah, melainkan pasangan yang bersamanya saya bisa menghadapi masalah yang muncul bersama-sama.

Klise? Memang. Tapi itulah prinsip dasar yang saya miliki. Itu juga yang mungkin membuat saya belum mantap untuk menikah. Selain belum siap, saya juga belum menemukan ‘teman seperjuangan’ saya. Silahkan bilang saya naif, saya rela saja.

Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang ingin mengajak saya berpacaran. Ralat, bukan hanya pacaran, tapi dia ingin langsung menikah. Kalau saja saya betul-betul kebelet ingin menikah, pasti sudah langsung saya pacari dia. Tapi itu tidak akan terjadi. Alasannya? Saya tidak sejalan pikiran dengannya. Jangankan untuk adaptasi atau asimilasi, kompromi saja susahnya bukan main. Bagaimana jika suatu kali nanti ada masalah dalam pernikahan saya? Bisa-bisa langsung bercerai. Huu…

Akhirnya, kapan saya akan menikah? Yang pasti belum sekarang. Usia 30 tahun? Atau tanggal 10 Nopember 2012? Tidak tahu juga. Jawaban saya kali ini: Suatu kali nanti, ketika saya sudah siap, begitu juga pasangan saya. Entah kapan. Tapi saya yakin hati saya akan memberi tahu kapan saat yang tepat untuk berpindah ke fase pernikahan itu. Sang waktu akan memberi tanda.

Anda mau bilang saya lugu dan tidak berani mengambil keputusan? Terserah. Tokh kalau ada apa-apa dengan hidup saya, Anda juga tidak dapat berbuat banyak, kan?

Akan ada waktunya. Tunggu saja.

 





shit happens!

21 01 2008

perempuan punya cerita

Sabtu malam kemarin, saya nonton film Perempuan Punya Cerita. Niat banget nontonnya, mengingat saya sudah penasaran dengan film ini sejak Jiffest kemarin. Ide pembuatannya ’sederhana’ saja, empat naskah yang berbeda, digabung menjadi kesatuan. Untuk mereka yang tidak suka film pendek dan benci adegan gantung, kemungkinan besar akan jengkel. Pasalnya, semua naskah berdurasi sekitar setengah jam saja, sehingga banyak adegan yang disampaikan secara implisit, termasuk akhir ceritanya.

Tapi bisa dijamin tidak rugi mengeluarkan uang untuk menonton film ini. Apalagi iming-iming “film yang dibuat oleh perempuan, untuk perempuan” membuat gairah feminisme terasa sekali. Keempat film menggambarkan perempuan-perempuan dengan berbagai permasalahan. Baik, saya kasih gambaran singkat, ya (warning: spoiler! spoiler! spoiler!).

Cerita Pulau. Ada seorang bidan, namanya Sumantri (Rieke Dyah Pitaloka), yang sangat concern dengan kesehatan ibu dan anak di pulau tempatnya bekerja. Ia juga sangat perhatian dengan seorang perempuan berkebutuhan khusus, Wulan (Rachel Maryam). Saya tidak jelas gangguannya apa, antara autis atau retardasi mental sepertinya. Sumantri saat itu sedang disorot masyarakat karena isu aborsi. Cerita menjadi tambah tragis, ketika ada laki-laki dungu (ini hanya cap dari saya saja! Hehehe…), yang dipengaruhi nafsu seks, justru memperkosanya hingga hamil. Sang bidan menjadi sangat marah dan terjadilah dialog yang bagi saya sangat cerdas:

Polisi: “Bu, sudahlah jangan bikin masalah lagi. Kasus aborsi ibu saja belum selesai”

Sumantri: “Pak, saya itu bidan, saya tahu kapan harus melaksanakan aborsi, terutama bila sudah menyangkut keselamatan hidup seseorang”

Polisi: “Bu, aborsi itu dosa menurut agama. Sudahlah, kita damai saja”.

Kira-kira seperti itulah, saya bukan peresensi film yang baik. Minta maaf kepada Vivian Idris, bila dialognya salah. Tapi saya sangat senang dengan line ini, karena ada banyak orang yang terlalu (sok) sibuk memikirkan mengenai norma agama, padahal sesuatu yang nyata dan tak kalah pentingnya, justru diabaikan (sutradara: Fatimah T. Rony).

