tiba-tiba…

16 01 2009

saya kangen sama mereka. huhuhu…





jangan pergi

29 12 2008

Ceritanya saya abis menonton sekuel Madagascar kedua. Well, nggak sah sebenarnya, karena saya tidak menonton film yang perdananya. Beruntung filmnya sangat menghibur dan cerdas, sehingga saya tidak terlalu buntu meski baru kali ini mengenal karakternya.

Masalahnya, bukan saya namanya bila melewatkan sebuah film tanpa berpikir dan menarik hubungannya dengan diri sendiri. Hal-hal sederhana pun bisa dihubungkan dengan masalah yang terjadi di kehidupan saya saat menonton. Terlihat seperti drama queen memang, tapi mau apa lagi? Hahhaa…

Contoh paling gres adalah ketika saya menonton Madagascar tadi. Pada dasarnya film ini memang menyimpan banyak sekali life value yang ingin disinggung si pembuatnya. Jadi banyak sekali quotes yang bisa diambil dari film ini. Tapi kok ya dari antara quotes tersebut, yang menarik perhatian saya justru sebuah kalimat singkat yang diucapkan Alex saat sahabatnya, Marty, marah dan pergi meninggalkannya. Dia bilang dengan suara yang lemah, “Jangan pergi”.

Saya langsung teringat dengan hidup saya yang morat-marit belakangan ini, terutama dalam hubungan persahabatan. Kemarin itu, saya beranikan diri untuk mengungkapkan kemarahan saya pada seorang sahabat. Saya bilang, “i lose hope on bestfriend relationships“. Dia bertanya kenapa, kemudian saya memberi serangkaian alasan, yang bila dirangkum akan menjadi kalimat semacam, “karena gue marah dan kecewa dengan kalian, karena kalian hanya mementingkan diri sendiri, dan karena wujud persahabatan ideal itu tidak pernah gue temui”.

Terlihat adanya emosi kemarahan, ya. Ada kekecewaan juga, ada harapan yang berlebihan, dan ada kecenderungan untuk menyalahkan orang lain juga. Namun ketika saya mendengar ucapan “jangan pergi” tadi, saya jadi sadar kalau inti semua emosi negatif itu berpusat pada satu alasan singkat yang barangkali akan dibunyikan dengan rasa putus asa, seolah berharap mujizat terjadi, “karena gue takut lo pergi, melupakan dan meninggalkan gue”.

Saya seperti terhenyak dan berpikir bila kekecewaan saya belakangan ini mungkin merupakan bentuk kekhawatiran saya akan perpisahan dengan para sahabat. Supaya rasanya tidak terlalu pedih (ketika ditinggal sahabat), lebih baik saya duluan yang menjauh, mungkin kira-kira begitu. Jadi tindakan menarik diri itu dimaksudkan supaya saya bisa melatih diri secara pelan-pelan agar tidak terlalu shock ketika kekhawatiran itu betul-betul terwujud. Jadi mungkin saya tidak betul-betul sedang marah. Justru sebenarnya saya sangat takut dan khawatir sekali.

Lalu pertanyaannya, apakah kekhawatiran itu akan betul-betul terwujud? Nah, ini yang masih saya pikirkan. Beberapa sahabat memang ada yang menghubungi saya belakangan ini, mengucapkan selamat natal sambil menanyakan kabar. Sahabat tempat saya mengutarakan amarah tadi mengatakan bahwa dia akan tetap ada di sekitar saya dan meminta saya untuk tidak putus harapan kepadanya.

Jadi kemungkinan besar memang semua itu hanya kekhawatiran belaka yang tidak terbukti. Namun ego saya kok sepertinya tetap memaksa untuk mengaktifkan mekanisme pertahanan diri. Mungkin agar saya tetap berjaga-jaga ya, bila suatu kali kekhawatiran itu betul-betul terwujud. Jadi saya tidak akan begitu lemah mental bila betul-betul harus berpisah dengan sahabat saya. Ah, jadi sangat mellow sekali.

Well, paling tidak kali ini saya mau mengakui bahwa inti dari semua keresahan ini adalah karena saya takut kehilangan sahabat-sahabat saya. Takut kehilangan satelit hidup saya. Takut kehilangan alasan untuk hidup dan tertawa.

Jadi tolong jangan pergi dulu. Saya tidak akan bersikap begitu ‘freak’ seperti saat ini, bila kalian tidak sangat berarti bagi hidup saya.





got to let you go

24 12 2008
Saya tidak bermaksud menghilangkan mood di malam natal untuk sesuatu yang menyedihkan. Namun sebuah adegan di film Bruce Almighty barusan sangat membangkitkan emosi saya.
Bunyinya begini,

"Please, God. I still love. But I don’t want to love him anymore. I don’t want to be hurt anymore. Please, help me to forget.
Please, help me let him go. Please, help me let him go".

