panggil saya “inang”. eh, “boru” saja..

1 12 2007

Meski sering misuh-misuh tiap kali ada teman yang menyebut saya, ‘Inang’, tapi bila istilah itu ke luar dari mulut ayah, ibu, paman, tante, atau mereka yang bergelar ’bapak-bapak’ dan ’ibu-ibu’, saya justru merasa senang sekali. Kenapa begitu? Karena berbeda dengan teman-teman yang mengucapkannya dengan maksud meledek, para tetua umumnya mengucapkan kata itu sebagai sebuah penghargaan.

Di budaya asal saya, di Batak sana, orangtua biasa menggunakan istilah ’Amang’ atau ’Inang’ ketika memanggil anak-anaknya. Sepengetahuan saya (yang sebenarnya tidak terlalu memahami adat leluhur saya itu), Amang merupakan istilah yang sebenarnya diberikan kepada lelaki dewasa, sedangkan Inang berarti perempuan dewasa. Yah, semacam ’Bapak’ atau ’Ibu’ lah kalau di-Indonesia-kan.

Contohnya semacam ini: ”Sudah pulang, Inang?”, ”Nanti jangan malam-malam ya inang pulangnya”, ”Jaga adik-adiknya ya, Amang…”, atau ”Sudah bikin PR-nya, Amang?”. Sekali lagi, saya senang sekali bila ayah dan ibu memanggil dengan istilah ’Inang’. Ada perasaan dihargai dan tidak dianggap seperti anak kecil. Apalagi mereka mengucapkan itu sejak saya masih kecil. Kontan saja saya jadi merasa bangga, karena merasa tidak dipandang sebelah mata.

Sebenarnya istilah ini bukan monopoli kebudayaan saya saja. Di negara berbahasa Inggris sana, kita sering bertemu dengan orang dewasa yang memanggil anak laki-lakinya dengan istilah ’Sir’ atau ’Miss’ untuk anak-anak perempuan. Seorang klien saya yang orang Ambon memanggil anaknya yang masih SD dengan istilah ’Bung’. Teman saya, Dina, memanggil anak pertamanya yang hampir berusia tiga tahun dengan sebutan ’Mas’. Ketika praktek, saya pun berulang kali menyebut klien-klien saya yang masih kecil itu dengan sebutan ‘Bos’.

Akhirnya saya jadi berpikir bahwa kebiasaan ini memang beranjak dari keengganan manusia untuk diremehkan oleh manusia lainnya. Pada budaya tertentu, yang mungkin memiliki gengsi tinggi, kecenderungan untuk ’meninggikan’ setiap umatnya semakin besar.

Lucunya, dalam situasi tertentu, saya yang sudah dewasa ini justru pengen sekali dipanggil dengan istilah yang biasa diberikan kepada anak-anak. Yang biasa diucapkan ayah dan ibu adalah ’Boru’, artinya anak perempuan. ”Sudah makan, Boru?”, ”Hati-hati ya Boru, ngejar busnya”, atau ”Capek ya, Boru?”. Rasanya nyamaaaann sekali. Meski sudah besar, tapi saya tidak merasa diremehkan ketika mereka memanggil saya ‘Boru’. Sebaliknya, saya justru merasa tenang. Ucapan itu semacam pengingat bahwa sedahsyat apapun transformasi saya menjadi perempuan dewasa, namun saya tetap memiliki orangtua yang akan selalu menjaga saya, sampai kapanpun.

Semacam mengingatkan, bahwa penghargaan terhadap kedewasaan seseorang tidak hanya berbentuk pemberian kekuasaan secara penuh, namun disertai juga dengan perhatian yang terus abadi sepanjang masa. Mereka tidak menyuruh saya makan, tidak melarang saya naik bus, tidak khawatir berlebihan ketika melihat anaknya sedang dalam kesusahan. Mereka menyadari bahwa saya telah menjelma menjadi seorang ‘Inang’ yang pasti mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, namun mereka seolah ingin mengingatkan ‘Boru’-nya bahwa mereka akan selalu siap membantu manakala saya butuhkan.

Ah, jadi melodramatik seperti ini. Hahaha… Mungkin karena saat ini semua keluarga sedang berkumpul dengan hangatnya. Dan di saat-saat seperti ini, yang sangat membahagiakan saya hanyalah perhatian ayah dan ibu yang berucap dengan lembut, “Apa kabarmu, Inang? Semua baik-baik saja kan, Boru?”


Actions

Information

Leave a comment