Ada yang hilang dari diri saya belakangan ini. Saya kehilangan semangat, saya kehilangan minat, saya kehilangan jiwa. Bila saja seorang teman ’sebangku’ saat bekerja dulu mengetahui keadaan saya saat ini, pasti ia akan kecewa. Bagaimana tidak? Selama kerja berdampingan dengan saya, ia selalu memberi pujian dengan mengatakan saya adalah pekerja paling loyal dan memiliki passion sangat tinggi. Tersanjung saat itu? Tentu saja. Saat ini masih tersanjung? Melihat keadaan saya, tentu tidak.
Saya tidak memiliki dorongan hype itu lagi. Saya tidak lagi memiliki semangat untuk bangun di pagi hari. Bahkan saya ingin waktu cepat berlalu. Bagi seorang yang mengalami krisis zona nyaman seperti saya, keinginan untuk mempercepat waktu itu sangat mustahil. Tapi, yah, itulah yang terjadi saat ini.
Sungguh mati saya ingin mempercepat irama hidup saya saat ini. Rasanya… Sepi sekali, dan dalam titik tertentu, saya merasa putus asa. Bayangkan, kemarin ada hari di mana saya harus terus me-reinforce diri saya agar tetap ‘hidup’. Saat itu saya harus melakukan banyak pekerjaan yang bikin saya muak. Agar tetap semangat, tiap kali sebuah pekerjaan selesai atau sebelum pekerjaan dimulai, saya harus berkata kepada diri sendiri, “Ayo, mels, lo bisa” atau “Tuh kan, bisa, ayo satu lagi…”. That sucks!
Untungnya saya menemukan salah satu penyebab hilangnya ritme dalam hidup saya. Jumat malam kemarin, saya memutuskan untuk jalan bersama seorang teman kuliah saya. Ini kali yang pertama saya berjalan bersama teman-teman kuliah saya, biasanya kita jalan sambil membuat tugas atau ada acara tertentu. Untuk yang betul-betul rekreasi seperti ini, baru kali pertama terjadi.
And it was fun! Kita tidak melakukan banyak hal, tapi kita mengobrol panjang. Ketika saya melihat jam, ternyata sudah pukul sembilan malam. Lidah rasanya kelu, rahang lelah bergerak. Tapi hebat, otak saya justru terasa sangat ringan! Seperti ada energi positif yang turun dari ubun menuju seluruh tubuh.
Saya pun teringat masa-masa sebelum ini. Saya sebelumnya terbiasa pulang malam, hanya untuk mengobrol panjang dengan teman-teman dekat saya. Ibu sampai mahfum melihat saya selalu pulang di atas jam sembilan malam. Biasanya ibu hanya menyuruh saya untuk membawa jaket, supaya tidak sakit.
Ya, saya senang berbicara, saya senang bercerita, dan saya senang berkontemplasi. Ibu dan teman-teman dekat saya tahu sekali mengenai hal ini. Sayangnya ketiga hal di atas kurang terpenuhi belakangan ini, seiring dengan tekanan tugas yang bertubi-tubi. Saya pun semakin merasa terpojok dan sendiri, terutama ketika saya kehilangan seorang kolega kognitif saya.
Beruntung akhirnya saya menemukan teman yang bisa mengobati sakit kronis tersebut. Ah, mungkin beberapa saat kemarin saya terlalu terfokus kepada kesepian dan kepergian sang kolega kognitif, tidak menyadari bahwa di sekeliling saya ada banyak kolega kognitif lain yang siap sedia mengajak saya berkontemplasi.
kata mereka