malaikat dari surga

22 12 2007

Kecuali mereka yang sedang sakit lupa, tidak peduli, tidak pernah tahu, atau menjauhkan diri dari media selama seharian penuh, maka hari ini bukanlah sekadar hari Sabtu biasa. Hari ini didaulat sebagai Hari Ibu. Menurut tradisi, di hari inilah seorang ibu menjelma menjadi ratu sehari. Semua orang menganggungkannya, semua mulut memberinya selamat dan pujian.

Bagi saya, bukan tanpa sebab bila ibu dianggap sebagai tokoh penting dalam kehidupan manusia. Secara filosofis, kata ‘ibu’ sendiri bermakna besar. Mau bukti? Coba beri tahu saya, apakah ada kota yang diberi nama ‘ayah kota’? Atau anggota jari manakah yang disebut ‘ayah jari’? Saya sedang malas googling untuk mencari pandangan para filsuf mengenai arti kata ‘ibu’. Tapi melalui pemikiran sederhana, saya menganggap kata itu berhubungan dengan kelahiran manusia. Meski ada ayah, tapi bila ibu tidak ada, maka kelahiran manusia hanyalah ‘wacana’. Ibarat sebuah makanan, Tuhan menjadi sang produsen, ayah adalah penyedia bahan baku, sementara ibu berperan triguna, selain menjadi penyedia bahan baku, ia juga menjadi pabrik penyimpan, sekaligus petugas ‘delivery‘ yang menghantarkan manusia ke dunia. Sungguh peran yang berat!

Selama beberapa bulan ini, saya bertemu dengan berbagai macam ibu. Herannya, di setiap pertemuan saya dengan mereka, selalu saja saya dapatkan hal baru yang menarik. Saya jadi mendapatkan satu benang merah yang mencengangkan: bahwa seorang ibu, bagaimanapun kondisinya, sungguh merupakan malaikat bagi anak maupun keluarganya. Dan… beban mereka ternyata sungguh berat!

Sebagai contoh: suatu kali saya bertemu dengan seorang ibu yang menangis panjang, karena ternyata menyimpan rasa sedih luar biasa setiap kali disepelekan oleh suaminya yang pemarah. Ibu lainnya menjadi orangtua tunggal bagi kedua anaknya, yang keduanya merupakan anak di luar nikah dari seorang pria beristri yang tidak bertanggung jawab. Saya juga tidak akan pernah melupakan adegan ketika seorang ibu menangis saat bercerita mengenai anaknya yang mengalami keterlambatan perkembangan. Terdengar biasa saja? Tunggu sampai ia kemudian buru-buru menghapus air matanya ketika anak semata wayangnya itu datang dan mengajaknya bermain. Dalam sekejap, ia mengubah mimiknya menjadi ceria. Tampak tidak berhasil, tentu saja, yang akhirnya membuat hati saya sangat terenyuh. Sembilu.

Di kali lain, saya bertemu dengan seorang ibu yang tampilannya sangat tangguh dan memiliki semangat sangat kuat untuk kemajuan anaknya yang sulit berkonsentrasi. Dia bilang saat itu, saya adalah titipan Tuhan baginya. Tidak tahu dia, justru saya yang menganggapnya sebagai titipan Tuhan. Ah, saya juga pernah bertemu dengan ibu yang ditinggal suaminya meninggal. Selama bertahun-tahun, ia berusaha membesarkan anaknya sendiri, menjadi single fighter.

Saya juga bertemu dengan ibu yang setengah mati membagi waktu antara bekerja dan membesarkan anak. Di lain kesempatan, justru saya bertemu dengan ibu yang harus merelakan anak kesayangannya dititip di panti asuhan, karena tidak mampu membesarkan anak tersebut, meski sudah banting tulang menjadi asisten rumah tangga.

Kejadian antonim lainnya juga terjadi ketika ada ibu yang sangat perhatian kepada anaknya hingga tidak tega melepaskan anaknya sendirian, sementara seorang ibu lain justru tampak tidak menerima keadaan anaknya yang terlahir tidak sempurna. Yah, berbeda-beda memang.

Tempat saya bekerja dulu juga dipenuhi oleh barisan kaum ibu. Menjadi pekerja sekaligus ibu memang melelahkan. Apalagi bila pekerjaannya tidak memiliki jam kerja yang jelas, seperti wartawan. Seringkali mereka harus bekerja hingga larut malam (bahkan dini hari), lalu menelepon anaknya di rumah dan meminta maaf karena tidak bisa cepat pulang. “Mama masih ada kerjaan. Adek tidur duluan, ya. Tadi udah makan belum?”. Meski terlihat tegar, saya tahu di lubuk hatinya pasti seperti tertusuk duri. Ibu sejati biasanya tidak rela membiarkan anaknya tidur sendiri, tanpa mereka temani.

