don’t write me off

15 11 2007

Bukan mau sok sibuk, tapi saya sedang sangat overloaded belakangan ini. Laporan, revisi laporan, intake klien, kunjungan rumah, kunjungan sekolah… Belum ditambah dengan artikel-artikel yang sudah memasuki garis mati. Huaaa… Mau mati rasanya.

Saking sibuknya, saya sampai tidak sadar kalau ibu esok berulang tahun. Padahal seharian ini kerja saya adalah mengatur jadual di agenda tercinta, tapi tidak menyadari bahwa tanggal 16 November besok seorang yang sangat saya cintai mengulangi hari jadinya.

Sudah beberapa kali hal ini terjadi. Jika dulu dikarenakan saya sibuk bekerja, sekarang… yah sama aja, terlalu (sok) sibuk. Mungkin pada dasarnya saya memang sangat mudah terdistraksi, sehingga sulit rasanya untuk memperhatikan hal-hal detil seperti itu.

Ah, sudahlah, tugas dan kerjaan saya masih banyak. Kita ketemu di waktu lainnya. Oh ya, tiba-tiba teringat komentar teman saya mengenai blog ini yang hanya memiliki satu komentar. Jawaban saya saat itu (dan saat ini juga), “sebodo”! Hahaha… Eh, kata itu saya pelajari dari seorang dosen, lho! Hihihihi…





talk (no) more

3 11 2007

Ada yang hilang dari diri saya belakangan ini. Saya kehilangan semangat, saya kehilangan minat, saya kehilangan jiwa. Bila saja seorang teman ’sebangku’ saat bekerja dulu mengetahui keadaan saya saat ini, pasti ia akan kecewa. Bagaimana tidak? Selama kerja berdampingan dengan saya, ia selalu memberi pujian dengan mengatakan saya adalah pekerja paling loyal dan memiliki passion sangat tinggi. Tersanjung saat itu? Tentu saja. Saat ini masih tersanjung? Melihat keadaan saya, tentu tidak.

Saya tidak memiliki dorongan hype itu lagi. Saya tidak lagi memiliki semangat untuk bangun di pagi hari. Bahkan saya ingin waktu cepat berlalu. Bagi seorang yang mengalami krisis zona nyaman seperti saya, keinginan untuk mempercepat waktu itu sangat mustahil. Tapi, yah, itulah yang terjadi saat ini.

Sungguh mati saya ingin mempercepat irama hidup saya saat ini. Rasanya… Sepi sekali, dan dalam titik tertentu, saya merasa putus asa. Bayangkan, kemarin ada hari di mana saya harus terus me-reinforce diri saya agar tetap ‘hidup’. Saat itu saya harus melakukan banyak pekerjaan yang bikin saya muak. Agar tetap semangat, tiap kali sebuah pekerjaan selesai atau sebelum pekerjaan dimulai, saya harus berkata kepada diri sendiri, “Ayo, mels, lo bisa” atau “Tuh kan, bisa, ayo satu lagi…”. That sucks!

Untungnya saya menemukan salah satu penyebab hilangnya ritme dalam hidup saya. Jumat malam kemarin, saya memutuskan untuk jalan bersama seorang teman kuliah saya. Ini kali yang pertama saya berjalan bersama teman-teman kuliah saya, biasanya kita jalan sambil membuat tugas atau ada acara tertentu. Untuk yang betul-betul rekreasi seperti ini, baru kali pertama terjadi.

And it was fun! Kita tidak melakukan banyak hal, tapi kita mengobrol panjang. Ketika saya melihat jam, ternyata sudah pukul sembilan malam. Lidah rasanya kelu, rahang lelah bergerak. Tapi hebat, otak saya justru terasa sangat ringan! Seperti ada energi positif yang turun dari ubun menuju seluruh tubuh.

Saya pun teringat masa-masa sebelum ini. Saya sebelumnya terbiasa pulang malam, hanya untuk mengobrol panjang dengan teman-teman dekat saya. Ibu sampai mahfum melihat saya selalu pulang di atas jam sembilan malam. Biasanya ibu hanya menyuruh saya untuk membawa jaket, supaya tidak sakit.

Ya, saya senang berbicara, saya senang bercerita, dan saya senang berkontemplasi. Ibu dan teman-teman dekat saya tahu sekali mengenai hal ini. Sayangnya ketiga hal di atas kurang terpenuhi belakangan ini, seiring dengan tekanan tugas yang bertubi-tubi. Saya pun semakin merasa terpojok dan sendiri, terutama ketika saya kehilangan seorang kolega kognitif saya.

Beruntung akhirnya saya menemukan teman yang bisa mengobati sakit kronis tersebut. Ah, mungkin beberapa saat kemarin saya terlalu terfokus kepada kesepian dan kepergian sang kolega kognitif, tidak menyadari bahwa di sekeliling saya ada banyak kolega kognitif lain yang siap sedia mengajak saya berkontemplasi.