left-behind syndrome

29 10 2007

Di antara teman-teman, saya termasuk orang yang paling sering tidak punya pacar alias jomblo. Herannya, entah karena sudah terbiasa atau sudah kebal (hehehe), saya jarang merasa kesepian. Barangkali karena saya punya teman-teman yang selalu ada di sekeliling saya. Pun mereka sedang sibuk dan alpa, saya termasuk orang yang bisa survive seorang diri.

Seringnya saya menjadi single fighter di tengah teman-teman yang sudah taken, membuat saya sering menjadi pusat perhatian. Bayangkan saja, seringkali di saat kami sedang makan bersama, teman-teman saya datang sebagai pasangan, sementara saya sendirian saja. Untung saya berpenampilan sedikit maskulin (meski jalan pikiran saya sangat feminin), sehingga biasanya saya nyambung-nyambung saja dengan pasangannya sahabat-sahabat perempuan saya itu.

Dalam beberapa hal, kebiasaan untuk menjadi ’satu-satunya jomblo dalam gank’ ini membuat saya jadi memosisikan diri sebagai penjaga teman-teman saya, terutama bila mereka sedang berkelahi dengan pasangannya atau malah saat mereka putus. Apalagi saya bertubuh cukup besar (dan herannya teman-teman dekat saya kebanyakan kecil-kecil), sehingga mereka sering gelendotan di lengan saya, manakala sedang berjalan bersama. Hahaha…

Seperti saya bilang tadi, secara tidak sadar akhirnya saya memosisikan diri sebagai penjaga sahabat-sahabat saya. Ketika mereka sedang tidak punya pacar, saya akan berusaha agar mereka tetap bahagia dan tidak merasa sedih. Ketika mereka sedang pendekatan dengan orang lain, saya juga berusaha memberikan saran dan dukungan spirituil agar dia berhasil. Hahaha…

Bagaimana ketika akhirnya mereka punya pacar? Nah, ini bagian yang paling menyesakkan dari semua episode ‘penjagaan’ tersebut. Setelah sekian lama menjadi ’satpam’ sekaligus ‘pengasuh’, akhirnya saya harus melepaskan tonggak kepemimpinan itu pada sang pacar baru.

Berat, tentu saja. Terkadang saya merasa seperti ditinggalkan. Sayangnya, karena terlalu banyak sahabat yang saya ‘jaga’, akhirnya saya sering sekali merasakan left-behind syndrome ini. Sedih sekali rasanya. Jika sebelumnya saya menjadi orang pertama yang dihubungi saat ada masalah, sekarang saya menjadi orang kesekian yang mereka andalkan. Bila sebelumnya mereka selalu mengirim pesan singkat semacam, “What am i gonna do without you?”, sekarang boro-boro pesan seperti itu, pesan sebaris seperti, “How’s life?” saja tidak pernah didapat.

Sekali lagi, malangnya saya karena harus selalu merasakan ini. Ingin marah, tentu tidak bisa. Siapa saya? Mereka juga tidak minta saya untuk selalu menjaganya, kan?! Tindakan itu toh saya lakukan secara sukarela.

Akhirnya saya kembali menggunakan prinsip ‘payung’, yang selama ini selalu saya pegang. Maksudnya adalah saya hanya bisa berusaha menjadi seperti payung yang tidak pernah pergi. Tetap di situ. Tidak masalah bila sang manusia meninggalkan payung tersebut, yang penting dia tetap ada di situ di kala manusia membutuhkannya.

Begitulah yang saya lakukan. I am not going anywhere. Manakala mereka membutuhkan saya kembali, saya selalu siap menjalani tugas saya sebagai ‘penjaga’ mereka. Sedih dan pedih, memang, tapi justru di situlah ketulusan saya sebagai sahabat diuji.

Tadi, hanya sekitar satu jam yang lalu, saya bertemu dengan seorang sahabat saya, yang juga baru memiliki pacar. Ketika dia belum punya pacar, saya kerahkan segala usaha saya agar dia selalu bahagia. Sedihnya, saya merasa kehilangan dia akhir-akhir ini, tepat ketika dia akhirnya menerima ajakan sang lelaki untuk berpacaran. Dia bawa pacar barunya itu tadi. Katanya, dia memaksa pacarnya untuk mengenal saya. Yah, cukup tersanjung juga mendengarnya, tapi sisi sinis di diri saya seperti mengatakan, “Nggak ngaruh ah lo ngenalin gue sama pacar lo. Gue tetep kehilangan lo, gue seperti nggak kenal lo lagi”.