Cerita Yogyakarta. Yang ini mengenai remaja yang masih harum, yang lagi-lagi tidak bisa mengontrol gairah seksualnya. Pemilihan daerah istimewa ini cukup menarik juga. Sebagai daerah yang kental budaya jawa dan konon dianggap santun, Yogyakarta memang menjadi salah satu daerah dimana aktivitas seks sebelum menikah sering dilakukan. Saya tahu itu saat harus mengumpulkan data dari BKKBN beberapa tahun lalu. Menarik, bukan??? Di cerita ini lebih menarik lagi, karena seorang remaja cewek, masih SMA, berusaha menggugurkan kandungannya, sementara ia tidak tahu siapa yang menghamili, karena ia digilir oleh teman-temannya saat berhubungan. Seperti piala saja. Mirisnya, akhirnya ia memutuskan untuk menikah, namun suaminya??? Dipilih berdasarkan kocokan kertas, yang sudah direkayasa pula. Huh… Saya benci sekali sama teman-teman lelakinya itu. Mukanya sok asik sekali! (skenario: Vivian Idris, sutradara: Upi).

Cerita Cibinong. Esi (Shanty) bekerja sebagai cleaning service di sebuah klub. Ia punya anak bernama Saroh (Ken Nala Amrytha), yang masih SMP. Suatu kali, sepulang kerja, ia menemukan pacarnya sedang memaksa Saroh blowjobing (tentunya bukan berarti disuruh nge-blow rambutnya! Hehehe…). Langsung saja Esi marah dan membawa Saroh pergi. Untung ia dibantu oleh Cicih (Sarah Sechan), primadona dari Trio Dag Dig Dhuer, yang sangat mengidolakan Alam dan Peti Pera (bwahahahaha… you should see their outfit!)! Tapi malangnya Esi, Saroh justru terbujuk oleh Cicih, yang tertipu oleh sindikat perdagangan perempuan. Ini adalah cerita yang bikin saya ’sesak nafas’ ketika mencoba berempati dengan keadaan Esi. Jeez, sedih sekali. Shanty bagus banget membawakannya (setelah nonton The Photograph, saya dan kakak saya sudah mendaulat Shanty sebagai aktris yang sangat pintar!). Penampilan Sarah Sechan pun juga tidak kalah menarik. Perfecto, menurut saya (skenario: Melissa Karim, sutradara: Nia Dinata).

Cerita Jakarta: Nah, nah, nah, yang ini bikin saya tambah sesak nafas. Laksmi (Susan Bachtiar), seorang ibu yang memiliki seorang putri, Bebe (Ranti Maria), harus menjadi janda setelah suaminya, Reno (Winky Wiryawan), meninggal karena overdosis. Saya tidak tahu pasti awal mulanya, tapi asumsi saya, Laksmi tertular AIDS dari suaminya itu. Malangnya, keluarga Reno justru menganggap Laksmi-lah yang menularkan virus ke anaknya dan mereka khawatir Laksmi akan menulari Bebe, cucu mereka. Cis, saya benci sekali. Ngakunya berpendidikan, tapi kok tidak paham proses penularan virus HIV! Mereka juga tidak sadar kalau Laksmi sudah hidup sangat menderita, akibat kelakuan Reno, anak yang dibangga-banggakannya itu (skenario: Melissa Karim, sutradara: Lasja F. Susatyo).

Sudah dapat gambarannya sekarang? Tragis, ya?! Emosi?? Saya juga! Hahaha… Tapi tenang, saya tidak akan menyimpulkan keseluruhan film ini dengan sebuah nasehat semacam, “Makanya, kalau sedang punya masalah, ingat saja bahwa ada orang yang punya masalah lebih berat lagi, contohnya di film ini”. That’s bullshit! Saya tidak suka pemahaman seperti itu, karena saya meyakini setiap masalah adalah berat, untuk mereka yang mengalaminya sendiri.

Bila saat ini saya sedang bingung karena tidak punya uang untuk membayar rumah (misal, ngarang aja), bukan berarti masalah teman yang sedang putus pacaran saya label dengan ‘masalah ecek-ecek’. Dari sudut pandang saya, urusan tentang pacar mungkin urutan kesekian, karena masalah bayaran rumah jauh lebih penting. Tapi bagi teman saya? Memutuskan pacar yang sudah bertahun-tahun bersama, pasti sangat pedih.

