Lihat postingan sebelumnya, sedikit kaget. Betapa sering saya mengucapkan selamat tinggal dan keinginan untuk melupakan dan meninggalkannya. Bagaimana kenyataannya??
Nol besar!
Tidak akan pernah bisa saya lupakan dan tidak pernah bisa ditinggalkan. Ada daya magnet besar yang membuat saya selalu merindunya. Saya tahu melupakan seseorang perlu pengorbanan, saya juga sudah berulang kali ‘terpaksa’ melupakan kecintaan saya yang sebelumnya. Namun, yang satu ini beda. Sulit sekali.
Di saat saya berhasil melupakannya di saat dia sedang mengacuhkan, tiba-tiba ia mendekat dan kembali selayaknya sosok yang sebelumnya saya kenal. Dan, demi Tuhan, saya rindu sekali dirinya yang dulu!!! Bagaimana saya tidak langsung luluh ketika ia berubah.
Ia idola saya. Ia abang saya. Seseorang yang selalu saya kagumi dan banggakan. Figur kakak lelaki yang selama ini saya cari.
Saya tidak tahu bagaimana cerita akhirnya. Mungkin saya akan selalu menuliskan cerita tentang usaha melupakannya, entah apakah akan pernah berhasil, saya tidak tahu.
Yang saya tahu, saya cinta dia. Selama seperempat abad saya hidup, akhirnya saya bisa merasakan cinta sebenarnya.
Cinta yang ‘genuine’, meski yang ini tampaknya tidak akan dan mustahil pernah berbalas.




kata mereka