Tapi kemudian saya berperang dengan diri saya sendiri. Ketika mereka sedang bercerita-cerita, otak saya sibuk ‘bercerita’ juga. Sisi sinis terus mengatakan bahwa usaha mereka untuk mendekati saya kembali adalah bullshit, namun sisi baik hati ternyata tidak lelah untuk mengingatkan agar saya tidak menjauhi mereka, terutama sahabat saya itu. Kata si sisi baik hati, saya harus jujur pada diri sendiri, bahwa saya senang melihat dia sekarang bahagia bersama pacar barunya itu.

Bisa jadi saat ini Anda sedang mencemooh saya: plinplan, jilat ludah sendiri, tidak jelas apa maunya. Bahkan mungkin ada yang menyalahkan: “Siapa suruh sok jadi guardian angle, toh sahabatnya nggak minta, kan?”.

Ah, terserah lah Anda mau bilang apa. Anda mungkin belum pernah merasakan keinginan tulus untuk bersahabat. Atau mungkin juga Anda belum pernah bertemu sahabat dekat, yang sudah menjelma seperti saudara sendiri. Kenapa saya berani berkata seperti itu? Karena bila Anda pernah merasakan dan bertemu sahabat seperti ini, maka Anda pasti akan merasakan kehilangan seperti yang saya alami. Kenapa lagi-lagi saya berani berkata begitu? Karena saya meyakini bahwa ketika kita mengenal cinta, sayang, dan kasih, maka kita cenderung mempertahankan perasaan positif itu dan merasa kehilangan ketika rasa itu pergi.

Detik ini, perasaan saya sangat ambigu. Di satu pihak, saya sangat bahagia melihat sahabat saya merasa senang dan mendapatkan pasangan yang sepadan dengannya. Tapi di lain pihak, saya sangat merasakan kehilangan itu. Anda masih tidak dapat membayangkan perasaan kehilangan itu? Saya beri sedikit gambaran: Rasanya seperti ketika kita disuruh berhenti melakukan sebuah pekerjaan yang sangat kita cintai, karena sudah ada orang baru yang kini bertanggung jawab melakukan pekerjaan itu!

Ya, dalam hal ini, saya seperti disuruh berhenti bekerja sebagai penjaga sahabat saya tadi, karena sudah ada sang pacar baru yang menjaganya. Enak, sebenarnya, karena saya tidak lagi perlu selalu terjaga. Tapi apa jadinya kalau ‘pemutusan hak karyawan’ tersebut justru menjauhkan saya dengan sang sahabat?

Ambigu.





sadewa the cat

29 10 2007

Hari ini saya mengenang kembali pagi ketika saya tidak mampu menahan tangisan saya. Sebelum pagi itu, dunia memang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Jantung saya selalu berdegup kencang, pikiran saya melayang-layang, nafas saya terengah-engah. Semua itu terjadi karena perginya seekor kucing, yang sangat saya cintai. Tidak ada kabar, tidak ada tanda-tanda. Makanan yang selalu saya siapkan, tidak pernah digubris. Karpet hangat yang selalu tersedia, tidak pernah disambangi. Panggilan yang saya serukan di malam hari, tidak pernah dibalas. Singkat cerita, hari-hari sebelum pagi itu merupakan mimpi buruk, yang tidak ingin saya ulang.

Apa daya, ternyata ada yang lebih buruk lagi dari hari-hari itu. Di pagi hari, kala saya sedang bersiap-siap untuk beraktivitas, sang ibu datang dan memberitahukan bahwa sehari sebelumnya, tepatnya di sore hari, lebih tepat lagi di kala saya belum pulang ke rumah, secara lebih spesifik lagi di saat saya sedang sibuk memikirkan mengenai sang kucing… Di saat semua itu sedang terjadi, paman saya menemukan kucing yang dirindukan itu sudah tidak bernyawa dan berada dalam keadaan busuk.

Hati mana yang tidak perih? Mata siapa yang tidak menangis? Saya mencintai kucing itu, Sadewa The Cat, lebih dari apapun. Saya yang menemukannya, saya yang merawatnya, saya yang tidur bersamanya, saya yang menyiumnya, saya yang merawat lukanya. Dan ketika ia pergi, saya adalah orang terakhir di rumah yang mengetahui tentang kematiannya.

Sakit sekali. Bahkan rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang. Sudah jarang rasanya saya menangis tersedu-sedu di hadapan orangtua saya. Tapi kali itu? Saya hanya bisa meraung dan menyuruh ibu saya pergi. “Biarkan saya sendiri,” jerit saya saat itu.