Saya pun memiliki ibu yang sangat luar biasa. Ia adalah ibu rumah tangga yang juga pekerja, seniman, serta juru masak yang handal. Bahkan saat ini daftar kebisaannya ditambah satu, yaitu pelayan gereja. Karenanya saya tidak hanya sayang kepadanya, tetapi juga mengaguminya. Dalam titik tertentu, saya bahkan berpikir tidak akan pernah bisa menjadi sepertinya.

Waktu saya kecil, ia bertindak sebagai figur yang selalu menjaga dan melindungi saya. Suatu kali hujan turun dan ia dengan perkasanya menggendong saya agar terlindung dari hujan. Gara-gara itu, mungkin karena keberatan, ia terjerembab ke tanah. Roknya terbuka, hingga terlihat pakaian dalamnya. Ketika saya besar, ia bercerita bahwa peristiwa itu adalah salah satu yang paling memalukan dalam hidupnya, meski tidak ia sesali. Ah, saya jadi merasa tidak enak.

Beranjak remaja, saya pernah membuat ibu menangis. Pertama kali ketika ia dipanggil kepala sekolah karena saya nakal di sekolah. Kedua kalinya adalah ketika saya tidak naik kelas di ILP. Yang terakhir ini begitu pedih bagi saya, karena saya, yang awalnya santai-santai saja (karena berpikir hanya gagal di tempat les, bukan sekolah), akhirnya menyadari bahwa ibu sangat ingin saya bisa berbahasa Inggris, mengingat ia tidak paham bahasa internasional tersebut. Waktu itu ibu bilang begini, “Mama nggak bisa ngajarin kamu, makanya cuma bisa kasih uang aja biar kamu bisa belajar sama orang-orang yang lebih pintar”. Saya sedih sekali saat itu. Sedih sekali.

Niat hati tidak ingin lagi membuatnya menangis, namun apa daya beberapa kali air mata ibu kembali terkuras, meski saya sudah dewasa seperti sekarang. Terkadang terjadi silang pendapat antara saya dan dirinya. Maklum, sebagai orang yang ‘baru dewasa’, seringkali pemikiran saya bertentangan dengannya. Saling ngotot dan beradu paling benar, akhirnya sama-sama menangis. Biasanya, lagi-lagi saya merasa bersalah dan sedih.

Suatu kali ibu bilang, bahwa apapun yang terjadi dengan saya, ia tetap ibu saya dan akan selalu menyayangi saya. Terenyuh mendengarnya, dicampur rasa kagum. Betapa saya sudah sangat menyusahkannya, menguras keringat dan air matanya, tapi ia tetap menerima saya dengan tangan terbuka.

Ya, tingkat kekaguman saya akan sosok ibu (tidak hanya ibu saya) akhirnya menjadi tidak terbendung lagi. Mereka tidak hanya pelayan domestik, namun juga pendidik sekaligus pejuang tak kenal lelah bagi kebahagiaan anak-anaknya. Iseng, saya jadi tertarik untuk mencari tahu asal-usul dipilihnya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Berdasarkan literatur yang saya baca, tanggal ini dipilih berdasarkan waktu saat Kongres Perempuan pertama kali diadakan di Jogjakarta, tahun 1928 (terinspirasi dari Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda itu). Kongres ini menjadi cikal bakal berdirinya Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia (PPII), yang di tahun 1938 menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Hasil kongres juga menyimpulkan dua hal, yaitu kesadaran akan tanggung jawab perempuan terhadap masyarakat dan keluarga, serta seruan agar perempuan bersatu untuk melawan penjajah. Di kemudian hari, Presiden Soekarno menegaskan perayaan Hari Ibu tanggal 22 Desember ini lewat Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.

Saya kemudian menyimpulkan alasan dicanangkannya Hari Ibu sebagai penegas fungsi ibu di dunia. Bahwa mereka tidak hanya berperan dalam kegiatan rumah tangga saja, namun juga bagi masyarakat dunia melalui bidang-bidang yang dikuasainya.

Saya tidak mau berpanjang-panjang lagi. Bagi saya, di balik sepak terjang seseorang, terdapat peranan seorang ibu yang besar dan hebat (untuk mengingatkan, gen ibu berperan besar dalam menentukan inteligensi seseorang. Jadi bila Anda terlahir jenius, Anda tentu tahu harus berterima kasih pada siapa!). Maka terpujilah kaum ibu, di manapun mereka berada.

