cinta kamu

10 02 2010

Meski saya tahu tidak akan pernah memilikinya, tapi sikapnya malam kemarin dan pagi ini membuat saya luar biasa senang.

Paling tidak, saya tahu kalau ada secuil dari diri saya yang bermakna buatnya.

Kini saya dapat mencintaimu dengan cara yang lebih realistis. Tanpa harapan mendalam, tapi tetap dengan hati yang tulus.

Terima kasih telah membuat saya tersenyum begitu ceria pagi ini.





24 01 2010

I love you.

Cuman pengen bilang itu aja.





hear me, o, Lord!

22 01 2010

Have mercy on me, Lord Jesus. I have to be there. Please, help me..





undur diri

17 01 2010

Sekarang saya punya alasan yang jelas untuk berhenti mencintai dia.

Bagi dia, saya bukan apa-apa. Tidak juga sebatas sahabat dekat.

Saya hanya teman mainnya. Teman gila-gilaan.

Porsinya cuma segitu. Tidak lebih.

Baiklah kalau begitu. Saya undur diri.





you’re not there!

13 01 2010

‘Cause you’re not there when I needed you yesterday.

Maybe becos I’m nobody..





mati perlahan

2 01 2010

Saya telah memutuskan untuk menjadi pasif terhadap apapun di sekeliling saya.

Menjadi seseorang yang tidak terlalu banyak bicara. Berhenti berpendapat, berhenti bercerita, dan berhenti bercinta.

Saya memutuskan untuk menjadi orang kebanyakan saja. Orang biasa, yang terlalu biasa.

Entah mengapa, rasanya payah sekali.

Namun rasanya semua indera berpikir saya telah dimatikan, sementara indera perasa terlalu disibukkan oleh kepedihan.

Dengan berat hati, hari ini saya mengambil keputusan itu.

Ya, saya memutuskan untuk ‘mati’ secara perlahan.





adiksi

2 01 2010

Aku dan dia bercinta tanpa mengenal waktu.
Seolah rindu tak kuasa dibendung dan rasa terlalu berlebih untuk disimpan begitu saja.

Sayang, cinta itu hanya dapat dipertontonkan dalam diam.
Dalam kepura-puraan.
Mencoba terlihat biasa, meski sebenarnya begitu menggebu.

Karena aku tahu kalau dia memang tidak akan mendampingiku selamanya.

Dan dia.

Dia pun tahu kalau dirinya tak mungkin bisa mendampingiku.

Cinta tak berbalas?

Bukan!

Ini cinta yang terlanjur menjadi adiksi. Sulit dilepas, meski sadar tidak ada gunanya.

And I love you so!





kosong

15 11 2009

“pernahkah kau merasa, tidak pernah merasa sepi?”

aku tak pernah! aku selalu merasakannya!

kosong!

 

(monty tiwa)





yang terbaik, biasanya sulit!

14 11 2009

Sejak minggu lalu, pikiran saya dirisaukan oleh sebuah keputusan besar yang harus saya buat. Saya katakan keputusan besar, karena apapun yang akan ke luar dari mulut saya, akan berpengaruh besar terhadap perjalanan hidup seseorang. Tentu saya terbeban, tentu sulit sekali!

Masalahnya tidak akan membuat saya pusing tujuh keliling bila keputusan yang harus diambil merupakan sesuatu yang sifatnya menyenangkan. Sebaliknya, karena keputusannya kemungkinan besar menyedihkan, bahkan mungkin menyakitkan, sehingga saya tidak berhenti memikirkannya. Terkadang sampai menangis saking tidak kuasanya.

Namun, pada akhirnya saya mencoba untuk menggunakan seluruh akal sehat dan kemampuan berempati yang saya miliki. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak terjebak dalam tekanan simpati, yang akan membuat saya mengambil keputusan hanya berdasarkan rasa kasihan. Pada akhirnya, rapat besar akal sehat, hati, dan empati memutuskan bahwa saya harus mengambil keputusan terpahit. Keputusan yang sebenarnya sangat saya hindari dan tidak ingin sentuh sama sekali.

Berulang kali saya mencoba menangguhkan keputusan tersebut, tawar-menawar dengan diri sendiri agar membatalkan keputusan tersebut. Namun keputusan ternyata sudah begitu bulat, sehingga apapun usaha saya untuk bernegosiasi dengan diri sendiri menjadi sia-sia.