Suatu kali, seorang teman yang sedang punya masalah dan sedang terpikir untuk bunuh diri, mengeluh kepada saya. Dia bilang ingin menjadi seperti anak bayi yang tidak punya masalah, karena semua kebutuhan pasti akan dibantu oleh orangtua. Hmm, dulu saya juga setuju dengan pemikiran ini, namun setelah keponakan saya, Zefanya, lahir, pemikiran saya berubah. Menjadi bayi pun ternyata tidak mudah.

Mau bukti? Keponakan saya itu sekarang berumur dua tahun dan belum dapat bicara dengan lancar. Meski begitu, dia sudah memiliki pertumbuhan fisik dan kognitif (selain bahasa) yang matang. Bahasa nonverbal dan reseptif juga sebenarnya sudah lancar. Intinya, tinggal menunggu waktu sajalah untuk bisa berbahasa ekspresif. Nah, di sinilah kesalahannya. Kita bisa saja bilang ‘tinggal menunggu waktu’, tapi bagi dia? Maybe it’s like a decade! Seringkali ia tampak frustasi karena tidak dapat mengekspresikan kemauannya. Hanya bisa menangis dan babbling, sementara kita, para orang dewasa, bingung dengan apa yang ia inginkan.

Saya ceritakan kisah ini kepada teman yang sedang putus asa tadi. Ia kemudian mengatakan bahwa meski si bayi kesusahan, ada orang-orang dewasa yang siap menolongnya. Hmm, mungkin memang benar begitu, jika dilihat dari sudut pandang orang dewasa. Tapi dari sudut pandang si bayi? Kalau saja bisa bicara, mungkin dia akan bilang, “Hah, sia-sia saja lo semua di sini. Pada nggak ngerti juga kan maksud gue apa?!”. Akhirnya tetap timbul masalah baru, kan?!

Akhirnya saya bilang ke teman tadi, bahwa setiap manusia pasti memiliki masalah, tidak peduli usia berapa, jenis kelamin apa, suku apa, atau agama apa. Seperti istilahnya Mea, sahabat saya, “Shit happens, Mels! Sudah takdirnya!!”. Betul itu, tidak bisa dielakkan.

Seorang profesor di kampus saya, yang ahli dalam bidang psikologi kognitif, suatu kali memberi nasehat kepada saya dan teman-teman agar dapat menerima keadaan yang sudah ‘terberi’. Dia bilang begini, “Hidup itu dari ‘sononya’ sudah penuh masalah. Bila Anda di sini kelelahan, kurang tidur, dan stres, itulah konsekuensi yang harus dijalani. Nggak ada gunanya ngomel dan mencoba bernegosiasi agar Tuhan memberikan sedikit keringanan. ‘Template’-nya memang sudah berat, karena itu yang harus dilakukan adalah mengubah pola pikir Anda. Bila terus menjadi seorang negativistik, yang memandang keadaan dari sisi yang suram, maka kita akan terbawa dalam kehancuran. Sebaliknya, bila kita berpikir positif dan yakin bisa melalui semua masalah dengan baik, maka kita juga akan berhasil. Sehingga tanpa disadari, kita sudah berhasil melawan masalah itu”.

Betul juga, ya. Tidak ada gunanya mengeluarkan keluhan penuh pesimis seperti, “hidup gue kok susah, ya?!”. Bisa-bisa kita justru dilemparin popcorn dari ‘penonton’ yang mencibir, “emangnya cuman hidup lo aja yang susah?”. Semua orang punya masalah, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau. Karena itu pertanyaan besarnya sekarang hanya satu: Siapa yang berhasil melewati masalah itu dengan gemilang?!

Para tokoh yang ada dalam film ini digambarkan sebagai orang-orang yang berhasil melewati masalahnya masing-masing, meski dengan ‘berdarah-darah’. Itulah kesimpulan akhir yang saya dapatkan setelah menonton film ini. Bahwa shit does happen dan hanya mereka yang bisa menerima masalahnya dengan penuh ketegaran ‘lah yang bisa dikategorikan sebagai manusia-manusia hebat!