Tampaknya saya akan mengucapkan doa yang kurang lebih sama malam nanti.





to keep and to be kept

6 12 2008

Dalam tugas saya sebagai seorang teman, saya selalu berusaha menjalankan peran sebagai ‘penjaga dan penyimpan’ teman. Sedikit susah dibahasakan ke bahasa Indonesia. Namun untuk kategori bahasa Inggris, mungkin bisa diistilahkan dengan ‘a keeper’.

Sayangnya terkadang terjadi hal-hal ‘gak penting tapi krusial’, yang bikin saya kesal dengan para teman yang sedang saya jaga atau simpan itu. Terkadang saya ingin berteriak, “hey, I am a keeper. But if you don’t want to be kept, I won’t be begging”. Ada kalanya saya juga ingin ‘menampar’ mereka yang kerjanya melulu cerita, cerita, cerita, dan tidak pernah mendengarkan! Entah itu tidak mau mendengarkan pendapat saya, ataupun mendengarkan keluh kesah saya. Seolah hanya dia saja yang punya masalah paling hebat di dunia ini.

Terkadang ingin sekali saya melepaskan atribut profesi baru saya sekarang ini dan bersikap sebagai seorang teman pada umumnya. Yang bisa marah ketika temannya bersikap bodoh dan tidak mau berpikir obyektif, yang bisa kesal ketika temannya hanya muncul ketika sedang punya masalah, dan yang bisa sedih ketika tahu harapan besarnya terhadap sang teman tidak kesampaian. Saya toh cuma manusia biasa yang juga punya emosi. Seberapapun usaha saya untuk menjadi teman ideal, toh saya juga punya batas.

Jadi akhirnya saya belajar untuk mengurangi intensitas berteman yang selama ini selalu saya berikan pol, sepenuh yang saya mampu. Jadi jangan heran bila saya jarang menghubungi atau perhatian seperti dulu. Pun begitu, saya tetap memperhatikan teman-teman saya dari kejauhan. Saya tahu cerita mereka, meski mereka mungkin tidak akan lagi memilih saya sebagai sumber berbagi informasi pertama kali.

Ya, saya menjauh. Bukan untuk menghindar, namun untuk menjaga keseimbangan peran saya dalam berteman. Biar tidak besar harapan, yang bisa membuat saya jatuh kesakitan saat harapan tidak terpenuhi. Biar tidak kecewa saat tidak didengar, yang bisa membuat saya keselek mendadak karena terlalu sering menelan ludah. Dan yang paling penting, biar saya bisa terus menjaga dan menyimpan para teman dan sahabat, meski itu hanya di dalam hati saya saja.

Sedih? Tentu saja. Ada kalanya saya menyesali keputusan saya. Tapi saya sangat sadar dengan pilihan saya. Yang terbaik memang mengurangi harapan, karena persahabatan kental sekalipun memiliki batas.

Ini yang terakhir yang bisa saya lakukan..





one in a million

25 11 2008

barusan saya dapat kabar mengenai kepastian sebuah project. saya akhirnya ikut terlibat, meski sebelumnya diragukan dengan alasan pilihan religi. anehnya, saya baru tahu kalau yang berkeberatan hanyalah seorang individu. individu2 lainnya tidak masalah, secara institusi pun nggak masalah.

saya dan teman yang beragama beda pun hanya tertawa2 saja. kali ini bukan tertawa miris, tapi betulan tertawa.

masih ada ya, orang2 seperti itu di area yang sangat plural ini?





stay still

10 10 2008

Hari kemarin saya merasa senang sekali. Diawali dengan sebuah pesan mengenai tawaran eksistensi yang sebenarnya memang sedang saya rencanakan di bulan ini. Kemudian dilanjutkan dengan tawaran eksistensi lainnya. Selain itu, hari ini pertikaian saya dengan ibu yang sangat sengit sejak minggu kemarin juga mulai melunak. Kami sudah melakukan kontak mata! Hehehe… Dan, oh, jangan lupakan semua rencana pekerjaan yang berhasil dilakukan dengan baik di hari ini. Semuanya selesai, dengan performa yang cukup baik saya tampilkan. Saya jadi diingatkan mengenai betapa cintanya saya dengan dunia yang saya pelajari 2 tahun kemarin. Saya bisa merasakan nyawanya, gairahnya.