Akhirnya saya pun harus menyampaikan hal tersebut kepada mereka yang bersangkutan. Bukan saya eksekutornya, tetapi saya hadir mendampingi. Hmm, mungkin tidak tepat bila disebut mendampingi, karena pada saat itu saya hanya bisa terdiam. Seribu bahasa, seribu kata. Selain karena hal tersebut di luar wewenang saya, tapi saya juga yakin bila saya berusaha mengucap satu kalimat pun, pasti segera terhenti oleh tangisan.

Situasi saat itu masih terekam jelas di benak saya. Saat sang pelindung marah besar, maupun ketika sang pangeran remaja menatap saya seolah mengatakan, “Tolong saya”. Mirisnya, saya hanya bisa terdiam, meski di hati hancur sekali. Sakit banget! Seolah saya menjadi algojo penjagal yang tidak peduli dengan perasaan orang lain. Padahal tidak begitu! Saya begitu rapuh saat itu, hingga sulit berpikir dan merasa. Betul-betul hambar.

Berhari-hari saya mencoba berdamai dengan perasaan hancur ini, sambil sibuk berkontemplasi dengan diri sendiri. Hingga pada suatu hari saya terpikir untuk mencari analogi yang tepat dengan perasaan yang saya alami saat ini. Secara tiba-tiba, teringat saat di mana saya sering marah dan berteriak kepada Tuhan, terutama saat berada di saat-saat terjatuh dalam hidup saya. “Why God?!”, “Nggak adil!”, “Why do You hate me that bad?!”, dan lain sebagainya.

Mengingat semua pertanyaan yang tidak pernah terjawab itu, saya jadi membayangkan posisi saya saat ini. Bisa jadi, para pihak yang bersangkutan sedang bertanya hal serupa kepada saya. Tatapan nanar sang pangeran remaja mungkin ingin menanyakan, “Why didn’t you help me, Mels? Why do you give up on me?”.

Inilah yang kemudian secara mengejutkan menyadarkan saya mengenai proses apa yang sedang terjadi ketika Tuhan saya memberikan cobaan berat kepada saya. Mengenai konsep bahwa “ia memberi cobaan agar kita menjadi lebih kuat dan tegar”, itu saya pahami sejak lama. Namun bahwa “ia pun merasa berat dan mungkin juga tersiksa melihat saya menderita”, itu baru saya rasakan. Ketika saya menangis, ketika saya terluka dengan peluh bercucuran, bisa jadi saat itu Tuhan saya sedang merasa sakit yang luar biasa, sama seperti ketika hati saya hancur melihat reaksi sang pangeran remaja.

Saya sendiri tidak menyangka efek kisah sang pangeran remaja akan jadi sebesar yang saya alami saat ini. Bagaimana hidup seseorang segitu berpengaruhnya terhadap saya. Sedarah bukan, sepermainan juga bukan. Namun, paling tidak sesi berbincang-bincang yang penuh kedalaman dengannya telah menjalin ikatan cukup kuat antara saya dengannya. Paling tidak itu yang saya rasakan.

Melihat seseorang yang saya beri perhatian penuh jadi menderita, ternyata bukan sesuatu yang menyenangkan. Ada keragu-raguan, ada perasaan bersalah, dan yang pasti ada keinginan untuk terus-menerus untuk meminta maaf. Saya pun membayangkan kaitannya dengan Tuhan saya. Bisa jadi itu juga yang ia rasakan setiap kali harus memberikan cobaan demi mengukir karakter saya sesuai yang ia inginkan. Kalau boleh memilih, mungkin ia ingin menarik kembali semua cobaan tersebut.

Namun, ia tidak lakukan itu. Atas dasar semangat untuk mendidik saya, ia mencoba bertahan menahan semua rasa miris hati itu. Dan sama seperti Tuhan saya yang terus bertahan untuk menahan sakit yang dirasakannya saat melihat saya menderita, saya pun mungkin diminta untuk mampu berdiri tangguh, meskipun rasa saya tercabik-cabik setiap kali mengingat kejadian tersebut.

Karena terkadang yang terbaik, justru yang paling sulit untuk dilakukan. Biarlah terjadi, apa yang memang diciptakan untuk terjadi.

And you! I wish i shouldn’t have to make that decision. But, deeply sorry, i have to do that. I know you’ll be happy after this. You’ll be allright!





cinta tak sempurna

11 09 2009

Minggu kemarin, tidak ada kerjaan, saya iseng berjalan-jalan di rumah facebook. Mulai dari mengintip 1st degree friends saya, sampai iseng nguping di 2nd degree friends saya (kalau gak temennya temen saya yang kece, temen-temen artisnya beberapa temen saya, atau pacarnya temen saya! hihihi). Nah, ketika lagi nyasar ke subyek terakhir tadi, pacarnya temen saya, tiba-tiba saya menemukan postingan menarik yang dikirim oleh pacar dia (temen saya).

