Gimana akhirnya?

16 07 2011

Lihat postingan sebelumnya, sedikit kaget. Betapa sering saya mengucapkan selamat tinggal dan keinginan untuk melupakan dan meninggalkannya. Bagaimana kenyataannya??

Nol besar!

Tidak akan pernah bisa saya lupakan dan tidak pernah bisa ditinggalkan. Ada daya magnet besar yang membuat saya selalu merindunya. Saya tahu melupakan seseorang perlu pengorbanan, saya juga sudah berulang kali ‘terpaksa’ melupakan kecintaan saya yang sebelumnya. Namun, yang satu ini beda. Sulit sekali.

Di saat saya berhasil melupakannya di saat dia sedang mengacuhkan, tiba-tiba ia mendekat dan kembali selayaknya sosok yang sebelumnya saya kenal. Dan, demi Tuhan, saya rindu sekali dirinya yang dulu!!! Bagaimana saya tidak langsung luluh ketika ia berubah.

Ia idola saya. Ia abang saya. Seseorang yang selalu saya kagumi dan banggakan. Figur kakak lelaki yang selama ini saya cari.

Saya tidak tahu bagaimana cerita akhirnya. Mungkin saya akan selalu menuliskan cerita tentang usaha melupakannya, entah apakah akan pernah berhasil, saya tidak tahu.

Yang saya tahu, saya cinta dia. Selama seperempat abad saya hidup, akhirnya saya bisa merasakan cinta sebenarnya.

Cinta yang ‘genuine’, meski yang ini tampaknya tidak akan dan mustahil pernah berbalas.





I. Love. You.

21 05 2011

Hampir seminggu ini ia mengabaikan saya.

Mengacuhkan, meski saya sudah mencari perhatian.

Sedih.

Yang paling menyakitkan adalah saya merasa kehilangan seorang kakak lelaki. Yang biasa selalu merespon, memberi perhatian, dan menghibur. Namun biarlah, mungkin memang harus begitu agar saya bisa melupakannya.

Saya rindu kamu.

Saya cinta kamu.

Tapi saya tahu, saya tidak akan pernah memilikimu.

Dan mungkin saya harus belajar untuk kehilanganmu.

Sebagai pujaan, maupun sahabat.





move on

11 10 2010

Barusan saya berdoa agar ia mendapat pasangan yang terbaik.

Berat sekali rasanya saat mengucapkannya.

Tapi mungkin memang itu yang harus dilakukan.

Saya pamit ya. Mudah-mudahan bisa bertahan untuk tidak kembali.





rindu

2 10 2010

Saya mulai merasa dia menjauh.
Berubah dan tidak sama seperti dulu.
Sepertinya Tuhan mulai dengar doa saya,
Rasanya rindu luar biasa.
Rindu dirinya yang dulu.
Namun saya bisa apa?
Memang ini jalan terbaik.





menyerah

20 09 2010

Selamat tinggal.

Kali ini,  sesaat saja dalam hidup saya, saya ingin mengucapkan kalimat ini dengan penuh keberanian.

Selamat tinggal.

Penuh harap saya panjatkan agar ini bukanlah sekadar di ucapan saja.

Saya terima akhir ceritanya. Memang tak mungkin denganmu.

Selama tinggal, kecintaan.





19 09 2010

Tentang arti mencintai, saya tahu.
Tentang arti dicintai, saya juga tahu.
Tentang arti mencintai, tapi tidak dicintai, sayangnya saya tahu juga.
Tentang arti dicintai tapi tidak mencintai, untungnya saya dibolehkan untuk tahu.

Yang saya tidak tahu, arti mencintai dan dicintai.

Sungguh mati, saya ingin tau rasanya.





bukan siapa-siapa

19 09 2010

Karena bagi dia kamu bukan siapa-siapa, mels.

Jika kamu pergi meninggalkan dunia, paling baginya kesedihan itu hanya ada dalam satu-dua hari.

Sebulan kemudian, kamu hanya cerita tentang seorang teman biasa baginya.

Cuma itu.

Bangunlah, jiwaku. Camkan itu di benakmu.

Kamu bukan siapa-siapa baginya.

Kamu hanya teman main.

Itu saja.

Sadarlah!








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.