Semuanya tampak sangat benar dan di luar ekspektasi saya. Semua keragu-raguan saya mengenai ‘pilihan si Tuhan’ langsung termusnahkan. Saya merasa seolah Tuhan ingin menampar saya dan bilang, “Hey, ini gue! Nggak mungkin gue melakukan kesalahan dan nggak mungkin gue sengaja menganggurkan waktu lo secara sia-sia. Just stay still. Ini gue dan gue tau apa yang gue lakukan”. Damn, tamparannya begitu keras sampai membuat saya terjaga hingga larut. Sebegitu bodohnya saya, sampai meragukan apa yang sudah Tuhan saya pilihkan buat saya.

Hari ini saya diingatkan untuk sabar dan meyakini bahwa segala sesuatu punya giliran waktunya masing-masing. Bila sekarang belum terlihat, mungkin karena saatnya belum tepat. Mungkin saya harus belajar dulu agar nantinya bisa tampil sesuai ‘dresscode’ si empunya pesta. Mungkin saya diharuskan untuk belajar yakin dulu, bahwa Dia nggak mungkin memberikan pilihan yang salah kepada gue.

Dan sambil tersenyum, perlahan saya pun berjalan ke cermin dan melihat bayangan di depan saya. Pada sang bayangan, saya bisikkan kalimat singkat, “Itu dia, mels! Bukan sembarang orang. Orang lain bisa salah pilih, tapi dia nggak! Itu dia. It’s him! Him!”





hidup taktis

29 09 2008

Hari ini saya menyadari bahwa saya sudah tidak muda lagi. Serius. Mungkin gara-gara quote Donna di film Mamma Mia! yang berteriak, “stop growing” kepada teman-teman anaknya. Ya, saya pun seperti itu. Melihat keponakan-keponakan yang dulunya masih kecil dan sekarang beranjak remaja, saya jadi ngeri. Ternyata saya tidak muda lagi. Jiwa boleh jadi masih muda, tapi harus menyadari bahwa ada faktor fisik yang terus berjalan dan tidak bisa ’stay young’.

Saat ini, usia saya sudah 27 tahun. Hampir sebagian besar ‘mimpi wajib’ saya sudah terpenuhi, terutama kuliah sampai S2. Masih ada yang belum terpenuhi, seperti memiliki keluarga (termasuk anak, tentu saja), pekerjaan yang mapan, dan rumah yang memadai. Yah, mengingat itu adalah ‘mimpi wajib’, maka sifatnya memang seperti rutinitas. Dalam arti, sampai kapanpun saya harus tetap berusaha mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.

Namun ada juga ‘mimpi sampingan’ yang sebenarnya juga menyita perhatian saya. Ada keinginan untuk melanjutkan kuliah lagi, tinggal sementara waktu di luar negeri, bisa membeli apartemen untuk orangtua saya tinggal, dan segudang ‘mimpi sampingan’ lainnya. Mungkin karena sifatnya sampingan, maka mimpi jenis ini memang cenderung lebai, alias berlebihan. Tapi coba perhatikan deh, efek kenikmatan yang muncul bila ‘mimpi sampingan’ ini terwujud, sepertinya lebih ‘kena’, ya. Bisa jadi karena ‘mimpi sampingan’ ini memang sifatnya nothing to loose. Kalau terwujud, itu adalah bonus besar. Kalau tidak, yah paling tidak si ‘mimpi wajib’ berhasil diwujudkan.

Tapi saya tidak mau menjadikan ‘mimpi sampingan’ bersifat seadanya seperti itu. Kenapa saya tidak menjadikan derajatnya setara dengan ‘mimpi wajib’? Apalagi saya tahu bahwa ‘mimpi sampingan’ itu akan membawakan kebahagian yang besar bagi saya. Karena itu, ketika saya menyadari usia yang tidak muda lagi tadi, saya terpikir untuk tidak membuang-buang waktu. Kenapa harus menunggu usia berjalan terlalu tua untuk mewujudkan semua mimpi itu? Bila saya bisa hidup lebih terstruktur, mungkin semua mimpi itu akan mungkin terwujud.

Bagi mereka yang mengenal saya, pasti tahu betapa ‘dualitas’nya diri saya. Di satu sisi saya begini, tapi di lain sisi justru begitu. Salah satunya dalam menjalankan kehidupan. Di satu sisi saya sangat ingin semuanya berjalan secara sistematis, namun di lain sisi seringkali saya menganggurkan semua rencana dan menjalankan hidup secara ‘berantakan’. Semaunya saja.