Hats off, then!





tentang resolusi

7 01 2008

Yang namanya tahun baru, selalu identik dengan resolusi. Nggak tahu kenapa, seolah resolusi hanya ada di tahun baru. Padahal kan ada juga resolusi ulang tahun atau resolusi natal (tapi kalau ini lebih beken dengan istilah ‘christmas wish’ ya… Padahal sih sebelas-dua belas).

Saya sebenarnya tidak terlalu mempedulikannya. Habis frustasi, tiap tahun selalu bikin resolusi, tapi nggak pernah berhasil. Resolusi tahun lalu aja nggak berhasil, yaitu: IKUTAN LES! Bwahaha… Mana ada waktu?! Bernafas saja sulit.

Tapi, mau-nggak-mau, saya jadi kepikiran juga. Bayangkan saja, kemarin ini saya menulis artikel mengenai resolusi di dua majalah berbeda. Terkadang saya suka heran sendiri, kayak nggak ada topik yang lain aja. Biar kesannya ‘baru’, artikel itu dikemas macam-macam (walaupun intinya sama). Yang pertama, mengenai kiat agar resolusi berhasil. Yang kedua, resolusi untuk mengeksplorasi diri lebih luas lagi. Inti topiknya sama, tapi diubek-ubek sedemikian rupa.

Dan, entah kenapa, saya jadi memutuskan untuk (kembali) membuat resolusi tahun baru. Tapi ada yang berbeda dengan resolusi tahun ini, yaitu saya benar-benar memikirkannya. Seolah ide resolusi ini muncul perlahan-lahan, sampai akhirnya saya mantap menentukannya sebagai resolusi tahun baru.

Mau tahu apa? Simpel saja (meski pengejewantahannya sulit luar biasa): Saya ingin memperbaiki regulasi diri saya yang tidak beraturan. Hmm, regulasi diri itu adalah kemampuan kita untuk mengatur diri. Semacam kontrol diri, lah. Tapi lebih ke perilaku mungkin, ya. Misalkan, kita bisa mengatur kapan waktu untuk belajar, untuk menghentikan kebiasaan bersenang-senang, atau untuk menenangkan diri. Bukan berarti menjadi tidak fleksibel. Bebas saja, tapi harus bisa membatasi diri. Itu intinya.

Belakangan ini, saya merasa regulasi diri buruk sekali. Contohnya dalam bekerja dan belajar. Saya memang seorang deadliner sejati yang selalu berusaha menepati tenggat waktu. Bila lewat dari deadline, saya merasa tidak lengkap. Susahnya, saya tidak bisa mengatur diri agar dapat bekerja optimal dan efektif. Seringkali saya menghabiskan waktu di siang hari dengan bermain-main dan kemudian baru fokus bekerja di pukul 01.00. Memang saya adalah late-nighter, tapi kalau terus begini, di umur 30 tahun badan saya akan ambruk.

Jadi itulah resolusi saya kali ini (selain ingin lulus kuliah dan kembali bekerja, tentunya). Saya targetkan satu sajalah. Itu pun sudah sulit.

Menariknya, tampaknya Tuhan juga setuju dengan resolusi ini dan niatttt melatih saya. Buktinya, hanya selang sehari setelah saya memutuskan resolusi tersebut, saya diberi cobaan yang menuntut kemampuan regulasi diri tingkat tinggi. Cobaan itu diberikan hari ini. Saya capek menceritakannya, karena untuk mengingatnya pun saya sudah ngos-ngosan. Singkat cerita, saya gagal memenuhi target resolusi yang telah dibuat.

Tapi, yah, tak apalah. Namanya juga masih baru, masih sering khilaf! Hehehe…

Anyway, selamat tahun baru, semuanya.





wacana hari ini

3 01 2008

Tadi bertemu dengan seorang teman, namanya Danthy. Teman lama, tapi dekat di hati. Ah, dangdut sekali frase ini. Dulu kami ’sebangku’ saat belajar di sekolah GADIS.  Detil ceritanya, malas saya bahas di sini. Hanya saja ada sebuah kalimat darinya yang tidak bisa terhapus di benak saya hingga kini. Dia bilang begini, “Mending mana, lo diremehkan sekarang, saat masih muda, atau nanti ketika tua lo dipandang remeh karena nggak punya pengalaman??”.

Iya juga.

Damn, you really got me there, Dan!