Di antara teman-teman, saya termasuk orang yang paling sering tidak punya pacar alias jomblo. Herannya, entah karena sudah terbiasa atau sudah kebal (hehehe), saya jarang merasa kesepian. Barangkali karena saya punya teman-teman yang selalu ada di sekeliling saya. Pun mereka sedang sibuk dan alpa, saya termasuk orang yang bisa survive seorang diri.
Seringnya saya menjadi single fighter di tengah teman-teman yang sudah taken, membuat saya sering menjadi pusat perhatian. Bayangkan saja, seringkali di saat kami sedang makan bersama, teman-teman saya datang sebagai pasangan, sementara saya sendirian saja. Untung saya berpenampilan sedikit maskulin (meski jalan pikiran saya sangat feminin), sehingga biasanya saya nyambung-nyambung saja dengan pasangannya sahabat-sahabat perempuan saya itu.
Dalam beberapa hal, kebiasaan untuk menjadi ’satu-satunya jomblo dalam gank’ ini membuat saya jadi memosisikan diri sebagai penjaga teman-teman saya, terutama bila mereka sedang berkelahi dengan pasangannya atau malah saat mereka putus. Apalagi saya bertubuh cukup besar (dan herannya teman-teman dekat saya kebanyakan kecil-kecil), sehingga mereka sering gelendotan di lengan saya, manakala sedang berjalan bersama. Hahaha…
Seperti saya bilang tadi, secara tidak sadar akhirnya saya memosisikan diri sebagai penjaga sahabat-sahabat saya. Ketika mereka sedang tidak punya pacar, saya akan berusaha agar mereka tetap bahagia dan tidak merasa sedih. Ketika mereka sedang pendekatan dengan orang lain, saya juga berusaha memberikan saran dan dukungan spirituil agar dia berhasil. Hahaha…
Bagaimana ketika akhirnya mereka punya pacar? Nah, ini bagian yang paling menyesakkan dari semua episode ‘penjagaan’ tersebut. Setelah sekian lama menjadi ’satpam’ sekaligus ‘pengasuh’, akhirnya saya harus melepaskan tonggak kepemimpinan itu pada sang pacar baru.
Berat, tentu saja. Terkadang saya merasa seperti ditinggalkan. Sayangnya, karena terlalu banyak sahabat yang saya ‘jaga’, akhirnya saya sering sekali merasakan left-behind syndrome ini. Sedih sekali rasanya. Jika sebelumnya saya menjadi orang pertama yang dihubungi saat ada masalah, sekarang saya menjadi orang kesekian yang mereka andalkan. Bila sebelumnya mereka selalu mengirim pesan singkat semacam, “What am i gonna do without you?”, sekarang boro-boro pesan seperti itu, pesan sebaris seperti, “How’s life?” saja tidak pernah didapat.
Sekali lagi, malangnya saya karena harus selalu merasakan ini. Ingin marah, tentu tidak bisa. Siapa saya? Mereka juga tidak minta saya untuk selalu menjaganya, kan?! Tindakan itu toh saya lakukan secara sukarela.
Akhirnya saya kembali menggunakan prinsip ‘payung’, yang selama ini selalu saya pegang. Maksudnya adalah saya hanya bisa berusaha menjadi seperti payung yang tidak pernah pergi. Tetap di situ. Tidak masalah bila sang manusia meninggalkan payung tersebut, yang penting dia tetap ada di situ di kala manusia membutuhkannya.
Begitulah yang saya lakukan. I am not going anywhere. Manakala mereka membutuhkan saya kembali, saya selalu siap menjalani tugas saya sebagai ‘penjaga’ mereka. Sedih dan pedih, memang, tapi justru di situlah ketulusan saya sebagai sahabat diuji.
Tadi, hanya sekitar satu jam yang lalu, saya bertemu dengan seorang sahabat saya, yang juga baru memiliki pacar. Ketika dia belum punya pacar, saya kerahkan segala usaha saya agar dia selalu bahagia. Sedihnya, saya merasa kehilangan dia akhir-akhir ini, tepat ketika dia akhirnya menerima ajakan sang lelaki untuk berpacaran. Dia bawa pacar barunya itu tadi. Katanya, dia memaksa pacarnya untuk mengenal saya. Yah, cukup tersanjung juga mendengarnya, tapi sisi sinis di diri saya seperti mengatakan, “Nggak ngaruh ah lo ngenalin gue sama pacar lo. Gue tetep kehilangan lo, gue seperti nggak kenal lo lagi”.
Tapi kemudian saya berperang dengan diri saya sendiri. Ketika mereka sedang bercerita-cerita, otak saya sibuk ‘bercerita’ juga. Sisi sinis terus mengatakan bahwa usaha mereka untuk mendekati saya kembali adalah bullshit, namun sisi baik hati ternyata tidak lelah untuk mengingatkan agar saya tidak menjauhi mereka, terutama sahabat saya itu. Kata si sisi baik hati, saya harus jujur pada diri sendiri, bahwa saya senang melihat dia sekarang bahagia bersama pacar barunya itu.
Bisa jadi saat ini Anda sedang mencemooh saya: plinplan, jilat ludah sendiri, tidak jelas apa maunya. Bahkan mungkin ada yang menyalahkan: “Siapa suruh sok jadi guardian angle, toh sahabatnya nggak minta, kan?”.
Ah, terserah lah Anda mau bilang apa. Anda mungkin belum pernah merasakan keinginan tulus untuk bersahabat. Atau mungkin juga Anda belum pernah bertemu sahabat dekat, yang sudah menjelma seperti saudara sendiri. Kenapa saya berani berkata seperti itu? Karena bila Anda pernah merasakan dan bertemu sahabat seperti ini, maka Anda pasti akan merasakan kehilangan seperti yang saya alami. Kenapa lagi-lagi saya berani berkata begitu? Karena saya meyakini bahwa ketika kita mengenal cinta, sayang, dan kasih, maka kita cenderung mempertahankan perasaan positif itu dan merasa kehilangan ketika rasa itu pergi.
Detik ini, perasaan saya sangat ambigu. Di satu pihak, saya sangat bahagia melihat sahabat saya merasa senang dan mendapatkan pasangan yang sepadan dengannya. Tapi di lain pihak, saya sangat merasakan kehilangan itu. Anda masih tidak dapat membayangkan perasaan kehilangan itu? Saya beri sedikit gambaran: Rasanya seperti ketika kita disuruh berhenti melakukan sebuah pekerjaan yang sangat kita cintai, karena sudah ada orang baru yang kini bertanggung jawab melakukan pekerjaan itu!
Ya, dalam hal ini, saya seperti disuruh berhenti bekerja sebagai penjaga sahabat saya tadi, karena sudah ada sang pacar baru yang menjaganya. Enak, sebenarnya, karena saya tidak lagi perlu selalu terjaga. Tapi apa jadinya kalau ‘pemutusan hak karyawan’ tersebut justru menjauhkan saya dengan sang sahabat?
Ambigu.




kata mereka