Terima kasih, ibu, karena telah menjadi sosok yang istimewa dan nyaris sempurna. Terima kasih, ibu, karena telah berani menerima tanggung jawab menjadi malaikat penjaga bagi setiap manusia.

Selamat Hari Ibu.





panggil saya “inang”. eh, “boru” saja..

1 12 2007

Meski sering misuh-misuh tiap kali ada teman yang menyebut saya, ‘Inang’, tapi bila istilah itu ke luar dari mulut ayah, ibu, paman, tante, atau mereka yang bergelar ’bapak-bapak’ dan ’ibu-ibu’, saya justru merasa senang sekali. Kenapa begitu? Karena berbeda dengan teman-teman yang mengucapkannya dengan maksud meledek, para tetua umumnya mengucapkan kata itu sebagai sebuah penghargaan.

Di budaya asal saya, di Batak sana, orangtua biasa menggunakan istilah ’Amang’ atau ’Inang’ ketika memanggil anak-anaknya. Sepengetahuan saya (yang sebenarnya tidak terlalu memahami adat leluhur saya itu), Amang merupakan istilah yang sebenarnya diberikan kepada lelaki dewasa, sedangkan Inang berarti perempuan dewasa. Yah, semacam ’Bapak’ atau ’Ibu’ lah kalau di-Indonesia-kan.

Contohnya semacam ini: ”Sudah pulang, Inang?”, ”Nanti jangan malam-malam ya inang pulangnya”, ”Jaga adik-adiknya ya, Amang…”, atau ”Sudah bikin PR-nya, Amang?”. Sekali lagi, saya senang sekali bila ayah dan ibu memanggil dengan istilah ’Inang’. Ada perasaan dihargai dan tidak dianggap seperti anak kecil. Apalagi mereka mengucapkan itu sejak saya masih kecil. Kontan saja saya jadi merasa bangga, karena merasa tidak dipandang sebelah mata.

Sebenarnya istilah ini bukan monopoli kebudayaan saya saja. Di negara berbahasa Inggris sana, kita sering bertemu dengan orang dewasa yang memanggil anak laki-lakinya dengan istilah ’Sir’ atau ’Miss’ untuk anak-anak perempuan. Seorang klien saya yang orang Ambon memanggil anaknya yang masih SD dengan istilah ’Bung’. Teman saya, Dina, memanggil anak pertamanya yang hampir berusia tiga tahun dengan sebutan ’Mas’. Ketika praktek, saya pun berulang kali menyebut klien-klien saya yang masih kecil itu dengan sebutan ‘Bos’.

Akhirnya saya jadi berpikir bahwa kebiasaan ini memang beranjak dari keengganan manusia untuk diremehkan oleh manusia lainnya. Pada budaya tertentu, yang mungkin memiliki gengsi tinggi, kecenderungan untuk ’meninggikan’ setiap umatnya semakin besar.

Lucunya, dalam situasi tertentu, saya yang sudah dewasa ini justru pengen sekali dipanggil dengan istilah yang biasa diberikan kepada anak-anak. Yang biasa diucapkan ayah dan ibu adalah ’Boru’, artinya anak perempuan. ”Sudah makan, Boru?”, ”Hati-hati ya Boru, ngejar busnya”, atau ”Capek ya, Boru?”. Rasanya nyamaaaann sekali. Meski sudah besar, tapi saya tidak merasa diremehkan ketika mereka memanggil saya ‘Boru’. Sebaliknya, saya justru merasa tenang. Ucapan itu semacam pengingat bahwa sedahsyat apapun transformasi saya menjadi perempuan dewasa, namun saya tetap memiliki orangtua yang akan selalu menjaga saya, sampai kapanpun.

Semacam mengingatkan, bahwa penghargaan terhadap kedewasaan seseorang tidak hanya berbentuk pemberian kekuasaan secara penuh, namun disertai juga dengan perhatian yang terus abadi sepanjang masa. Mereka tidak menyuruh saya makan, tidak melarang saya naik bus, tidak khawatir berlebihan ketika melihat anaknya sedang dalam kesusahan. Mereka menyadari bahwa saya telah menjelma menjadi seorang ‘Inang’ yang pasti mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, namun mereka seolah ingin mengingatkan ‘Boru’-nya bahwa mereka akan selalu siap membantu manakala saya butuhkan.

Ah, jadi melodramatik seperti ini. Hahaha… Mungkin karena saat ini semua keluarga sedang berkumpul dengan hangatnya. Dan di saat-saat seperti ini, yang sangat membahagiakan saya hanyalah perhatian ayah dan ibu yang berucap dengan lembut, “Apa kabarmu, Inang? Semua baik-baik saja kan, Boru?”