Karena itu kini saya ingin yang pasti-pasti saja. Ingin hidup saya memiliki strategi yang akan saya jalankan secepat mungkin. Saya pun membuat serangkaian rencana, yang kemungkinan puncaknya akan dilaksanakan 2 tahun lagi, ketika usia saya 29 tahun. Bagi saya itu akan menjadi semacam titik tolak, untuk menjadi seseorang yang saya cita-citakan. Seseorang yang puas dengan hidupnya, yang bangga karena tidak hanya dapat memenuhi ‘mimpi wajib’nya saja, namun juga ‘mimpi sampingan’.

Saya tahu, harapan ini terlihat masih sangat mengawang-awang. Saya juga menyadari bahwa kegagalan bisa jadi akan menghadang saya, telak-telakan. Tapi saya tahu hidup saya akan lebih tidak tenang lagi bila kegagalan itu terjadi karena saya tidak melakukan apa-apa. Buka kegagalan itu namanya, namun hanya pepesan kosong.

At least I try. Paling tidak saya tidak hanya menghabiskan waktu saya dengan bermimpi dan berkhayal. Dan paling tidak saya berusaha untuk membuktikan bahwa semua mimpi ini bukan sekadar impian di siang hari bolong. Kalaupun akhirnya ’sebolong’ itu, paling tidak saya melewatinya dengan kepuasan karena telah mencoba.

Jadi, kali ini saya akan lebih taktis. Penuh perencanaan, meski saya tahu pengejewantahannya akan sangat sulit. Tapi, itu tadi, paling tidak saya mencoba.





sigh

25 09 2008

baru saja saya meneteskan tangisan pertama saya di usia 27 tahun.

seperti katanya, saya jatuh lagi.

sigh.





menjadi 27 tahun

24 09 2008

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, entah kenapa kali ini saya malas membuat tulisan reflektif khas ulang tahun. Kali ini saya bahkan belum betul-betul memikirkan tentang formulasi birthday wish saya. Tapi, di ulangtahun saya kali ini, di hari ini, saya merasakan sesuatu yang sangat istimewa. Betul, deh!

Bisa jadi karena ini adalah kali pertama saya merayakan ulangtahun tanpa harus melakukan sebuah kegiatan yang berarti, sementara semua teman saya sedang sibuk bekerja. Akhirnya, yo wis, saya di rumah saja. Hanya sempat membuat satu tulisan super singkat, sudah janji soalnya. Selebihnya, saya sudah hampir mengalahkan penjaga warnet, online seharian.

Tapi justru itu nikmat sekali. Bisa jadi juga karena saya belum pernah betul-betul merasakan liburan, secara fisik maupun pikiran. Karena itu begitu saya membebaskan fisik dan pikiran saya dari berbagai hal njlimet di hari ini, rasanya santai sekali.

Saya jadi punya banyak waktu untuk membalas semua email, sms, maupun komen di wall facebook atau friendster. Saya sempatkan juga online YM yang disambut teman-teman dengan chatting ucapan selamat. Belum lagi yang telfon, bila sebelumnya saya sering buru-buru menjawab, kali ini saya ladeni selama apapun mereka suka. Hmm, kebanyakan sih berhenti karena mereka dipanggil oleh bos masing-masing. Hahaha…

Malamnya, saya, kakak, ibu, dan ayah pergi ke Hongkong Cafe. Ritual khas ulangtahun di keluarga kami: makan-makan di luar rumah. Romantisnya, ketika ingin berangkat, saya mendapat hadiah istimewa dari Tuhan berupa hujan yang turun deras. Wah, Beliau tahu saja kalau saya begitu mencintai hujan. Lebih spesial lagi, saya dapat tambahan voucher makan dari Hongkong Cafe. Sedap, mantap.

Pulangnya mampir dulu di Harvest. Beli kue, untuk dipotong besok pagi. Sekalian ambil lilin, biar Jepan bisa ikutan tiup lilin bareng Tetey Dede (aka saya! hehehe…). Sampai di rumah, kamar terasa nyaman, karena tadi pagi tukang AC datang untuk mereparasi. Lebih senang lagi karena dalam minggu ini niatan saya untuk membeli printer baru tampaknya bisa terwujud. Yipppiieeee…

Ya, saya bahagia sekali hari ini. Terlihatnya simpel sekali memang ulangtahun saya. Tidak ada pesta gemerlap, tapi saya merasa sangat nyaman. Sampai-sampai saya melupakan ketakutan saya mengenai angka 27 keramat (Kurt Cobain, Jim Morisson, dan teman-teman meninggal di usia 27 tahun, mind you!). Tapi, ah, hidup mati di tangan Tuhan. Kapan pun itu, saya tidak punya hak sama sekali untuk tawar-menawar. Iya, tidak?

