Hari ini saya mengenang kembali pagi ketika saya tidak mampu menahan tangisan saya. Sebelum pagi itu, dunia memang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Jantung saya selalu berdegup kencang, pikiran saya melayang-layang, nafas saya terengah-engah. Semua itu terjadi karena perginya seekor kucing, yang sangat saya cintai. Tidak ada kabar, tidak ada tanda-tanda. Makanan yang selalu saya siapkan, tidak pernah digubris. Karpet hangat yang selalu tersedia, tidak pernah disambangi. Panggilan yang saya serukan di malam hari, tidak pernah dibalas. Singkat cerita, hari-hari sebelum pagi itu merupakan mimpi buruk, yang tidak ingin saya ulang.
Apa daya, ternyata ada yang lebih buruk lagi dari hari-hari itu. Di pagi hari, kala saya sedang bersiap-siap untuk beraktivitas, sang ibu datang dan memberitahukan bahwa sehari sebelumnya, tepatnya di sore hari, lebih tepat lagi di kala saya belum pulang ke rumah, secara lebih spesifik lagi di saat saya sedang sibuk memikirkan mengenai sang kucing… Di saat semua itu sedang terjadi, paman saya menemukan kucing yang dirindukan itu sudah tidak bernyawa dan berada dalam keadaan busuk.
Hati mana yang tidak perih? Mata siapa yang tidak menangis? Saya mencintai kucing itu, Sadewa The Cat, lebih dari apapun. Saya yang menemukannya, saya yang merawatnya, saya yang tidur bersamanya, saya yang menyiumnya, saya yang merawat lukanya. Dan ketika ia pergi, saya adalah orang terakhir di rumah yang mengetahui tentang kematiannya.
Sakit sekali. Bahkan rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang. Sudah jarang rasanya saya menangis tersedu-sedu di hadapan orangtua saya. Tapi kali itu? Saya hanya bisa meraung dan menyuruh ibu saya pergi. “Biarkan saya sendiri,” jerit saya saat itu.
Lebih sakit lagi ketika di hari yang sama, hanya beberapa jam setelah kabar itu saya terima, saya harus bersikap profesional dengan melakukan bimbingan laporan bersama seorang dosen saya. Mungkin sang dosen dalam hatinya bertanya-tanya, mengapa mata saya saat itu bengkak, lebam. Mungkin juga beliau kesal melihat saya tidak fokus saat berbicara. Bagaimana bisa fokus? Saat itu hati saya seperti dicabut, setengah jiwa melayang pergi.
Di balik semua itu, kesedihan terbesar terasa ketika bertemu dan mendengar komentar sahabat-sahabat dekat yang sulit merasakan kepedihan saya. Seorang sahabat dekat bertanya sambil setengah tertawa, “Maaf ya mel, tapi gue nggak bisa ngerti, emang segitu dalemnya, ya? Abis gue nggak pernah punya peliharaan yang hubungannya sedalem itu”. Saya tentu tidak bisa menyalahkan teman saya itu, lagipula saya melihat usaha dia untuk menghibur saya. Dia spesial mendatangi saya, meski saya merasakan sekali kebingungannya.
Memang bagi beberapa orang hal ini sulit dimengerti. Bagaimana bisa, seekor kucing kampung bisa membuat saya begitu jatuh, seperti kehilangan seorang manusia. Tapi hanya satu jawaban yang bisa saya berikan pada teman tadi, “Ya, sedalam itu”. Ya, sedalam itu. Dia bukan hanya seorang kucing peliharaan, dia adik saya, keluarga saya.
Suatu kali di pertengahan bulan kemarin, saya sempat merenungkan diri saya dan sang kucing. Saat itu saya sedang menangani kasus mengenai anak abege yang belum bisa menghadapi kepergian ayah untuk selamanya. Dan, aneh sekali, ketika sedang melakukan pembicaraan dengan dosen mengenai kasus ini, tanpa disadari saya meneteskan air mata dan tidak sanggup menghentikannya. Dosen saya sampai bingung. Dia bingung, apalagi saya.
Kemudian saya menyadari satu hal bahwa saya memang belum betul-betul menerima kepergiannya. Di jauh lubuk hati, saya marah karena dia tidak mendatangi saya di saat-saat terakhirnya. Di alam bawah sadar saya, masih ada harapan sang adik kebanggaan akan kembali.
