Ya, blog ini masih ada. Sudah lama memang tidak dikunjungi. Ke mana saja saya?
Gak ke mana-mana. Hanya saja, saya memutuskan untuk membuat blog baru, memisahkan dari yang ini. Sebenarnya itu usaha saya, supaya ingat untuk selalu memisahkan masalah perasaan dengan kenyataan. Berhasil? Nggak terlalu. Hahaha…
Bagaimana hubungan saya dengannya? Belum ada perkembangan dari sisi saya, meski berubah besar dari sisinya. Sejauh yang saya tangkap seperti itu. Dia berubah, tidak sehangat dulu. Kami biasa bercanda dan tertawa, cerita mengenai berbagai hal. Kini, terjadi ketika memang ada topik saja. Tidak ada lagi obrolan penting maupun tidak penting.
Cemburu rasanya saat melihatnya dekat dengan teman-teman lain. Bukan pacar, lho! Hanya teman. Terkadang ini membuat saya merasa jadi sangat posesif. Okelah bila cemburu dengan kekasihnya. Tapi, masa harus cemburu dengan temannya juga?
Mungkin karena… Saya teramat kehilangannya, sebagai seseorang yang saya cintai maupun sebagai sahabat. Melihatnya bersama teman-teman baru membuat saya sedih. Saya dan dia dulu seperti itu. Sekarang tidak lagi.
Sebenarnya bukan sepenuhnya terjadi karena kehendak dia. Kenyataannya, memang saya sendiri yang menjauh. Berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya membuat saya (dan saran semua orang) berpikir menjauh adalah yang terbaik. Saya pun menjauhinya. Dan, memang sedikit berhasil. Saya berhasil melupakannya. Tetapi, kemudian jatuh lagi di satu titik di mana saya menyadari bahwa saya telah kehilangan sahabat yang begitu berarti.
Terlalu rumit ya? Memang. Saking rumitnya, saya pun berhenti menceritakan kepada semua orang tentang perasaan saya terhadapnya. Saya takut mereka marah, karena merasa saya selalu mengeluh tetapi tidak pernah mendengarkan saran mereka. Padahal, demi Tuhan, saya mencoba. Hanya terlalu sulit.
Bagian paling sulit sebenarnya mendefinisikan apa yang saya mau. Iya, saya mau melupakannya. Iya, saya lelah mencintainya. Iya, saya mau berusaha melupakannya. Tapi, tidak, saya belum siap untuk menghilangkannya dari keseharian saya. Belum siap, belum sanggup, dan situasinya belum memungkinkan.
Mungkin saya harus pindah dari kota ini sesegera mungkin, ya. Dengan demikian, siap atau tidak siap, sanggup maupun belum sanggup, saya memang harus terima bila harus menyingkirkannya.
Entahlah…




kata mereka