Lebih sakit lagi ketika di hari yang sama, hanya beberapa jam setelah kabar itu saya terima, saya harus bersikap profesional dengan melakukan bimbingan laporan bersama seorang dosen saya. Mungkin sang dosen dalam hatinya bertanya-tanya, mengapa mata saya saat itu bengkak, lebam. Mungkin juga beliau kesal melihat saya tidak fokus saat berbicara. Bagaimana bisa fokus? Saat itu hati saya seperti dicabut, setengah jiwa melayang pergi.

Di balik semua itu, kesedihan terbesar terasa ketika bertemu dan mendengar komentar sahabat-sahabat dekat yang sulit merasakan kepedihan saya. Seorang sahabat dekat bertanya sambil setengah tertawa, “Maaf ya mel, tapi gue nggak bisa ngerti, emang segitu dalemnya, ya? Abis gue nggak pernah punya peliharaan yang hubungannya sedalem itu”. Saya tentu tidak bisa menyalahkan teman saya itu, lagipula saya melihat usaha dia untuk menghibur saya. Dia spesial mendatangi saya, meski saya merasakan sekali kebingungannya.

Memang bagi beberapa orang hal ini sulit dimengerti. Bagaimana bisa, seekor kucing kampung bisa membuat saya begitu jatuh, seperti kehilangan seorang manusia. Tapi hanya satu jawaban yang bisa saya berikan pada teman tadi, “Ya, sedalam itu”. Ya, sedalam itu. Dia bukan hanya seorang kucing peliharaan, dia adik saya, keluarga saya.

Suatu kali di pertengahan bulan kemarin, saya sempat merenungkan diri saya dan sang kucing. Saat itu saya sedang menangani kasus mengenai anak abege yang belum bisa menghadapi kepergian ayah untuk selamanya. Dan, aneh sekali, ketika sedang melakukan pembicaraan dengan dosen mengenai kasus ini, tanpa disadari saya meneteskan air mata dan tidak sanggup menghentikannya. Dosen saya sampai bingung. Dia bingung, apalagi saya.

Kemudian saya menyadari satu hal bahwa saya memang belum betul-betul menerima kepergiannya. Di jauh lubuk hati, saya marah karena dia tidak mendatangi saya di saat-saat terakhirnya. Di alam bawah sadar saya, masih ada harapan sang adik kebanggaan akan kembali.

Hari ini saya memikirkan mengenai semua ini kembali. Saya, dia, kami. Hubungan itu sungguh sangat indah dan berarti. Tapi mungkin saya harus belajar melepaskannya. Itu yang terbaik baginya, luka di lehernya tampak sudah begitu parah saat terakhir kali kami bertemu.

Jadi inilah saatnya, Sadewa The Cat. Saya sangat merindukan kamu, tapi saya tahu tidak ada hal lain yang dapat saya perbuat untuk membuat kamu kembali. Karpet lembut tempat kamu biasa tidur masih terus tergeletak di belakang sana, piring tempat saya biasa menaruh makananmu sudah dicuci bersih oleh ibu dan disimpan di gudang, tempat jemuran yang biasa kamu jadikan singgasana juga tetap berdiri kokoh. Semuanya tetap ada, tapi justru kamu yang tidak pernah ada.

Saatnya saya melepas kamu. Sakit sekali, tapi saya harus lakukan ini. Waktu terus berjalan.

Selamat tinggal, Sadewa The Cat. Terima kasih telah menjadi kucing sekaligus adik yang begitu membanggakan. Kita bertemu lagi di lain waktu, ya.

Be good, there…





tentang masa lalu dan melayani

28 10 2007

Hari ini saya banyak berbagi cerita dengan kakak saya dan Kak Merry, seorang teman dari sebuah paduan suara yang beberapa tahun lalu menjadi salah satu pusat perhatian saya, mengenai hari-hari ketika kami masih aktif di paduan suara tersebut. Paduan suara itu adalah paduan suara gerejawi yang cukup harum namanya di kalangan tertentu. Yap, bejat-bejat begini, saya pernah terdaftar sebagai soprano di paduan suara tersebut. Saya biasa memberi istilah kegiatan itu sebagai ’sedang bernyanyi’, namun kalau sedang rajin dan ingin sedikit religius, saya menyebutnya sebagai ‘pelayanan’.