Isi postingannya adalah sebuah video singkat, semacam trailler dari film Indonesia yang mengetengahkan mengenai perbedaan agama. Hmm, kebetulan temen saya dan pacarnya itu memang memiliki keyakinan berbeda. Ini beberapa kutipan yang saya ingat dari trailler tersebut.

“Jika Tuhan menciptakan manusia secara berbeda-beda, maka mengapa ia harus disembah dengan cara yang sama pula?”

dan yang terakhir, yang sedikit menohok saya adalah adegan ketika kedua pasang ini sedang berdoa sebelum makan. Mereka bilang gini,

sang perempuan, “Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama”

sang lelaki, “dan Tuhan yang kami sembah dengan berbagai cara, berkatilah makanan ini agar….”.

Kutipan ini membuat saya mengenang beberapa kebiasaan yang sering saya lakukan bersama teman-teman kampus, sekitar 7-9 tahun yang lalu, saat akan melakukan sebuah kegiatan. Biasanya kami akan memulainya dengan doa, mengingat saya kuliah di universitas katolik. Namun, karena peserta berdoa tidak semuanya katolik, maka biasanya si pemimpin doa memulai dengan kalimat ini:

“Teman-teman mari kita bersatu dalam doa, dan ijinkan saya memimpinnya dengan menggunakan ajaran agama ….”.

Dari semua kebiasaan ini, saya kemudian bergumam mengenai indahnya kehidupan yang rukun seperti itu. Dalam koridor sebatas pertemanan, hal tersebut sudah sering terjadi. Jangan dengarkan kaum fanatis yang selalu mempermasalahkan agama. Nyatanya, di beberapa kelompok, banyak orang yang mulai dapat hidup berdampingan dengan agama lain. Beberapa kelompok saya bilang, belum semua kelompok.

Namun, beberapa cerita lain seputar perbedaan agama, yang terjadi di sekitar saya, biasanya muncul dari beberapa teman yang ingin melanjutkan hidupnya ke pernikahan. Seorang teman saya bilang, “Kalau ini memang beneran cinta, kenapa harus gue pisah cuma urusan agama?”.

Ditanya begitu, ya saya cuma bisa diam. Saya sendiri termasuk orang yang ingin menikah dengan tokoh seagama dengan saya. Alasannya? Pertama, tidak dibolehkan oleh Tuhan saya. Kedua, saya termasuk orang yang ‘drama’, sehingga rasanya saya ingin melewatkan setiap hari bersama pasangan saya kelak, termasuk saat saya mengikuti kegiatan agama. Being together with him, in every single thing i do. Ketiga, males aja kalau urusannya jadi ribet.

Sayangnya, terkadang toh kita bisa bertemu dengan cinta yang ‘tidak ideal’, seberapa pun besarnya kita menolak ketidaksempurnaan itu. Saat ini, misalnya, saya sedang jatuh pada seseorang yang tidak tepat. Kalimat ‘tidak ideal’ rasanya kurang pas, because it feels so perfect. Karena itu saya memilih untuk menggunakan frase ‘tidak tepat’.

Secara sadar dan tidak sadar, saya tahu bahwa saya harus berhenti memikirkannya. Namun, terkadang mengontrol kerja otak jauh lebih sulit daripada mengontrol kerja badaniah. Sehingga, yah, cinta yang tidak ideal itu pun masih rutin mondar-mandir di benak saya.

Bisa jadi, itu juga yang terjadi pada mereka yang masih memiliki harapan pada hubungan berbeda keyakinan. Sekuat-kuatnya semangat kita untuk berhenti dari benang kusut tersebut, tapi tidak bisa dipungkiri ada dorongan yang sangat kuat untuk terus bertahan. Apalagi kalau kita yakin mereka adalah sang kecintaan.

Namun, saya sih percaya bahwa pada akhirnya setiap orang akan bertemu dengan cinta sejatinya. Dengan siapa dan selama apapun momen pertemuan itu datang. Mungkin di usia 30-an, 40-an, atau bahkan sedetik menjelang ia menghembuskan nafas terakhir. Idealisme drama saya mengatakan cinta sejati pasti bersatu. Entah bagaimana pun caranya.