Ah, sekarang saya mau tidur saja. Secara resmi, besok adalah hari pertama saya di usia 27 tahun. Kebetulan, rutinitas saya juga harus kembali esok hari. Saya sih meyakini akan ada sesuatu yang istimewa di tahun ini. Yah, kita lihat saja. Barangkali keistimewaan itu sudah bisa saya rasakan mulai esok hari! Hahaha…

Tuhan Yesus, terima kasih untuk hari ini, ya. Terima kasih untuk satu tahun lagi dalam riwayat hidupku. Terima kasih untuk keluarga yang indah, teman-teman yang begitu perhatian, semua sms, email, comment, chatting, dan berbagai pesan yang disampaikan lewat doa kepadaMu. Hidup aku, Engkau yang kasih, Tuhan. Karena itu aku tahu bahwa Engkau tidak akan memberikan sesuatu yang sia-sia. Pasti ada maknanya. Pasti ada ceritanya. Lindungi aku di hari-hari esok ya, Tuhan. Love you so…





pait!

12 09 2008

Istilah “ketika sebuah pintu tertutup, akan ada pintu yang terbuka” sudah saya dengar sejak lama. Pertama kali diperdengarkan oleh Smita, yang juga mendapat petuah itu dari ayahnya. Saya sih setuju saja, karena dalam beberapa peristiwa, hal itu selalu terjadi. Tapi bagaimana kalau cerita yang terjadi justru kebalikannya, “ketika sebuah pintu terbuka, akan ada pintu yang tertutup”?

Barusan saya merasakannya. 2 hari yang lalu, saya tersenyum luar biasa lebar, karena berhasil mendapat kesempatan kerja. Tidak besar dan tidak terlalu menjanjikan juga, namun setahap lebih baik dari keadaan yang saya alami sekarang ini.

Naasnya, hari ini saya justru menghadiri sebuah pertemuan yang memutuskan bahwa sebuah proyek yang awalnya direncanakan, akan dibatalkan. Well, tidak murni seperti itu sih, tapi tidak akan seperti yang direncanakan di awal. Yang tadinya akan sementara waktu, berubah menjadi LEBIH SEMENTARA lagi. Hehehe..

Jujur saja, ada perasaan yang tidak terlalu nyaman. Bukan karena saya berharap terlalu banyak. In fact, sedari awal saya sudah bersiap diri bila proyek ini tidak akan berjalan seperti yang dikreasikan. Namun seperti muncul ‘yaaah-effect’. Campuran antara kecewa, sedih, tapi lega juga (karena akhirnya dapat kepastian).

Karena itu sekarang gue bertanya, bila gue bisa mantap meyakini petuah satu-pintu-ditutup-pintu-lain-dibuka itu, apakah gue juga setubuh dengan petuah satu-pintu-dibuka-pintu-lain-ditutup?

Permainan kalimat sederhana seperti itu, ternyata bermakna cukup besar. Dalam pemikiran saya, saat petuah pertama (satu pintu ditutup, pintu lain dibuka), tanggung jawab berada di tangan Tuhan. Sebagai tempat berharap, kita begitu meyakini bahwa Beliau pasti akan mengeluarkan kita dari masalah. “Bila sekarang mendapat kesulitan, pasti karena ia sedang mempersiapkan kita untuk hal terbaik,” begitu istilahnya.

Tapi dengan petuah kedua (satu pintu dibuka, pintu lain ditutup), tanggung jawab ada di tangan manusia. Semacam ‘todongan’ untuk membuktikan bahwa kita menerima hidup apa adanya, sepaket antara kegembiraan dan kesedihan. Tingkat ketangguhan kita dituntut, sportivitas dipertanyakan, rasionalitas dipancing. Idealnya, kita harus bisa menerima pintu yang tertutup itu, toh sudah ada pintu yang dibukakan, toh?

Masalahnya, manusia terkadang rakus, ingin semuanya diambil. Masalahnya lagi, manusia sering lupa untuk bersyukur. Padahal tidak bisa mendapatkan sesuatu, toh sebenarnya bukan berarti tidak mendapat apa-apa. Atau tidak bisa mendapat proyek ini, toh saya sebenarnya sudah berhasil mendapat kesempatan kerja yang lain.

Kalau begitu, pertanyaannya sekarang adalah apakah saya sudah mampu mengikhlaskan diri dan bersyukur atas kesempatan kerja yang sebenarnya telah saya pegang di tangan?

Harusnya bisa, tapi detik ini masih sulit. Mudah-mudahan beberapa jam lagi sudah bisa lebih legawa.