Hari ini saya memikirkan mengenai semua ini kembali. Saya, dia, kami. Hubungan itu sungguh sangat indah dan berarti. Tapi mungkin saya harus belajar melepaskannya. Itu yang terbaik baginya, luka di lehernya tampak sudah begitu parah saat terakhir kali kami bertemu.
Jadi inilah saatnya, Sadewa The Cat. Saya sangat merindukan kamu, tapi saya tahu tidak ada hal lain yang dapat saya perbuat untuk membuat kamu kembali. Karpet lembut tempat kamu biasa tidur masih terus tergeletak di belakang sana, piring tempat saya biasa menaruh makananmu sudah dicuci bersih oleh ibu dan disimpan di gudang, tempat jemuran yang biasa kamu jadikan singgasana juga tetap berdiri kokoh. Semuanya tetap ada, tapi justru kamu yang tidak pernah ada.
Saatnya saya melepas kamu. Sakit sekali, tapi saya harus lakukan ini. Waktu terus berjalan.
Selamat tinggal, Sadewa The Cat. Terima kasih telah menjadi kucing sekaligus adik yang begitu membanggakan. Kita bertemu lagi di lain waktu, ya.
Be good, there…




aku ngerti banget, mels, sekarang Fergus aku panggil my darling, saat suami bertanya kenapa aku suka panggil begitu (suami aja nggak aku panggil my darling… ) karna dia darlingku, 24jam bersamaku, lebih banyak bersama Fergus daripada sama suami! Fergus seperti alm Sadewa, nafasku juga…
akhirnya, gue nggak tahan buat nggak komen…hihihihihi!! No one can understand u better than ur pet!!! Gue dah ngerasain berbagai versi kehilangan my lovely pets! Dari mulai dapet kabarnya doang, pergi dalam gendongan gue, bahkan pergi saat gue baru aja nganter dia ke dokter…masih dengan selang infus di tangan kecilnya…di jok belakang mobil….gue nangis bombay sepanjang jalan pulang sambil nyetir! Nyokap gue lebih parah lagi, dia pernah nangis tiap malam selama sebulan penuh gara-gara anjing kesayangannya mati *eh iya, kita sekeluarga selalu tidur sama anjing kesayangan kita masing2, hehehe*
‘when u want to know how to love unconditionally…learn it from your pet!’
betewe, gue suka banget blog lu….hehehehehehe (OOT)
@ mbak iya: mbak, aku kayaknya jatuh cinta sama fergus. huhuhu… lucu banget mukanya. nyaris mirip sama puss in boots. hehehe..
@ erlia: hari ini gue mengalami 2 kejadian yang menarik. pertama, waktu buka imel dan baca komen dari lo. masalahnya, hanya setengah jam sebelumnya, gue lagi ngobrol ma temen2 tentang binatang peliharaan masing2. dan ternyata lo komen di tulisan tentang ini. hmm, mungkin sadewa the cat ingin menyampaikan salam ke gue lewat lo ya. hehhee.. kedua, boookkkk ternyata lo istrinya SN ya? hahaha… pas baca blog situ, langsung ketawa mampus, what a small world we live in, ya. dulu gue skelas sama dia. hehhee.. banyak deh ceritanya. vespa kesayangannya itu masih ada gak? hahaha… salam ya, er. dan.. terima kasih pujiannya. gue juga suka blog lo. eye catching. mau dipasangin lagu kayak gitu juga, ah. hehehe..
wah mirip sama kejadian yang saya alami ya sama anjing saya.,..
http://yosuakristianto.wordpress.com/2009/07/03/the-essence-of-a-word/
gak aktif blogging lagi?
hey… yosua. iya, gak sempet aku, padahal banyak cerita menarik.
btw, again, gue yakin sadewa the cat lagi ingin ‘bicara’ dengan gue. karena pas minggu kemaren (berarti 2 hari yang lalu) gue buat status di fesbuk dengan tulisan “all of sudden, i miss sadewa the cat”.
terima kasih sudah menjadi ‘perantara’, mas yosua.
hai sadewa, i am fine, here. how about you?!