Masa melayani di tempat itu sungguh menyenangkan dan saya mendapatkan banyak berkat yang pasti membuat Anda tercengang bila saya ceritakan. Seperti semua kelelahan yang muncul dari pelayanan tersebut lunas terbayar oleh berkat-berkat yang saya dapat (yah, mumpung lagi hari Minggu, bolehlah saya religius dikit. Hehehe…).

Sayangnya, sekitar satu tahun belakangan ini saya sudah sangat tidak aktif di tempat itu. Yah, namanya organisasi, banyak sekali perbedaan pendapat yang terjadi. Tapi memang banyak hal yang berubah dan saya seolah tidak mampu berdamai dengan perubahan tersebut. Teman-teman dekat saya sudah banyak yang mengundurkan diri, banyak orang baru berdatangan, dan semua itu membuat saya semakin merasa insecure.

Padahal saya termasuk orang yang cukup mudah beradaptasi. Tapi, hmm, mungkin sebenarnya saya belum bisa menerima ‘kepergian’ teman-teman dekat saya yang tak lagi menjadi bagian dari paduan suara tersebut. Seperti merasa ditinggalkan dan saya sebal karena menjadi satu-satunya orang di dalam ‘gank’ yang masih bertahan.

Saat ini saya sedang berpikir ulang mengenai kemungkinan akan kembali. Bukan apa-apa, jauh di dalam lubuk hati yang sedang dingin ini, saya sangat menyenangi kegiatan bernyanyi. Lebih jujur lagi, saya mencintai paduan suara ini.

Tapi mungkin saya harus berdamai dulu dengan hati saya. Melayani bukan pekerjaan yang asal-asalan.





preambule

28 10 2007

Percaya atau tidak, saya sudah duduk cukup lama di depan layar monitor pc saya, tapi tetap tidak tahu ingin menulis apa. Bukan tidak tahu, tapi saya bingung ingin menulis apa lagi, karena ini bukan blog pertama saya. Blogger, Friendster, dan Multiply sudah lebih dahulu mencuri perhatian saya dalam dunia tulis-menulis di lingkungan maya ini. Jadi ketika saya harus kembali menulis di sini, saya bingung harus menulis apa lagi.

Sebenarnya ini bukanlah WordPress pertama saya. Sudah ada account yang mendahului, tapi saya lupa Username dan Password saya. Hehehe… Barangkali admin WordPress sudah dari jauh hari memutuskan untuk mematikan account saya itu.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa saya tetap membuka account di situs ini, padahal blog saya di Friendster dan Multiply masih aktif? Hmm, tidak tahu juga. Satu-satunya alasan yang paling masuk akal adalah saya ingin bisa menulis dengan bebas, mengingat account di Friendster dan Multiply cukup sering dibuka oleh orang-orang tertentu, yang bisa jadi memberikan penilaian kurang mengenakkan mengenai tulisan saya. Alhasil, saya harus sering-sering mengedit atau menghaluskan kalimat saya, yang sebenarnya cukup kasar ini. Hahaha… Herannya, saya berniat untuk meng-’go public’-kan account WordPress saya ini. Lohhh… Berarti tetap nggak bisa bebas, kan?! Hehehe… Hidup saya memang penuh kontradiksi.

Jadi begitulah perkenalan singkat saya. Masih belum tahu apa yang akan saya tuliskan di sini. Bisa jadi penuh basa-basi nggak penting, bisa jadi terlalu serius sehingga Anda muak membacanya, bisa jadi se-cheesy cerita teenlit khas anak muda. Tidak menutup kemungkinan juga Anda menjadi sakit perut karena tertawa lebar atau mata Anda perih karena menangis terharu. Seperti sudah saya katakan sebelumnya, sekaligus wanti-wanti, hidup saya penuh kotradiksi.

Anda tertarik? Sudi kiranya mampir dan membaca halaman-halaman maya ini. Anda bosan dan tidak tertarik? Nggak masyalah, saya masih tetap bisa hidup tanpa Anda.

Anda pikir saya sinis? Masak sih? Justru saya adalah orang yang sangat hangat dan sentimentil. Saking sentimentilnya, saya menaruh gambar kedua mata saya di bagian paling atas blog ini, maksudnya agar Anda bisa melihat jauh ke dalam diri saya dan memperkirakan orang seperti apa saya ini. Konon mata adalah jendela yang membatasi dunia luar dan dunia dalam seseorang. See? Cukup sentimentil bukan? Atau chessy? Hahaha… Itu memang beda tipis.

Salam,

Mels